Sukses

Lifestyle

Kehidupan Kita Hari Ini adalah Hasil Rangkaian Titik Pengalaman di Masa Lalu

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: E - Magelang

Kesetaraan gender yang dipelopori oleh R.A Kartini membawa perubahan besar terhadap kaum wanita, salah satunya tentang kebebasan untuk berkarya. Di era modern seperti sekarang ini, tidak jarang wanita yang memilih untuk mejadi wanita karier. Bahkan di beberapa perusahaan, banyak wanita yang justru menduduki jajaran top management, yang notabene punya wewenang untuk menentukan keputusan strategis terkait masa depan perusahaan.

Perjalanan karier saya dimulai kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tentu saja semua pengalaman yang selama ini tersaji bukan hanya hal-hal manis-manis saja, namun banyak juga hal yang tidak menyenangkan. Nah, berikut sedikit cerita perjalanan karier saya yang saya rangkum dalam 3 periode. 

Jakarta, 8 Juni 2009

Seandainya ada yang bertanya kapan hari bersejarah dalam hidup, salah satunya pasti akan saya jawab tanggal 8 Juni 2009. Di tanggal itulah saya mulai menorehkan tinta pertama saya di buku perjalanan karier sebagai seorang staf accounting di sebuah perusahaan airlines, kurang lebih 2 bulan setelah saya wisuda. Sejak saat itu, saya seperti “bermigrasi” dari kehidupan saya sebelumnya. Migrasi yang pertama ialah menjadi anak kost, sebuah perubahan yang sangat sulit bagi saya mengingat saat itu adalah pertama kalinya saya tinggal sendirian di Jakarta lengkap dengan macet, banjir dan kerasnya kehidupan di ibu kota. Homesick menjadi penyakit yang sering kambuh terutama saat malam tiba.

Migrasi yang kedua ialah berubahnya rutinitas sehari-hari terkait dengan berubahnya status dari mahasiswa menjadi karyawan, lengkap dengan hak dan kewajiban yang melekat di dalamnya. Banyak momen kebersamaan yang seru bersama rekan-rekan sekantor yang selalu membuat saya rindu setiap kali mengenangnya. Bos yang baik dan sangat jarang marah-marah, rekan kerja yang meskipun berasal dari lintas generasi namun sangat welcome dan bersahabat (meskipun ada beberapa yang rese dan menyebalkan), maupun jenis pekerjaan yang memang sesuai dengan passion saya.

Kalau ada istilah “waktu habis buat di kantor”, maka istilah ini tidak berlaku di kantor saya ini. Paling lambat tiga puluh menit dari jam kerja habis, ruangan sudah bersih. Jarang sekali yang menghabiskan waktu berlama-lama di kantor, kecuali hanya sekadar ngobrol menunggu hujan reda. Budaya pulang “tenggo” sepertinya sudah diwariskan sejak zaman perusahaan ini berdiri, sehingga karyawan punya waktu lebih untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan. Selain itu, hubungan antar karyawan pun lebih erat dengan adanya perkumpulan karyawan sesuai dengan agama masing-masing (Persekutuan Doa/Kajian Islami) yang menjadi agenda rutin setiap bulannya.

Dalam hal pekerjaan, saya cukup menikmati job desc sebagai seorang staf accounting. Journal, invoice, dan tumpukan dokumen yang menanti untuk dicek menjadi makanan sehari-hari. Menyenangkan memang, apalagi itu pengalaman kerja pertama dan sesuai dengan background pendidikan saya, sehingga tidak terlalu butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan masalah pekerjaan. Namun, saat masa kerja saya menginjak kurang lebih satu tahun, saya mulai bosan dan ingin mencoba tantangan baru.

Saya mulai “selingkuh” dengan mencoba apply di beberapa perusahaan, termasuk beberapa instansi pemerintahan untuk mencoba peruntungan menjadi abdi negara. Akan tetapi, kenyataan tak selalu berjalan seindah yang direncanakan. Ada tragedi yang membuat saya masih trauma sampai saat ini. Tas saya dirampas oleh dua orang tak dikenal saat dalam perjalanan untuk menyerahkan syarat-syarat pendaftaran sebagai CPNS. Perlawanan yang saya lakukan berakhir sia-sia, dan semua dokumen penting (yang paling berharga adalah ijazah asli) raib dibawa kabur. Ijazah raib, rencana untuk daftar CPNS pun gagal.

Namun hidup harus tetap berlanjut. Aktivitas apply-apply pekerjaan di tempat lain tetap berjalan. Hingga akhirnya, saya keluar dari zona nyaman itu setelah 1,5 tahun mengukir sejarah di sana. Saya diterima di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) di bilangan Jakarta Selatan. Sedih sebenarnya berpisah dengan rekan-rekan yang sangat baik dan selalu menjadi sandaran saat berkeluh kesah, namun perubahan untuk menjadi lebih baik itu sangatlah penting.

