Sukses

Lifestyle

Eksklusif Raja Sapta Oktohari, Tak Mengenal Kata Gagal

Fimela.com, Jakarta “Saya tidak pernah gagal karena menurut saya manusia yang gagal adalah mereka yang berhenti berusaha. Dan saya tidak pernah berhenti berusaha,” itulah sebuah kalimat yang terus tertanam dipikiran Raja Sapta Oktohari. Saat ia tengah merasa terjatuh, maka kalimat tersebut akan terus ia ulang-ulang hingga ia kembali tersadar bahwa kegagalan adalah sebuah proses atau jalan hidup yang memang harus dilewati.

“Hidup itu pastinya maju, kita nggak bisa mengulang waktu, jadi yang pasti adalah jalani saja setiap prosesnya. Entah itu saat kita terjatuh ataupun berhasil,” jelas pria yang akrab disapa Okto tersebut. Bukan berarti ia tak pernah terjatuh. Ya, Okto lebih suka menyebut kegagalan itu dengan “terjatuh”, karena artinya saat terjatuh semua manusia pasti akan langsung refleks untuk bangkit. Ia tak ingin kegagalan merusak semua cita-cita ataupun rencana yang sudah dibuat.

Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Itulah sebuah prinsip hidup yang selalu dipegang oleh Raja Sapta Oktohari, seorang pengusaha muda yang sempat menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014. Ditemui Bintang.com di restoran miliknya, Scenic, Jakarta Pusat, Okto membagikan sebuah kabar membahagiakan, sekaligus membanggakan, tidak hanya untuk dirinya yang kini tercatat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), tetapi juga untuk Indonesia.

Okto terpilih sebagai anggota Management Committee Konfederasi Balap Sepeda Asia, ACC, dalam kongres yang diadakan di Bahrain pada awal Maret lalu. “Ini adalah sebuah kehormatan besar untuk saya pribadi dan juga untuk Indonesia karena artinya Indonesia dipercaya oleh negara-negara lain. Ini menjadi satu titik tolak lagi untuk PB ISSI agar bisa terus meningkatkan prestasi atlet balap sepeda Indonesia dan juga untuk memperbaiki kinerja organisasi PB ISSI,” ujar Okto.

Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Selain tak mengenal kata gagal, Pria kelahiran 19 Oktober 1975 ini sepertinya juga tak pernah mengenal kata lelah. Sejumlah predikat melekat pada Okto mulai dari pengusaha muda, pemotor, menahkodai grup usaha OSO, dan juga kini aktif dalam dunia organisasi. Bagaimanakah Raja Sapta Oktohari membagi waktunya dan bagaimana ia bisa dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Indonesia? Simak obrolan Bintang.com bersama pria yang memang dari sejak kecil sudah cinta dengan dunia sepeda ini.

Bekerja Sesuai Passion

Rasanya tak bisa dimungkiri bahwa nama Raja Sapta Oktohari akan selalu dikaitkan dengan Oesman Sapta Odang, ayahnya yang memang telah lebih dulu dikenal sebagai pengusaha sukses, pemilik bisnis dengan bendera OSO Group yang bergerak di bidang percetakan, perhotelan, komunikasi, perikanan, transportasi, komunikasi, properti, perkebunan, air mineral, dan pertambangan. Berkat sang ayah Okto menemukan passionnya yang kini menjadi ladang rezeki baginya.

Bagaimana Anda menggambarkan diri Anda ketika masih kecil?

Waktu saya masih kecil, saya benar-benar menjadi anak kecil. Main galaksin, sepeda, belajar bela diri. Hidup saya bahagia. Kalau menurut saya waktu saya kecil saya tidak bandel ya. Tapi, itu menurut saya. Hahaha!

Lalu sejak kapan Anda mulai menyadari kalau passion Anda memang menjadi pengusaha?

Karena latar belakang keluarga memang pengusaha, jadi sejak kecil saya dididik juga jadi pengusaha. Ketika saya kecil saya sadar bahwa jadi pengusaha adalah profesi yang paling enak di dunia. Ya, pilihan saya cuma jadi pengusaha. Karena jadi pengusaha itu banyak keleluasaan, mandiri secara keuangan, waktu nggak ada yang bisa mengatur, berteman sama siapa aja, mau presiden atau orang yang kerja di lapangan.

