Sukses

Lifestyle

Ayahnya Melakukan Eutanasia, Meninggal Dibantu Seorang Dokter dan Pria Ini Merenungkan Akhir Hidupnya Sendiri

Fimela.com, Jakarta Graham Summerlee ingat itu adalah awal tahun 1997 saat ayahnya menelepon dan mengatakan keinginan terakhirnya untuk melakukan eutanasia, meninggal dengan bantuan dokter. Apa yang mengejutkan bagi Graham bukan apa yang dikatakan oleh ayahnya, namun ketetapan hati dan kepastian dalam suaranya.

Saat itu, semua orang tahu siapa Dr. Jack Kevorkian dan Graham paham bahwa ayahnya tidak akan hidup lebih lama lagi dengan keputusan untuk meninggal dibantu oleh dokter. Sang ayah didiagnosis menderita multiple sclerosis, tidak lama setelah orangtua Graham bercerai.

Di ingatan Graham, ayahnya adalah pribadi yang sangat mandiri, berkemauan keras, dan mampu menghadapi tantangan secara langsung. Ia meneliti penyakitnya sendiri, menyesuaikan pola makan, dan olahraganya, terlibat dalam komunitas MS (multiple sclerosis), dan ada momen di mana ia menjabat sebagai presiden MS Society bagian Southeastern Colorado.

Terlepas dari berbagai upaya di atas, penyakit MS perlahan-lahan menghancurkan kemampuan fisiknya, sang ayah mulai membutuhkan tongkat untuk berjalan. Penyakit dan stigma tentang MS tidak hanya mencuri mata pencaharian sang ayah, namun juga merampas hobi, menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, dan yang paling buruk adalah merenggut kemampuan mengemudinya.

Sampai di titik sang ayah benar-benar merasa sendirian, pasangannya pergi, rekan bisnis yang juga teman dekatnya menjadi lebih jarang untuk bisa dihubungi, dan anak bungsunya pindah. Musim panas sebelum Graham mulai kuliah, sang ayah bersikeras pergi ke Yellowstone bersamanya, adik perempuannya Erika, dan kakak tiri perempuannya Michelle untuk mengembangkan hubungan di antara ketiga anak tersebut sebelum dirinya meninggal.

 

 

Sang ayah terbaring di rumah sakit dengan infeksi yang menumpuk dan tidak bisa disembuhkan

Selama kuliah, Graham rutin mengunjungi ayahnya dengan melakukan perjalanan selama 2 jam. Namun, setelah pindah kuliah ke Boston, ia menjadi lebih jarang pulang kerumahnya dan mendapati penurunan fisik sang ayah yang terlihat selama beberapa bulan.

Secara berkala, sang ayah bolak balik antara rumah dan rumah sakit, karena menderita infeksi kandung kemih. Sampai pada akhirnya, sang ayah terbaring di rumah sakit dengan infeksi yang menumpuk dan antibiotik tidak lagi efektif.

Saat Graham akhirnya menerima telepon tentang keputusan sang ayah, Graham bergumul dengan keputusan tersebut, berusaha menempatkan dirinya di posisi sang ayah. Graham menerima keputusan tersebut, menyadari bahwa ia sendiri tidak bisa memberi alasan agar ayahnya tetap hidup.

Prosesnya adalah membawa sang ayah dari Colorado ke Michigan, tempat tinggal Dr. Jack Kevorkian. Graham dan saudara perempuannya ingin menemani saat-saat terakhir sang ayah, namun tidak mendapat izin.

Tahun itu adalah tahun paling aktif bagi Dr. Jack Kevorkian. Setelah membantu 27 orang dari tahun 1990 sampai 1995 dan 19 orang di tahun 1996, jumlah resminya mencapai 29 orang di tahun 1997.

Keputusan sang ayah untuk melakukan eutanasia

Ayah Graham memberitahu anak-anaknya, tapi tidak dengan saudara dan orangtuanya sendiri, karena ia yakin tidak akan mendapat dukungan atas keputusannya. Sang ayah memutuskan mengakhiri hidupnya pada 29 Agustus, tepat di ulang tahunnya yang ke 56.

Beberapa hari berikutnya, nama ayah dan gambar motel tempat kematiannya disiarkan secara berulang di saluran berita utama selama 24 jam, sampai berita tentang kematian Putri Diana menggantikannya. Kakek nenek Graham masih tetap tidak bisa memahami keputusan yang diambil oleh anak mereka, pertanyaan mengapa tidak ada yang memberitahu anggota keluarga yang lain.

Kematian ayah Graham adalah yang kedua yang diakui oleh Dr. Jack Kevorkian setelah adanya perintah penghentian praktik yang dikeluarkan oleh negara. Selama hampir 1 dekade, Dr. Jack Kevorkian secara resmi dipastikan telah membantu hampir 100 kematian.

Bukan kebetulan jika penggunaan kata eutanasia di Google mencapai puncaknya pada tahun 1999. Undang-undang “Death with Dignity” pertama kali disahkan Amerika Serikat di Oregon pada tahun 1994 dan penggunaannya telah meningkat hampir setiap tahun.

Pada tahun 2019, ada 188 orang yang sebagian besar lansia penderita kanker meninggal di Oregon dengan menelan obat yang diresepkan. Menurut Graham, stigma sosial seharusnya tidak menghalangi suapapun untuk mengejar kehidupan yang mampu, pada tingkat tertentu yang dapat mereka terima.

#ChangeMaker

;
Loading