Sukses

Lifestyle

Semua Cobaan Itu Malah Membuatku Jadi Wanita Bersyukur

Kisah kiriman sahabat Vemale, Uchy Sudhanto ini sangat menyentuh. Mata kita akan dibuka tentang apa itu arti perjuangan dan bertahan hidup. Termasuk ketika kita sudah berada di titik terendah dalam hidup kita.

-oOo-

Hujan.
Teman terbaik saya. Karena saya merasa hujan bisa menghapus segala rasa sedih yang ada.

Semua baik-baik saja. Sampai ibu saya didiagnosis kanker saat saya berumur 6 tahun. Setahun menjalani pengobatan kesana kemari, ibu divonis kanker yang sudah komplikasi. Kanker rahim, kelenjar getah bening, payudara, semua menggerogoti tubuh ibu secara perlahan. Hingga hari itu tiba, ibu dipanggil oleh-Nya saat umur saya 7 tahun.

Ayah saya menikah kembali dengan anak angkat di keluarga saya dengan pemikiran wanita ini sudah dekat dengan kami, anak-anaknya. Nyatanya ini hanya menjadi bumerang. Keluarga besar ibu menolak. Kehidupan saya dan kakak-kakak hancur berantakan. Wanita itu jelas hanya ingin uang ayah saya. Tidak ada keharmonisan di keluarga kami.

Kehidupan remaja saya semakin hancur saat saya yang harus menjadi saksi perselingkuhan ibu tiri saya itu. Perceraian terjadi, adik tiri saya diperebutkan. Saya semakin tenggelam dalam kesedihan. Di usia 14 tahun saya sudah mengenal rokok, minuman keras dan suka menyakiti diri saya sendiri. Di keheningan malam saya luapkan kesedihan saya dengan menyilet bagian tangan. Berusaha meluapkan semua sakit hati saya karena ditinggalkan dan tidak dipedulikan.

Ayah menikah lagi. Namun tidak lebih baik. Ibu tiri yang baru ini juga hanya mengincar harta. Buat dia saya adalah ancaman sehingga akses saya ke ayah ditutup. Saya ingat betul malam itu, ayah ingin membelikan saya handphone baru untuk menunjang kuliah tapi ditentang oleh ibu tiri saya. Dia mengeluarkan kata-kata yang membuat saya berontak. Saya lari dari rumah. Sakit rasanya. Kaki berjalan tak tentu arah sambil menangis.

Setelah keliling tak tentu arah selama sejam, saya melihat ayah dari kejauhan. Dengan raut muka kebingungan beliau mencari saya. Tak tega saya hampiri beliau dan memeluknya. Disitulah semua terlihat jelas. Ayah jelas lebih membela putra putrinya. Lagi-lagi perceraian terjadi.


Kami pun keluar dari rumah yang dibangun dengan seluruh uang pensiun ayah. Tak sedikit pun penyesalan walau akhirnya kami tak memiliki rumah dan uang berlebih lagi. Di situ pulalah tamparan keras bagi saya. Sebagai wanita satu-satunya saya bertanggung jawab mengurus ayah dan adik saya.

Setahun kemudian ayah memutuskan untuk pindah ke luar kota sedangkan saya tetap tinggal di Jakarta. Kebingungan karena untuk pertama kalinya lepas dari ayah. Mencari pekerjaan kesana kesini. Kadang sehari hanya makan sekali. Bahkan teringat saat tak punya uang, saya mengumpulkan recehan kemudian direkatkan isolasi untuk ongkos naik angkutan umum.

Saya tak mau menyerah. Saya selalu bilang ke ayah bahwa saya baik-baik saya di Jakarta walau sesudahnya menangis karena menahan lapar.


Pekerjaan saya pindah-pindah. Sebagai pekerja kantoran di dunia IT dan mengejar mimpi menjadi penyiar radio saya jalani. Sampai akhirnya keadaan membaik. Gaji saya tidak besar karena masih mengejar mimpi, tapi saya belajar banyak dari mantan-mantan bos saya. Belajar mengenai bisnis, bagaimana membangun mimpi yang lebih besar lagi dan terus berjuang tanpa mengenal lelah.

Saat ini saya akan berusia 28 tahun dan saya bekerja di perusahaan swasta dengan gaji cukup, mempunyai bisnis kecil-kecilan yang terus membesar, akan mempunyai rumah sendiri walau hanya rumah sangat sederhana. Saya sadar, tanpa tempaan cobaan dari kecil saya tidak akan menjadi wanita seperti sekarang.

Diajarkan oleh-Nya untuk menjadi wanita yang kuat dan pantang menyerah. Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk menempa umat-Nya, semua tergantung masing-masing individunya. Apakah akan melihat cobaan itu sebagai sesuatu yang buruk atau malah melihatnya sebagai ajang pembentukan diri. Saya sangat bersyukur Tuhan memberikan pelajaran ini dan mempertemukan dengan orang-orang hebat yang sudah menjadi mentor saya selama ini. Dan saya sangat bersyukur atas segala sesuatu yang saya dapatkan...

-oOo-

Semoga kisah ini memberi inspirasi dan motivasi untuk pembaca Vemale. Menjadi Kartini tidak harus dengan membuka sekolah atau melakukan hal-hal super besar. Dengan memperjuangkan impian Anda dan bermanfaat sekecil apapun untuk orang lain, maka Andalah Kartini itu.

 

LOMBA MENULIS VEMALE.COM

ANDALAH KARTINI ITU

 

Dalam rangka menyambut Hari Kartini, Vemale.com mengadakan sebuah lomba menulis kisah nyata yang dapat memberi inspirasi untuk banyak wanita.

Kirimkan kisah Anda mengenai suka duka menjadi wanita dan bagaimana Anda berjuang untuk menjadi wanita mandiri tanpa melupakan kodrat ke email redaksivemale@kapanlagi.net dengan subjek: KARTINI VEMALE 

10 kisah yang ditayangkan akan mendapat bingkisan cantik dari kami. Kami tunggu kisah Anda hingga tanggal 30 April 2015.

 

Some people say I'm not a very pretty woman, but I'm a very beautiful woman inside. - Anne Ramsey




(vem/nda)
Loading
Artikel Selanjutnya
PHK Membuat Hidupku Runtuh, Tapi Skenario Tuhan Lebih Indah Untukku
Artikel Selanjutnya
Video: Pria Misterius Membuat Wanita Penjual Bunga Menangis Haru