Sukses

Lifestyle

Dijatuhkan Rekan Kerja Bukan Akhir Segalanya, Tuhan Selalu Punya Rencana Terbaik-Nya

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Dini - Denpasar

Awal Karier

Sejak kali terakhir lulus dalam mengenyam pendidikan pada pertengahan 2017 lalu, karier yang saya jalani adalah sebagai seorang pengajar. Meski hanya sebagai seorang guru honorer dengan gaji yang masih terbilang tak cukup untuk segala macam kebutuhan hidup. Namun, pengalaman mengajar selalu menyenangkan bagi saya. Hingga saya semakin mencintai pekerjaan saya, entah saat bersama murid-murid yang mulai beranjak remaja atau bahkan saat bersama rekan-rekan seperjuangan. Saya menyadari bahwa mengajar adalah panggilan jiwa.

Perjuangan

Sebagai sekolah yang baru saja berdiri, saya diberikan peran ganda oleh kepala sekolah, yakni sebagai staf waka dan sebagai guru kelas. Berangkat pagi pulang sore, dari awal pekan hingga akhir pekan. Tak jarang lembur hingga larut malam untuk persiapan kunjungan pengawas dan akreditasi. Pun saat hari libur, terkadang harus hadiri undangan dari yayasan. Meski, semua itu tak banyak merubah ketebalan isi di amplop gajian. Namun, hal ini terasa ringan kala mengingat raut harapan di wajah siswa-siswa kami. Semua demi mereka.

 

Rekan Baru

Semakin berkembang sekolah tersebut rekan-rekan baru pun bertambah. Mereka terlihat ramah dan baik, sering kali kami bercanda bersama untuk sekedar menghilangkan kepenatan. Berbagi pengalaman mengajar di kelas dan bahkan makan bersama di kantin sekolah. Beberapa bulan berjalan, semua terlihat baik-baik saja. Sampai pada akhirnya saya tahu mereka bermuka dua. Para staf lama menyadarinya satu per satu. Mereka membalikkan lidah menjelekkan kami saat bicara dengan atasan kami. Hal itu semakin terlihat jelas saat adanya Pendaftaran tes CPNS tahun 2018 lalu. Hampir semua guru mengikuti tes tersebut meski kepala sekolah kami tidak. Namun beliau tidak mempermasalahkannya, beliau mengizinkan jika memang staf dan guru di sana mengikuti tes tersebut.

Saya pun menyadari betul tes ini tak akan mudah, maka saya tidak menaruh harapan besar padanya. Pesimis, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya pada waktu itu. Mengingat saya telanjur menyayangi siswa-siswa dan berat rasanya meninggalkan sekolah ini. Jadi saya memutuskan untuk mengambil tes ini di Bali. Sembari liburan pikir saya waktu itu. Toh, jika memang tidak diterima niat saya adalah liburan dan menyegarkan pikiran. Ternyata pada tahap pertama tes saya dinyatakan lolos. Entah harus senang atau sedih saya waktu itu, lagi-lagi saya berpikir, “Mungkin kebetulan dan nggak mungkin lolos pada tahap selanjutnya."

Saat itulah saya menyadari bahwa rekan baru saya memang membenci saya. Kepala sekolah yang awalnya memberikan izin secara tiba-tiba menyodorkan kontrak kerja yang berisi larangan untuk mengikuti CPNS. Dengan jelas tertulis di kertas yang beliau sodorkan kepada saya larangan tersebut. Hingga akhirnya saya tahu bahwa mereka membentuk forum di dalam forum untuk mencari cara menyingkirkan para staf lama (termasuk saya). Tuduhan dan segala macam sudah mereka lakukan untuk mengambil hati atasan saya. Sampai terasa berat langkah saya untuk menginjakkan kaki di kantor yang dulu biasa kami bersendau gurau. Ruang kantor pun terasa menyesakkan dan suasana hangat tak lagi menghiasinya.

Perpisahan

Tanpa tahu akan seperti apa jika saya memutuskan untuk resign, saya beranikan diri untuk melakukannya. Merasa diri bahwa sudah tak dibutuhkan lagi. Dengan sangat berat hati saya memutuskan untuk meninggalkan siswa-siswa yang terlanjur saya sayangi. Mendung dan gerimis mengiringi perpisahan kami pagi itu. Seolah langit mengerti telah tiba waktunya untuk pergi. Isak tangis dan raut wajah mereka masih teringat jelas hingga kini. Hanya doa yang kini bisa mengiringi langkah kalian. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidup saya

Masa Depan

Selang beberapa bulan ternyata saya dinyatakan lolos dalam semua tahap tes CPNS. Bersyukur dan terharu, ternyata Tuhan memiliki rencana sendiri untuk masa depan saya. Saat kita berbuat kebaikan (aksi) maka Tuhan akan membalas pula dengan kebaikan (reaksi). Meski masa depan adalah sebuah misteri, tetapi saya jelas melihat diri saya di ruang kelas. Dan meskipun saya tidak tahu di mana perhentian selanjutnya dari perjalanan akan menuntun saya, tapi satu hal yang pasti, “Saya akan terus mengajar dan belajar, belajar, dan mengajar."

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan