Sukses

Info

Pemimpin Dunia Harus Kompak Ketika Mengatakan Pandemi COVID-19 Telah Berakhir

Fimela.com, Jakarta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan organisasi yang berwewenang untuk melakukan pencabutan status `pandemi COVID-19', tetapi para pemimpin dunia harus kompak untuk menyatakan pandemi berakhir. Hal ini dikarenakan pandemi yang bersifat global dan bukan hanya satu negara yang dapat mendeklarasi bebas pandemi.

Dilansir dari liputan6.com, Sabtu (17/9/2022), kekompakan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin. Menilik Indonesia, diharapkan Menkes kondisi pandemi Tanah Air semakin membaik meski ada penambahan kasus baru setiap harinya.

Budi Gunadi menerangkan pandemi ini karena sifatnya dunia, jadi memang harus kompak seluruh pemimpin dunia bilang selesai. Posisi Indonesia sekarang relatif lebih baik. Mudah-mudahan kita terus di kelompok yang lebih baik.

Berdasarkan data Laporan COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 12 September 2022, situasi COVID-19 di Indonesia semakin menurun. Penurunan jumlah kasus selama dua minggu terakhir telah didorong oleh banyak aspek, termasuk:

  • Kasus positif yang dikonfirmasi turun dari 4.331 menjadi 2.780
  • Kasus aktif berkurang dari 47.180 menjadi 35.758
  • Jumlah pasien yang dirawat menurun dari 4.116 menjadi 3.431
  • Tingkat positif turun dari 10,62% menjadi 9,47%

Indonesia juga terus meningkatkan kapasitas deteksi varian virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Pada 11 September 2022, jumlah sampel genom sekuensing yang diperiksa mencapai 12.024 sampel. Jumlah ini dihitung dari 2 Januari 2022 hingga saat ini.

Untuk jenis varian virus Corona di Indonesia, BA.5 menduduki peringkat teratas dengan jumlah 7.711 sampel yang diperiksa, BA.1.13.1 dengan 3.562 sampel, BA.1.1 dengan 2.081 sampel, BA.2 dengan 1.424 sampel, serta BA.2.3 dengan 1.274 sampel.

Isyarat Akhir Pandemi COVID-19

Pekan lalu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa jumlah kematian mingguan akibat COVID-19 adalah yang terendah sejak Maret 2020. WHO juga sudah mengisyaratkan akhir pandemi COVID-19 sudah dekat.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat media briefing mengatakan masih belum berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi. Kita belum sampai di sana, tapi akhir pandemi sudah di depan mata. Seorang pelari maraton tidak berhenti ketika garis finish sudah terlihat.

Merujuk pada pernyataan Tedros, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjawab bahwa masyarakat Indonesia harus waspada untuk menghindari gelombang COVID-19 yang disebabkan oleh varian virus corona yang baru muncul.

"Indonesia sekarang relatif terkendali karena dengan adanya varian BA.4 dan BA.5 yang banyak terjadi gelombang baru di dunia, kita tidak (melonjak). Kita harus siap-siap, berhati-hati, jangan sampai nanti kalo ada gelombang lagi, kita kena," pungkasnya.

Ringkasan Kebijakan Singkat

Pada 14 September 2022, WHO juga merilis enam ringkasan kebijakan singkat yang menguraikan tindakan utama yang harus diambil semua pemerintah sekarang untuk mengakhiri perang melawan COVID-19.

Ringkasan kebijakan ini merupakan seruan mendesak kepada pemerintah semua negara untuk mematuhi pedoman dan memperkuat kendali mereka atas COVID-19 dan patogen masa depan yang dapat menjadi pandemi.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan "Ini adalah ringkasan, berdasarkan bukti dan pengalaman 32 bulan terakhir (COVID-19 melanda), tentang apa yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa, melindungi sistem kesehatan, dan menghindari gangguan sosial dan ekonomi."

6 Ringkasan Kebijakan WHO

Berikut adalah ringkasan kebijakan WHO yang dirujuk oleh Tedros

1. WHO mendesak semua negara untuk berinvestasi dalam memvaksinasi 100% kelompok yang paling rentan, termasuk petugas kesehatan dan orang tua, sebagai prioritas tertinggi menuju cakupan vaksin 70 persen (dari populasi penduduk).

2. Melanjutkan pengujian dan pengurutan SARS-CoV-2, dan mengintegrasikan layanan pemantauan dan pengujian dengan layanan untuk penyakit pernapasan lainnya, termasuk Influenza.

3. Pastikan memiliki sistem untuk menyediakan perawatan pasien yang memadai dan mengintegrasikan perawatan untuk COVID-19 ke dalam sistem perawatan kesehatan primer.

4. Persiapkan upaya bila terjadi lonjakan kasus dan pastikan memiliki persediaan, peralatan, dan petugas kesehatan yang akan dibutuhkan.

5. Tetap menjaga kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk melindungi petugas kesehatan dan pasien non-COVID di fasilitas kesehatan.

6. Mengkomunikasikan dengan jelas kepada masyarakat perubahan apa saja yang telah dilakukan terhadap kebijakan COVID-19 dan alasannya.

Tedros Adhanom Ghebreyesus menerangkan agar melatih petugas kesehatan untuk mengidentifikasi dan mengatasi informasi yang salah, dan mengembangkan informasi kesehatan dalam format digital. Tedros menambahkan sejak malam tahun baru 2019, dan setiap hari sejak itu, WHO telah bekerja tanpa henti untuk memperingatkan dunia, dan membantu mereka untuk tetap aman, menyelamatkan nyawa, dan menjaga masyarakat tetap berjalan.

 

*Penulis: Sri Widyastuti

#Women For Women

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading