Sukses

Health

8 Tanda Kamu Mengalami Decision Fatigue, Bisa Mengganggu Kemampuan Berpikir

ringkasan

  • Decision fatigue adalah kelelahan mental akibat terlalu banyak membuat keputusan, yang dapat menurunkan kualitas pilihan yang diambil.
  • Tanda-tandanya meliputi perasaan kewalahan, impulsivitas, kesulitan fokus, penundaan keputusan, perubahan emosi, hingga gejala fisik seperti sakit kepala.
  • Jika gejala decision fatigue berlanjut selama beberapa minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan untuk mencari bantuan profesional.

Fimela.com, Jakarta - Setiap hari, seseorang dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari hal sederhana seperti menentukan menu sarapan hingga keputusan besar terkait pekerjaan atau keuangan. Tanpa disadari, terlalu banyak mengambil keputusan dalam satu hari dapat menguras energi mental.

Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue, yaitu fenomena ketika kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan menurun setelah membuat banyak keputusan sepanjang hari. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih mudah lelah, sulit berpikir jernih, hingga mengambil keputusan yang kurang tepat.

Lantas, bagaimana cara mengetahui tanda kamu mengalami decision fatigue? Berikut informasi lengkapnya yang telah dilansir Fimela.com dari kanal Cleveland Clinic Health Essentials, Rabu (5/8).

Apa Itu Decision Fatigue?

Dalam artikel yang dimuat Cleveland Clinic Health Essentials, psikoterapis terdaftar Natacha Duke, RP, menjelaskan bahwa decision fatigue merupakan sebuah fenomena, bukan kondisi medis yang dapat didiagnosis. Fenomena ini terjadi ketika semakin banyak keputusan yang dibuat seseorang sepanjang hari, semakin besar pula energi fisik, mental, dan emosional yang terkuras. 

Saat mengalami decision fatigue, kemampuan fungsi eksekutif otak (executive functioning) ikut menurun. Fungsi ini berperan dalam mengatur perhatian, merencanakan tindakan, mengendalikan impuls, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan secara rasional. Penurunan fungsi tersebut dapat menimbulkan berbagai konsekuensi, termasuk menurunnya kemampuan dalam membuat pertimbangan atau penilaian yang tepat.

Perlu dipahami bahwa decision fatigue umumnya bersifat akut atau sementara. Jika gejala-gejala berikut muncul hampir setiap hari dalam jangka panjang, kemungkinan terdapat kondisi lain yang lebih kronis sehingga sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Mengapa Decision Fatigue Bisa Terjadi?

Fenomena ini bisa dialami oleh siapa saja, tetapi risiko mengalaminya akan jauh lebih tinggi ketika kamu berada dalam situasi berikut:

  • Mengambil terlalu banyak keputusan setiap hari: Baik karena tuntutan pekerjaan maupun peran harian lainnya.
  • Keputusan berdampak pada orang lain: Pilihan yang kamu buat memengaruhi pasangan, anak, karyawan, atau orang di sekitar kamu.
  • Sedang menghadapi situasi hidup yang sulit: Menentukan hal kecil (seperti memilih bunga) bisa terasa sangat mustahil jika dilakukan saat sedang merencanakan pemakaman orang terkasih.
  • Dihadapkan pada ketidakpastian: Kurangnya informasi membuat kamu tidak tahu pasti apa konsekuensi dari pilihan kamu (seperti saat awal pandemi COVID-19).
  • Memiliki sifat perfeksionis: Berpikir terlalu dalam untuk membuat segala hal menjadi sempurna akan sangat melelahkan otak.

Tanda Kamu Mengalami Decision Fatigue

1. Sering Menunda atau Menghindari Membuat Keputusan

Salah satu respons yang paling umum terhadap decision fatigue adalah menunda atau menghindari pengambilan keputusan. Misalnya, kamu lupa membuat janji dengan dokter hewan sehingga tidak perlu memutuskan apakah akan melanjutkan operasi yang biayanya mahal.

Tanpa disadari, kamu mungkin juga sering menunda berbagai keputusan penting atau menghindari orang maupun situasi tertentu agar tidak perlu membuat pilihan yang terasa berat.

2. Menjadi Lebih Impulsif

Jika kamu telah mengambil banyak keputusan yang rumit sepanjang hari, kamu mungkin menjadi kurang berhati-hati saat membuat keputusan lainnya.

Misalnya, tiba-tiba mampir ke gerai drive-thru yang biasanya dilewati, menghabiskan terlalu banyak uang saat berbelanja online, mengabaikan bias kognitif yang sebenarnya sudah jelas, atau menghubungi mantan pasangan meskipun tahu itu bukan keputusan yang bijaksana. Sikap impulsif dapat muncul dalam berbagai bentuk dan menimbulkan beragam konsekuensi.

3. Merasa Sangat Lelah

Decision fatigue dapat menguras energi secara fisik, mental, maupun emosional. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seseorang yang mengalaminya merasa sangat ingin tidur siang atau bahkan menangis untuk meluapkan kelelahan yang dirasakan. 

4. Mengalami Brain Fog

Apakah kamu tiba-tiba kesulitan menyelesaikan kalimat saat berbicara? Apakah alur pikiran kamu sering terputus? Atau kamu menjadi lebih mudah lupa nama seseorang maupun mudah terdistraksi saat orang lain berbicara kepada kamu?

Jika iya, kondisi tersebut bisa jadi merupakan brain fog yang dipicu oleh decision fatigue.

5. Mudah Tersinggung

Apakah kamu baru saja membentak sahabat hanya karena ia bertanya ke mana ingin makan siang besok? Reaksi yang tampak berlebihan terhadap hal-hal kecil dapat menjadi salah satu tanda decision fatigue.

6. Merasa Kewalahan

Apakah kamu mulai merasa seolah-olah tidak ada lagi ruang di kepala maupun jadwal untuk menangani semua hal yang sedang dihadapi?

Merasa kewalahan memang merupakan masalah tersendiri, tetapi menurut Cleveland Clinic Health Essentials, kondisi ini juga dapat menjadi salah satu tanda decision fatigue.

7.  Terus Menyesali atau Tidak Puas dengan Keputusan yang Sudah Dibuat 

kamu mungkin sudah mengambil suatu keputusan, tetapi masih terus memikirkannya selama berjam-jam dan mempertanyakan apakah keputusan tersebut sudah tepat.

Rasa penyesalan atau ketidakpuasan yang terus muncul setelah mengambil keputusan dapat menjadi salah satu tanda decision fatigue.

8.  Mengalami Ketidaknyamanan Fisik 

Tekanan saat harus membuat keputusan yang sulit dapat memicu berbagai keluhan fisik, seperti sakit kepala karena tegang, kedutan pada mata, mual, hingga gangguan pada perut.

Cara Mencegah dan Mengatasi Decision Fatigue

Kita tidak selalu bisa mengendalikan situasi pelik yang datang, tetapi kita bisa membangun langkah perlindungan harian berikut untuk mengatasinya:

  • Otomatiskan hal-hal kecil: Tokoh seperti Steve Jobs atau Barack Obama sengaja memakai baju yang itu-itu saja agar mengurangi beban mengambil keputusan harian. Otomatiskan pilihan sederhana (seperti menu makan atau rute jalan) agar standar kesempurnaan otak tidak terkuras.
  • Belajar mendelegasikan tugas: Jangan menanggung semua keputusan sendirian. Izinkan pasangan memilih menu katering, atau biarkan rekan kerja yang memutuskan hal-hal teknis kecil.
  • Prioritaskan tidur: Kebanyakan orang cenderung membuat keputusan yang lebih baik pada awal hari. Tidur yang cukup membantu mewujudkan hal tersebut. Sebaliknya, kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sulit mengatur emosi dan mengendalikan impuls. 
  • Rutin berolahraga: Lakukan olahraga intensitas sedang, misalnya berjalan kaki selama sekitar 30 menit. Bahkan satu sesi olahraga intensitas sedang dapat membantu meningkatkan fungsi eksekutif otak.
  • Kelola stres dan lakukan self-care: Melakukan perawatan diri (self-care) bukan hal yang egois. Hal ini membantu kamu tetap tenang dan lebih percaya diri saat dihadapkan pada pilihan sulit.
  • Jadwalkan downtime (waktu santai): Biarkan otak kamu sesekali berada dalam mode offline tanpa berpikir. kamu bisa menonton hiburan ringan saat istirahat siang, bermeditasi 20 menit, atau berjalan santai tanpa menganalisis apa pun.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Decision fatigue umumnya akan membaik setelah tubuh dan pikiran mendapat waktu untuk beristirahat, misalnya setelah tidur malam yang cukup. Namun, jika gejalanya muncul hampir setiap hari atau berlangsung terus-menerus, sebaiknya konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Menurut Cleveland Clinic Health Essentials, decision fatigue juga dapat menjadi salah satu gejala dari kondisi seperti kecemasan (anxiety), depresi, maupun burnout.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tanda Kamu Mengalami Decision Fatigue

Apakah decision fatigue merupakan gangguan kesehatan mental?

Tidak. Menurut Cleveland Clinic Health Essentials, decision fatigue adalah sebuah fenomena, bukan kondisi medis atau gangguan kesehatan mental yang dapat didiagnosis. Kondisi ini terjadi ketika energi fisik, mental, dan emosional terkuras akibat terlalu banyak membuat keputusan dalam satu hari.

Siapa yang paling berisiko mengalami decision fatigue?

Siapa saja dapat mengalaminya, terutama orang yang harus membuat banyak keputusan setiap hari, mengambil keputusan yang berdampak pada orang lain, menghadapi situasi penuh ketidakpastian, sedang mengalami peristiwa hidup yang berat, atau memiliki sifat perfeksionis.

Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional?

Jika decision fatigue tidak membaik setelah beristirahat, muncul hampir setiap hari, atau berlangsung terus-menerus, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Decision fatigue dapat menjadi salah satu gejala dari kondisi seperti kecemasan (anxiety), depresi, maupun burnout.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading