Sukses

Lifestyle

Orangtua Kadang Lebih Keras kepada Anak Sulung, tapi Bukan karena Tak Cinta

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: A

Pertengkaran antara kakak dan adik memang sudah lazim kita temui. Semua pastinya pernah mengalami pertengkaran dengan adik ataupun kakak entah karena berebut sesuatu, perbedaan pandangan, atau karena hal lainnya. Ini kisahku sewaktu sekolah tingkat SMA.

Pagi itu, aku bertengkar hebat dengan adikku. Aku sudah berusaha untuk menahan amarah yang semenjak tadi berkecamuk, aku hanya diam. Hingga saat kami sarapan bersama, adikku tiba-tiba bertanya kepada ibu tentang keberadaan suatu barang, dan ibu pun menjawab jika ia tidak tahu.

Ibu kemudian bertanya kepadaku, karena aku yang sedari tadi menahan kesal dan marah, jawaban yang terlontar pun terkesan tidak sopan. Ibu marah kepadaku, ia mengomel dan memarahiku. Aku berusaha menatap matanya, aku lalu mengatakan jika aku memang benar-benar tidak tahu tentang keberadaan barang adikku. Aku pun juga bertanya kepadanya, mengapa aku dan adikku diperlakukan berbeda? Bukankah kami sama-sama menjadi anaknya? Pertanyaan itu meluncur setelah sekian lama aku menyimpannya.

Aku lantas saja pergi, bagaimana aku tidak kesal? Sewaktu aku sekolah setingkat SMP, bapak dan ibu sangat jarang menjemputku, membiarkanku berjalan berkilo-kilometer jauhnya, membiarkanku berjuang kebingungan mencari cara untuk dapat kembali pulang entah dengan naik bus umum atau angkutan umum, masa bodo entah aku kepanasan atau kehujanan yang pasti mereka tak akan peduli. Mereka juga tak pernah sekalipun mendukungku dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Ketika aku merasa lelah ibu malah memarahiku habis-habisan, hingga aku berprestasi dalam beberapa lomba pun mereka abai akan hal itu. Bahkan selama 3 tahun aku di jenjang SMP, mereka tak pernah untuk meluangkan waktu mereka mengambil rapor hasil belajarku. Aku selalu meminta paman atau bibi untuk mengambil rapor milikku. Dan bahkan, salah satu dari bapak ataupun ibu menghadiri wisudaku saja mereka tak hadir.

Itu berbanding terbalik dengan adikku saat ini di bangku SMP. Ibu sengaja menyewakan mobil antar jemput agar adikku tidak kebingungan saat pulang. Ia tak akan merasakan bagaimana kepanasan, kehujanan, dan tidak akan merasakan berjalan berkilo-kilo meter agar dapat bus atau angkutan umum sepertiku dua tahun lalu. Ia bahkan setiap acara sekolah selalu diantar ibu, meskipun perlombaan ekstrakurikuler saat malam hari sekali pun, ia akan diantar.

Perih terkadang, mengalami hal-hal pahit yang sangat kontras dengan adikku. Tak hanya di sekolah, di rumah pun juga mendapatkan perlakuan yang berbeda dari mereka. Tugasku selalu berat, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang terkadang tak pernah dilakukan sekalipun oleh adikku, bahkan hingga adikku dijenjang SMP ia tak perlu kesusahan melakukan pekerjaan rumah seperti saat aku SMP dulu.

Bahkan ketika aku sakit, aku dituntut untuk membeli obat sendiri meskipun dengan hujan-hujanan. Itu akan sangat kontras ketika adikku yang mengalami sakit,  ia akan dibelikan beberapa obat dan selalu diingatkan tentang jam makan ataupun jam minum obat meski itu hanya sakit flu biasa, dan itu yang tidak pernah ibu lakukan untukku.

Menjadi Anak Sulung

Dengan mata yang sembab aku mengerjakan tugas sekolahku di samping ibu. Aku hanya diam memandangi layar laptop sambil menyumbat telingaku dengan earphone dan merasa seolah-olah ibu tidak ada di sampingku. Setelah beberapa lama, ibu berusaha berbicara kepadaku, dan aku tetap diam dan berpura-pura sibuk dengan tugasku yang padahal sudah selesai sejak tadi.

“Kamu tahu kenapa kamu diperlakukan berbeda dengan Bapak dan Ibu?” Aku sedikit terkejut mendengar ucapan ibu, tapi aku tetap abai dan tetap memandangi layar laptopku.

“Kamu itu anak sulung di sini. Kamu harus lebih kuat dibanding adik-adikmu, kamu harus bisa mencari jalan keluar dari setiap masalah karena kamu harus mengayomi dan melindungi adikmu. Kamu harus kuat, teguh, dan memiliki hati yang kokoh meskipun kamu itu perempuan. Masalah kamu dan adikmu semua memiliki tempat tersendiri di hati bapak dan ibu. Bukannya membedakan, enggak ada sama sekali. Bukankah kalau Bapak dan Ibu nggak ada, kamu yang bertanggung jawab dengan adik-adikmu? Ibaratnya di hutan kamu harus cari jalan, membukakan jalan untuk memudahkan adik-adikmu. Itu tugas kamu, kamu harus siap dengan kondisi apa pun tanpa harus merengek dan bergantung pada Bapak dan Ibu. Kamu itu lebih kuat dari saudaramu yang lain dan pasti akan lebih hebat dari yang lain.

Ibu tersenyum dan menepuk pundakku, setiap katanya berhasil merobek-robek keangkuhanku. Kemarahanku yang sejak tadi kini mencair. Benar, tidak seharusnya aku jadi manja, dan meminta semua keinginanku dituruti. Perlakuan ibu masih serupa seperti dulu, namun bedanya kini aku tak mempermasalahkan lagi dengan perbedaan itu. Karena aku paham dan mulai mengerti terkadang apa yang kita pikirkan tentang orang tua kita tidak selalu selaras dengan apa yang kita kira. Mereka memiliki cara tersendiri dan cara terbaik versi diri mereka sendiri untuk mendidik kita.

Semua orang tua pastilah menyayangi anak-anak mereka. Namun tak jarang prasangka kita sendirilah yang membuat kita membanding-bandingkan mereka dengan orang tua lain atau membandingkan setiap perlakuan mereka untuk kita dan saudara kita. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda bukan? Karena itu cara orangtua mendidik pun juga berbeda pada setiap anaknya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Menu Hari Ini: Nasi Tim Daging, Gulai Ikan Asap dan Chicken Katsu
Artikel Selanjutnya
4 Cara Turunkan Kolesterol dalam Darah dengan Mudah