Jakarta, 10 Januari 2011

Kantor kedua. Tahun baru, tempat kerja baru, suasana baru, semangat baru. Sangat berbalik 180 derajat dari kantor saya sebelumnya. Di KAP, jam kerjanya sangat tidak menentu. Ada masa-masa tertentu di mana kantor terlihat lengang dan hanya beberapa kursi yang berpenghuni, itu berarti mereka sedang menyebar di klien untuk audit. Sedangkan mendekati masa pelaporan pajak, kantor membludak. Kalau di kantor sebelumnya pukul 5 sore sudah sepi, di kantor ini pukul 12 malam pun masih terlihat ramai. Tak heran kalau turnover karyawan di KAP cukup tinggi. Bagi yang tidak kuat, kabur menjadi jalan keluar yang bisa dilakukan untuk menghindari penalty, meskipun secara attitude hal ini tidak baik dan tidak pantas dilakukan. Mungkin pada saat rekruitmen pegawai baru, perlu ditambahkan syarat “tahan banting”, hehehe.

Nah, kebetulan saya dapet atasan yang cukup disiplin dan tegas (99% mendekati galak). Sebagai junior auditor saya dituntut untuk memahami semuanya dengan serba instan, learning by doing dan semacamnya. Masih segar dalam ingatan, hari pertama kerja yang dalam bayangan saya pasti baru perkenalan dan diberi pekerjaan-pekerjaan ringan seperti di kantor pertama saya dulu, tapi ternyata sebaliknya.

Hari pertama kerja langsung diajak ke klien dan pulang pukul 01.00 dini hari, sebuah pengalaman yang membuat saya sedikit syok, karena memang saya tidak menyangka suasana kerja di KAP ternyata seperti itu. Di sinilah saya temukan kaum workaholic sejati, dan cocok bagi yang akan menguruskan badan tanpa perlu bersusah payah melakukan diet, dan membentuk kantung mata tanpa perlu menggambarnya, hehehe.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengan ritme kerja seperti itu. Saat peak season, pulang pukul 3 atau 4 pagi sudah menjadi hal yang biasa. Kalaupun bisa pulang pukul 5 sore dan bisa melihat matahari senja, itu sebuah anugerah yang wajib disyukuri. Oh ya, ada satu hal lagi yang menjadi kebahagiaan tersendiri, yaitu saat report audit yang kita buat dengan penuh peluh dan airmata itu akhirnya dicetak dan release, rasanya mirip saat masa-masa skripsi dulu. Plong.

Dengan rilisnya report audit, berarti masa-masa sulit itu telah berakhir dan bisa pulang di bawah pukul 8 malam. Namun, dengan ritme kerja seperti ini, ternyata kondisi kesehatan saya kurang mendukung. Baru 6 bulan saya “menikmati” semuanya, saya terkena typus, suatu penyakit yang sudah lazim dialami oleh karyawan KAP. Alhasil, keinginan untuk segera resign dan motivasi untuk kerja di dekat keluarga pun makin menggebu.

Gayung bersambut, perusahaan otomotif berskala nasional yang anak perusahaannya mempunyai cabang di Jogja sedang membutuhkan karyawan untuk posisi finance. Tak menyia-nyiakan kesempatan, saya berusaha maksimal untuk mewujudkan mimpi saya. Application letter saya buat semenarik mungkin, perjalanan Jakarta – Jogja pulang pergi saya jalani untuk mengikuti tes tertulis karena atasan saya di KAP hanya memberikan izin satu hari.

Beruntung saat test interview pertama, kedua dan tes kesehatan saya sedang libur lebaran (libur di KAP lebih lama dibanding libur di perusahaan tempat saya menjalani seleksi), sehingga mempermudah saya dalam menjalani proses recruitment ini. Setelah melalui proses panjang, dengan izin Allah, saya bisa menjadi salah satu orang yang beruntung lolos diantara ratusan peserta lainnya. Akhirnya, saya resmi menyatakan mundur dari KAP setelah 8 bulan bekerja. Lagi-lagi, saya bersyukur dengan penyakit yang Allah berikan, karena dengan alasan kesehatan yang kurang mendukung, saya diizinkan resign tanpa membayar penalty sepeserpun.

 

Jogja, 5 September 2011

Setelah dua tahun lebih menjadi anak rantau, akhinya bisa kembali ke pangkuan kota ini. Terlebih lagi, saya bisa bekerja di perusahaan yang saya idam-idamkan pada saat masih duduk di bangku kuliah dulu. Masih jelas dalam ingatan ketika masih kuliah, setiap lewat kantor ini saya selalu menyempatkan diri menoleh dan menatap beberapa detik gedungnya sambil berdoa agar suatu saat bisa bekerja di kantor yang masih menjadi rumah kedua saya sampai dengan hari ini.