Nggak enaknya jadi pengusaha?

Ada dinamika, banyak yang bertanya bagaimana kalau gagal atau rugi atau ditipu. Menurut saya itu semua bagian dari dinamika, untung, rugi, berhasil, adalah sebuah hal yang biasa. Kita hidup nggak mungkin lurus-lurus saja, pasti ada beloknya, jalan juga nggak mulus, pasti ada kerikil-kerikil. Apapun itu ya jalanin aja.

Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Pernah merasa terjatuh?

Sering. Saya pernah berada dalam titik terendah, memang butuh waktu untuk recovery, tapi pada saat itu saya sadar bahwa meratapi nasib itu nggak menyelesaikan masalah, akhirnya yang waktu itu saya lakukan adalah keluar dari masalah itu sendiri. Artinya saya lepasin itu dulu, saya melakukan hal yang lain. Kadang-kadang lucu, melakukan hal yang sepele itu justru bisa menolong kita. Kalau buat saya sepeda, saya sudah stres yang saya putuskan ya main sepeda. Di dunia ini nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan. Kita dikasih cobaan ya harus kita selesaikan. Cuma waktunya dan caranya itu yang kita belum tahu. Jadi yang harus dilakukan adalah relaks.

Sudah merasa jadi pengusaha sukses?

Kalau sukses saya nggak tahu, tapi yang saya lakukan ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya saja. Karena saya belum berada di atas, ini masih dalam proses, jadi saya nikmatin aja. Tapi, kalau di lihat ke belakang, ya memang saya sudah lumayan jauh juga jalannya. Tapi ini kan bagian dari proses.

Banyak usaha yang Anda bangun, mulai dari hotel, restoran, bagaimana cara mengembangkannya?

Saya kerja dengan orang-orang yang profesional. Sekarang sudah nggak zaman one men show, sekarang adalah zamannya distribusi otoritas, ketika otoritas itu di distribusi yang diperlukan adalah kontrol, nah, kita pegang kontrolnya bagaimana.

 Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging byMuhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Mencari partner dalam bekerja itu susah nggak?

Kalau saya mencari partner harus pakai hati, walaupun saya berapa kali ketipu juga. Tapi buat saya, berjalannya waktu saya jadi punya pengalaman yang bisa jadi referensi. Nah, saya sekarang kalau ketemu orang yang potensi jadi partner kira-kira bisa dirasain, pakai feeling, chemistry-nya sama.

Apa keinginan Anda selanjutnya, jadi menteri kah?

Nggak pengin jadi pejabat. Apa yang dilakukan sekarang itu dengan passion. Pejabat yang ketemu saya itu syirik karena saya punya waktu untuk main sepeda. Kalau mereka kan nggak bisa.

Moto hidup?

Saya nggak pernah berhenti sebelum saya berhasil dan saya selalu mendapatkan apa yang saya mau. Orang gagal itu ketika dia berhenti berusaha, makanya saya nggak pernah gagal, karena hingga sekarang ini saya pun masih terus berusaha

Jatuh Cinta dengan Sepeda

Pengalaman Raja Sapta Oktohari menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014, membuatnya merasa tertantang untuk kembali menjadi pemimpin, kali ini Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI). Kecintaannya terhadap dunia sepeda membuat Okto merasa ikut bertanggung jawab untuk membangun olahraga sepeda atau pun atlet-atlet sepeda Indonesia agar semakin dikenal dunia.

Bagaimana awal pertemuan Anda dengan sepeda?

Dari kecil saya suka sepeda. Menurut saya semua anak kecil yang bahagia adalah yang bisa naik sepeda. Waktu SD saya sudah main sepeda ke Pondok Indah, padahal rumah saya dulu jauh dari sana. SMP sudah ikut tur ke Jakarta muter-muter. Jakarta-Bandung juga pernah naik sepeda. Kalau sepeda sebetulnya jarak sudah nggak ada masalah.

Mengoleksi sepeda juga?

Sebetulnya nggak koleksi, saya hanya menggunakan barang yang saya pakai. Dan kalau nggak bisa saya pakai, saya jual. Makanya kalau ada yang minta sepeda itu saya sakit hati banget, rasanya kayak ada orang yang minta istri saya sendiri. Hahaha! 

 Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging byMuhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Membagi waktu antara kerjaan dan bersepeda sendiri apakah nggak sulit?

