Sukses

Lifestyle

Menjadi Seorang Ibu, Perlu Berdamai dengan Berbagai Keadaan Baru

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Emilia Sylvia

Sebuah kisah baru hadir ketika aku telah resmi menjadi seorang ibu, peran yang tidak pernah terpikir bahkan pada saat awal menikah, 3 tahun sebelumnya. Peran ini seakan adalah peran yang wajar dan sama pada semua wanita yang telah menikah dan melahirkan adapun ada juga yang tidak memilih menikah sebelumnya. Namun ternyata semua wanita pasti memiliki kesan dan pengalaman yang berbeda seperti aku.

Menjadi seorang ibu adalah peran seumur hidup yang merupakan pilihan aku selain peran-peran lainnya. Menurut aku  ini adalah peran yang membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang prima karena aku adalah “rumah” pertama bagi anakku di mana harus memiliki fondasi yang cukup kuat untuk dapat menjadi sarana bagi tumbuh kembangnya.

Matteo merupakan nama yang saya dan suami pilih untuk anak laki-laki pertama kami. Selain menjadi anak pertama, Matteo juga adalah cucu pertama di keluarga besar saya dan keluarga besar suami, betapa ia menjadi kesayangan seluruh keluarga kami. Anakku adalah penerus keluarga yang pastinya akan kami persiapkan bagaimana nanti ia menjadi bagian dari keluarga kecil dari saya dan suami, menjadi bagian dari keluarga besar dan nantinya juga menjadi bagian dari masyarakat. Di dalam situasi yang jujur dikatakan sulit seperti pada saat pandemi ini menjadi tantangan bagiku untuk mengenalkan anaku dengan pengalaman-pengalaman yang baru, namun pilihan untuk lebih dekat dengan keluarga bisa menjadi pilihan yang lebih baik dan bijak.

 

 

 

 

 

Menjadi Seorang Ibu

Sebelum menjadi seorang ibu, jujur aku adalah pribadi yang cukup individualis dan ketika memutuskan menikah aku telah memiliki rencana-rencana hanya untuk aku dan suami. Namun ketika memiliki Matteo pelan-pelan nilai-nilai yang telah aku pegang dan pertahankan selama ini berubah. Aku menjadi lebih terbuka dengan ruang-ruang kompromi, toleransi, tegas, terbuka dan rendah hati. Hal-hal tersebut tentunya tak gampang dan sulit sekali untuk dikelola ditambah dengan keputusan yang aku ambil untuk berhenti bekerja dan menjalani peran sebagai full time Mom.

Selalu berada di rumah, mengurus anak, suami dan tetap menjalin tali kekeluargaan dengan keluarga besarku dan keluarga besar suami sebenarnya sama halnya dengan menjalani pekerjaan. Masalah-masalah yang muncul terkadang terlihat sepele namun aku belajar untuk menerima bahwa masalah tersebut harus diungkapkan dan harus diselesaikan, karena aku percaya dengan prinsip demikian dapat membantu mengantisipasi masalah-masalah yang lebih besar dan hal ini yang akan dipelajari anaku nanti dalam menghadapi masalah dalam hidupnya.

Keluarga merupakan tempat pertama dari kehidupan seorang anak, aku percaya dengan belajar mengatur sebuah keluarga, dapat menjadi landasan untuk dapat mengatur lainnya. Aku belajar untuk menerima semua ketidaksempurnaan dan ternyata pilihan saat ini untuk mengurus penuh anakku dan keluarga sebenarnya merupakan kesempatan aku untuk berkembang dan dapat menjadi panutan bagi anaku Matteo. Aku berharap anakku akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kuat karena memliki fondasi keluarga yang kuat yang dimulai dari peran orangtuanya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
5 Cara Menghilangkan Bau Prengus Daging Kambing tanpa Buru-Buru Dicuci
Artikel Selanjutnya
5 Tips Ampuh Menjaga Makanan agar Tidak Didekati Semut