Per hari ini, berarti 7 tahun 8 bulan waktu yang saya habiskan di rumah kedua saya ini. Sebuah masa kerja terlama dalam sejarah karier saya, mengingat di dua perusahaan sebelumnya masa kerja saya hanya seumur jagung. Bukan tanpa kendala saya bisa bertahan selama ini. Sering terbersit keinginan untuk resign, namun selalu banyak pertimbangan yang selalu membuat saya bertahan.

Sebagai seorang finance controller, saya dituntut untuk bisa memastikan proses operasional di cabang bisa berjalan sesuai ketentuan (SOP), sehingga salah satu job desc saya ialah keliling cabang-cabang, ke pelosok daerah sekalipun. Pindah-pindah keluar daerah untuk mem-back up karyawan yang sedang cuti melahirkan menjadi hal yang biasa.

Tiga tahun pertama berjalan dengan mulus. Keringat dan peluh yang saya keluarkan tidak begitu terasa karena atasan saya yang baik dan hampir belum pernah marah, sehingga saya bisa bekerja dengan sepenuh hati. Hubungan dengan sesama rekan kerja pun tidak mengalami kendala yang berarti. Kalaupun ada pertengkaran-pertengkaran kecil dengan rekan kerja, rekan kerja yang suka cari muka atau saling menjatuhkan kinerja karyawan lain di mata atasan, itu semua saya anggap sebagai seni dalam dunia kerja. Akan tetapi, ibarat ombak di lautan yang tidak bisa kita tebak, masa-masa sulit itu dimulai.

Menginjak tahun keempat, atas pertimbangan tertentu, terdapat pergantian atasan. Bos saya yang super baik tadi pindah bagian, dan digantikan oleh supervisor lain dari cabang di luar Jawa. Masih muda, stylish, belum menikah, daya sangat tajam, pandai berargumen, namun sayangnya dia sangat temperamen. Dua bulan pertama dia masih tampak baik dan elegan. Namun menginjak bulan ketiga barulah terlihat sifat aslinya.

Debat-debat kecil yang biasa kami lakukan sering berujung dengan panasnya suasana. Kata-kata pedas menjadi santapan kami sehari-hari. Pengalaman paling berkesan ialah saat diusir dari ruang meeting, padahal hanya karena misscommunication yang sangat sepele. Alhasil, toilet menjadi tempat favorit untuk menumpahkan air mata. Frekuensi chat lewat aplikasi di laptop pun meningkat tajam (pura-pura serius kerja namun yang huruf yang keluar adalah curhatan, hehehe). Tak jarang, session curhat pun berlanjut di atas sajadah, buat apa lagi kalau bukan buat berdoa minta diberi kekuatan, kesabaran dan jalan terbaik.

Meskipun demikian, banyak sisi positif yang ia miliki. Salah satunya ialah tidak pelit ilmu dan kemampuan yang baik dalam hal delegasi pekerjaan. Gaya kepemimpinannya memang keras, namun dengan begitu anak buahnya menjadi pintar, lebih banyak ilmu dan multi talent karena dia membiasakan anak buahnya untuk berinovasi. Hal positif itulah yang kadang-kadang kami rindukan karena dia hanya “singgah” di Jogja selama 2 tahun dan akhirnya dipromosikan ke luar Jawa.

Sering rasa bosan hinggap dan terbersit keinginan untuk resign, namun kembali lagi, banyak alasan yang selalu membuat saya bertahan di perusahaan ini. Budaya Kaizen dengan menggiatkan innovation competition membuat karyawannya selalu mengasah idenya untuk “do something more”. Ada kesegaran, semangat dan harapan selama bekerja di perusahaan ini yang belum tentu saya temukan di luar sana.

Iklim organisasi, sistem dan budaya improvement yang diterapkan selama ini sungguh memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk tumbuh dan berkembang, yang bukan hanya sekadar menjadi “tenaga bayaran” saja, namun mampu menciptakan atmosfer “rumah kedua” sebagai media untuk mengasah kreativitas dan inovasi, karena pada dasarnya kesuksesan bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan dan seberapa besar gaji, namun seberapa besar kita mampu memberikan yang terbaik untuk perusahaan dan orang-orang di sekitar kita.

Perjalanan selama hampir 10 tahun ini memberikan pelajaran untuk saya bahwa setiap titik-titik kehidupan yang kita jalani saat ini adalah rangkaian dari titik-titik kehidupan kita di masa lalu. Saat masalah dan rintangan menimpa, kita harus yakini bahwa itu justru menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Saat kita berpikir akan menyerah, kita harus selalu ingat, ada banyak orang yang kita cintai yang bergantung pada kehidupan kita. Dan satu hal yang pasti, melibatkan Tuhan sebagai bagian dari tim kesuksesan kita adalah kunci keberhasilan kita yang paling utama.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan