Sukses

Lifestyle

Mengakhiri Pernikahan tanpa Cinta, Ada yang Disesali Terkait Pasal Pisah Harta

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: D

Masalah keuangan tidak kusangka membuat proses perceraianku rumit. Kupikir dengan perjanjian di awal pernikahan bahwa kita menjalani pernikahan apa adanya, cukup memuluskan jalan ketika akhirnya kami memutuskan berpisah. Ternyata hal itu tidak cukup. Ada saja masalah yang harus kami hadapi, dan kali ini masalah uang.

Ya, kami menikah tanpa cinta dan memutuskan mengakhirinya karena bertahan di pernikahan tanpa cinta itu tidak mudah. Awal Agustus kemarin kami memutuskan mendaftarkan perceraian kami, dengan alasan tidak ada kecocokan. Sepele ya? Kupikir semua akan mudah dan baik-baik saja, ternyata?

Kami tersandung dengan harta gono-gini, belum lagi ikut campurnya orangtua. Dalam proses perceraian ini kami sudah sepakat untuk membagi 'harta' selama pernikahan kami sama rata. Tapi mertua tidak rela, karena merasa anaknya lebih banyak bekerja dibanding aku. Miris, kenyataannya barang yang kupakai adalah hasil kerja kerasku sendiri bukan pemberian suami.

Pentingnya Perjanjian Pisah Harta

Yang kusesali bersama mantan suami adalah kami tidak memasukkan pasal pisah harta di perjanjian pernikahan. Seandainya saja sejak awal kami menuliskan pasal pisah harta, mungkin proses perceraian ini akan lebih mudah. Aku mungkin bisa berteriak lebih lantang bahawa apa yang kudapatkan sekarang memang murni dari usahaku. Meskipun mantan suami selalu membelaku rasanya tetap saja harga diriku diinjak-injak.

Perempuan macam apa yang tidak bisa melahirkan anak, menuntut cerai dan malah minta pembagian harta sama rata ke mantan suami. Apa perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan saat kegagalan satu rumah tangga? Seakan perempuan menikah hanya untuk uang saja.

Tidak terbayangkan jika aku tidak bekerja, hinaan seperti apalagi yang akan aku terima? Uang memang bukan segalanya, namun kadang uang bisa membuat rumit segalanya. Bahkan saat aku memutuskan membuatnya menjadi lebih sederhana. Bahkan bercerai pun disangka demi uang.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Kontroversi Pasutri Sewa Burj Khalifa Rp1,4 Miliar Demi Umumkan Jenis Kelamin Bayi
Artikel Selanjutnya
Bagai Sinetron, Jadi Ibu Tunggal yang Tangguh setelah Pernikahan Cuma Bertahan 15 Bulan