Kapan pun saya bisa sepeda ya saya sepeda. Jadi sebenarnya menyiapkan waktu secara khusus nggak pernah, tapi dijalanin aja, nanti semuanya ketemu. Memang manajemen waktu saya kurang bagus. Tapi selama ini alhamdulillah, ya, jalanin aja. Sambil organisasi, usaha, yang pasti saya punya waktu me time. Me time itu penting, me time saya main sepeda. Paling tidak seminggu lima kali lah.

Apakah Anda memang orang yang selalu menerapkan pola hidup sehat?

Sebenarnya si nggak juga ya. Pola hidupnya bisa dibilang nggak sehat-sehat banget. Tapi, dari kecil saya memang sudah sangat suka dengan apapun yang berbau olahraga. Jadi, ya seimbang deh.

Kenapa Anda tertarik untuk menjadi Ketua PB ISSI?

Waktu saya di HIPMI, itu organisasi yang sudah bagus banget, tapi di tangan saya, saya berusaha untuk membuatnya menjadi lebih bagus lagi. Nah, ini saya megang organisasi PB ISSI ini dalam kondisi yang nggak bagus, itu tantangan buat saya pribadi. Saya suka tantangan. Ternyata nggak terlalu sulit, saya suka naik sepeda. Pegalaman organisasi, saya sudah belajar di HIPMI. Meskipun saya harus membangun lagi PB ISSI dari nol. InsyaAllah saya punya keyakinan yang positif terhadap organisasi ini.

Awal menjadi Ketua PB ISSI katanya sempat di-bully?

Iya, di Facebook segala macam diomongin ini itu. Saya tidak bisa menahan hal tersebut. Tapi akhirnya orang yang nggak suka sama saya, saya ajak untuk bangun PB ISSI sama-sama. Dan hasilnya sekarang, mereka malah lebih sering di organisasi ini daripada di kantornya sendiri. Mereka melihat memang saya ada passion di situ, mereka melihat saya punya prinsip. Organisasi ini harus bareng-bareng diperbaiki. Yang pertama saya lakuin adalah bikin semua orang percaya sama saya dan kasih lihat ke mereka kalau saya juga ingin membangun PB ISSI menjadi lebih baik.

 Inilah kisah perjalanan hidup pengusaha muda Raja Sapta Oktohari. (Foto by Bambang E. Ros/Bintang.com, Digital Imaging byMuhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Harapan untuk olahraga atau dunia sepeda Indonesia kedepannya?

Saya ini sangat nasionalis sekali, saya bangga banget kalau ngelihat merah putih berkibar. Banyak orang yang saya kampanyein untuk naik sepeda, rata-rata orang yang saya ajak sampai sekarang nggak bisa berhenti naik sepeda. Saya mau bikin bangga Indonesia lewat sepeda, ini harus bisa menjadi olahraga yang membanggakan Indonesia. Paling dekat Asian Games. Semuanya harus terlaksana. Proses bukan hal yang luar biasa, proses itu sudah biasa saja.

Lalu apa kunci sukses seorang Raja Sapta Oktohari? Kepada Bintang.com, Okto sempat mengenang ucapan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tidak akan pernah ia lupakan. “Kata Dahlan Iskan, kalau mau jadi pengusaha sukses harus siap ditipu, ditinggalin teman, rugi, dikhianati, diduain, ditusuk dari belakang, dan segala hal yang buruk-buruk lainnya. Dalam proses perjalanan itu nggak bisa dihindarin. Kalau udah dijalanin, oh, saya akan menuju sukses. Kalau berhenti yaa nggak sukses. Kita jalan maju. Sepeda, kalau mau jalannya stabil ya harus gerak,” jelas Okto.

Mengikuti filosofi sepeda, kira-kira itulah yang membuat Raja Sapta Oktohari bisa sukses seperti sekarang ini. “Saya suka tanjakan, kalau kamu ngeliatnya ke atas terus, kamu pasti nggak sampai. Kalau nanjak kamu lihat ke atas sebagai target, setelah itu kamu lihat ke bawah, ke roda depan sepeda, kadang saya juga ngintip ke atas. Kalau lihat ke atas terus capek. Hidup kalau lihat yang tinggi-tinggi terus ya nggak bakal sampai.”

;
Loading