Sukses

Health

3 Gejala Khas Campak Saat Dewasa yang Sering Terlewat

ringkasan

  • Campak pada dewasa ditandai demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, diikuti bintik Koplik di mulut dan ruam khas yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.
  • Orang dewasa yang terinfeksi campak cenderung mengalami gejala lebih parah dan memiliki risiko komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, dan masalah hati.
  • Meskipun sering dianggap penyakit anak, campak dapat menyerang semua usia, dengan 7% kasus terjadi pada usia di atas 15 tahun, dan membutuhkan kewaspadaan dini.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, campak seringkali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang anak-anak. Namun, faktanya orang dewasa juga bisa terinfeksi virus Morbillivirus penyebab campak ini. Penyakit yang sangat menular melalui percikan air liur atau droplet ini dapat menimbulkan gejala yang bervariasi.

Gejala campak pada orang dewasa umumnya muncul 7 hingga 14 hari setelah terpapar virus, diawali dengan fase prodromal yang mirip flu. Mengenali tanda-tanda awal ini sangat penting untuk penanganan yang tepat dan mencegah penularan lebih lanjut.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai gejala campak pada dewasa, mulai dari fase awal, bintik khas di mulut, hingga ruam yang muncul, serta mengapa campak pada dewasa seringkali lebih serius.

Gejala Awal Campak pada Dewasa yang Mirip Flu

Fase awal atau prodromal campak pada orang dewasa seringkali disalahartikan sebagai flu biasa karena gejalanya yang serupa. Fase ini biasanya berlangsung sekitar 2 hingga 4 hari, namun bisa juga berkisar antara 1 hingga 7 hari. Penting untuk mewaspadai kombinasi gejala ini sebagai indikasi awal campak.

Salah satu gejala pertama yang muncul adalah demam tinggi, yang seringkali mencapai 38 derajat Celsius atau lebih, bahkan bisa melonjak hingga 40.6 derajat Celsius (105 derajat Fahrenheit). Demam ini dapat meningkat secara bertahap dan menjadi tanda peringatan utama. Selain demam, batuk kering juga merupakan gejala umum yang menyertai, seringkali terasa mengganggu.

Hidung berair atau tersumbat, yang dikenal sebagai coryza, juga khas pada fase awal campak. Mata merah dan berair (konjungtivitis) juga sering terjadi, bahkan bisa disertai sensitivitas terhadap cahaya atau fotofobia. Rasa lelah, nyeri tubuh, dan malaise umum juga sering dilaporkan, membuat penderita merasa tidak enak badan. Beberapa orang dewasa bahkan mungkin mengalami kehilangan nafsu makan selama periode ini.

Mengenali Bintik Koplik dan Ruam Khas Campak

Setelah gejala awal, campak memiliki dua tanda khas yang sangat membantu dalam diagnosis: bintik Koplik dan ruam kulit. Mengenali kedua tanda ini sangat krusial untuk membedakan campak dari penyakit lain.

Sekitar 2 hingga 3 hari setelah gejala awal dimulai, bintik-bintik putih kecil yang disebut bintik Koplik dapat muncul di dalam mulut. Bintik ini biasanya terletak di pipi bagian dalam, berlawanan dengan gigi geraham. Bintik Koplik digambarkan sebagai bintik putih keabu-abuan kecil atau “butiran pasir” dengan dasar merah. Meskipun merupakan tanda patognomonik (khas) untuk campak, bintik Koplik hanya ada untuk waktu yang singkat dan mungkin tidak selalu terlihat.

Ruam campak biasanya muncul 3 hingga 5 hari setelah gejala awal, atau sekitar 14 hari setelah terpapar virus. Ruam ini awalnya berupa bintik-bintik merah datar yang muncul di wajah, seringkali di garis rambut dan di belakang telinga. Pada kulit yang lebih gelap, ruam mungkin tampak ungu atau lebih gelap, atau mungkin sulit terlihat. Ruam kemudian menyebar ke bawah, meliputi leher, dada, punggung, lengan, dan kaki. Bintik-bintik ini dapat menyatu saat menyebar dari kepala ke seluruh tubuh, terdiri dari bintik datar besar dan benjolan kecil yang terangkat, dan umumnya tidak terlalu gatal. Ruam ini akan bertahan sekitar 4 hingga 7 hari dan memudar sesuai urutan kemunculannya.

Mengapa Campak Lebih Serius pada Dewasa?

Meskipun sering dikaitkan dengan anak-anak, campak pada orang dewasa dapat menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar. Orang dewasa di atas 20 tahun cenderung memiliki gejala yang lebih parah dan lebih mungkin memerlukan rawat inap dibandingkan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa campak bukanlah penyakit sepele bagi kelompok usia ini.

Orang dewasa juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat campak. Komplikasi ini meliputi pneumonia (infeksi paru-paru), infeksi telinga, ensefalitis (pembengkakan otak), dan hepatitis atau masalah hati. Bahkan, ensefalitis menjadi penyebab kematian akibat campak pada orang dewasa. Kondisi ini dapat menyebabkan radang otak, kejang, kelumpuhan, hingga penurunan fungsi kognitif.

Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2025 menunjukkan adanya 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium di Indonesia. Meskipun risiko keparahan lebih besar pada balita, angka kejadian campak pada usia di atas 15 tahun tercatat sekitar 7% dari total kasus. Penting bagi Sahabat Fimela untuk memahami bahwa kekebalan alami akan terbentuk jika seseorang pernah mengidap campak sebelumnya. Namun, bagi yang belum pernah terkena atau belum divaksinasi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading