Sukses

Info

Transformasi Aplikasi PeduliLindungi Setelah Pandemi COVID-19

Fimela.com, Jakarta PeduliLindungi merupakan aplikasi yang kita gunakan selama masa pandemi COVID-19, aplikasi ini ikut berpartisipasi dalam menangani pandemi, seperti menyimpan status vaksinasi COVID-19 sampai tes COVID-19. Namun, setelah pandemi COVID-19 berakhir akan dijadikan seperti apa aplikasi PeduliLindungi.

Dilansir dari liputan6.com, Selasa (13/9/2022), Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Setiaji menegaskan bahwa aplikasi PeduliLindungi akan menjadi aplikasi layanan kesehatan masyarakat (citizen health app) setelah pandemi COVID-19.

Setiaji menambahkan dengan penggunanya yang sudah lebih dari 100 juta, PeduliLindungi akan dikembangkan dengan menambah fitur lainnya. Selain itu, tujuan utama dari pengembangan ini adalah sudah tersedianya ekosistem dan juga database yang juga sudah besar.

 

Penurunan Penggunaan Harian

Diharapkan masyarakat tetap menggunakan PeduliLindungi, bukan hanya untuk COVID-19, tetapi bisa digunakan untuk layanan kesehatan lainnya. Kemudian bisa digunakan juga untuk menangani apabila terjadi pandemi berikutnya.

Setiaji juga membantah mengenai adanya kabar bahwa data publik di aplikasi PeduliLindungi tidak hilang atau bocor, meski penggunaan sehari-harinya menurun. Dengan jumlah kasus COVID-19 yang tinggi, penggunaan aplikasi bisa mencapai 8 juta per hari. Situasi COVID -19 di tanah air saat ini semakin terkendali meskipun masih terdapat kenaikan kasus tetapi penggunaan PeduliLindungi antara 2-3 juta per hari (60 juta per bulan).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan sangat menyayangkan 60 juta data pengguna pada aplikasi PeduliLindungi tersebut hilang setelah kasus COVID-19 mengalami penurunan. Padahal PeduliLindungi merupakan bentuk konsolidasi data yang baik.

Turut Diperkenalkan ke Dunia

Tim Komunikasi Pusdatin DTO Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aulia Rifqiandono mengungkapkan aplikasi layanan kesehatan masyarakat (citizen health app) yang akan dikembangkan dari aplikasi PeduliLindungi turut diperkenalkan ke dunia melalui dua event global.

Dua event global ini, antara lain Pertemuan Keempat Kelompok Ekonomi Digital (4th Digital Economy Working Group/DEWG Meeting) dan Digital Economy Ministers Meeting (DEMM) G20. DEWG G20 diselenggarakan pada 29-30 Agustus 2022 dan DEMM G20 diselenggarakan 1 September 2022. Kedua acara tersebut, bertempat di Hotel Mulia, Nusa Dua, Badung, Bali.

Diharapkan DEWG dan DEMM dapat membuat aplikasi PeduliLindungi dikenal dunia. Secara khusus, seluruh delegasi yang menghadiri acara G20 di Indonesia, termasuk Konferensi Tingkat Tinggi G20 (KTT) pada November 2022, wajib mengunduh dan menggunakan PeduliLindungi.

Untuk mendukung sebagai aplikasi layanan kesehatan masyarakat, Aulia mengatakan PeduliLindungi juga akan menambahkan fitur baru, tergantung persetujuan, termasuk resume kesehatan dengan riwayat vaksinasi nasional dan internasional. Memudahkan orang asing (WNA) untuk menggunakannya.  PeduliLindungi yang akan bertransformasi menjadi aplikasi layanan kesehatan masyarakat (citizen health app) akan dirancang untuk mempersiapkan potensi wabah pandemi di masa depan selain COVID-19.

Akan Hadirkan Dalam 14 Bahasa

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kehadiran PeduliLindungi dalam 14 bahasa merupakan komitmen Indonesia untuk memastikan tamu Kepresidenan G20 mendapatkan pelayanan medis dengan kualitas terbaik.

Dante menambahkan saat ini PeduliLindungi sudah tersedia dalam sembilan bahasa dan akan ditambah lagi lima bahasa sehingga bisa dilakukan di masing-masing negara. Sembilan bahasa tersebut adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Cina, bahasa Prancis, bahasa Jepang, bahasa Rusia, bahasa Arab, bahasa Korea, dan bahasa Spanyol. Adapun 5 bahasa yang sedang diproses adalah bahasa Portugis, bahasa Jerman, bahasa Italia, dan bahasa Turki.

Kementerian Kesehatan juga mempersiapkan banyak hal untuk KTT G20. Dimulai dengan standar protokol kesehatan, penyediaan layanan kesehatan, dan akses komunikasi delegasi terhadap protokol kesehatan dan layanan kesehatan.

 

*Penulis: Sri Widyastuti

#Women For Women

Loading