Sukses

Lifestyle

Ibu Mertua Tak Menyebutku sebagai Menantu, tapi Anak Perempuannya Sendiri

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Nanik Prasasti

Beliau bukan sosok ibu yang melahirkan saya tapi saya sangat menyayanginya. Beliau adalah ibu mertua hebat yang telah melahirkan suami hebat pula.

Hidup bersama sekitar 7 tahun, dalam satu atap dengan sosok yang biasa disebut ibu mertua dan tidak sedikit yang menjadikan hal tersebut sebagai momok tersendiri. Tapi, berbeda dengan saya, justru saya belajar banyak hal dari beliau, terutama tentang arti kasih sayang dan cara mengungkapkannya. Bukan bermaksud membandingkan dengan ibu kandung karena setiap ibu pasti memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan kasihnya dan saya menyukai cara ibu mertua.

Beliau memiliki kesabaran yang luar biasa. Awal pernikahan tentu saja saya perlu banyak beradaptasi, maklum saya sendiri adalah anak bungsu dalam keluarga dan perempuan satu-satunya. Keseharian di rumah cenderung di manja, tetapi karena saya menikahi anak pertama dari keluarga suami secara otomatis saya harus bertanggung jawab lebih, terlebih lagi memiliki 3 adik ipar sekaligus.

Ibu Mertua yang Baik dan Sabar

Dengan kesabaran dan tutur kata beliau yang lembut mampu merubah saya menjadi sosok yang lebih kuat dan tidak manja. Misalnya, kebiasaan awal menikah saya adalah bangun siang, tidak bisa masak bisanya cuma menyapu saja, terbawalah sampai masa awal pernikahan, bukannya marah atau melirik tajam bagai silet justru beliau tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, beliau menasihati sambil duduk santai dan membaca bahwasanya suasana hati saya lagi baik sehingga setiap nasihat bisa saya terima.

Beliau yang hampir selalu memperlakukan saya sebagai anak perempuannya sendiri membuat saya sangat segan, bahkan selalu ingin memberikan lebih. Saat saya sakit, tidak jarang minuman hangat serta pijatan lembut di berikan dengan tulus.

Ketika teman-teman bercerita mengenai sulitnya menghadapi ibu mertua, saya langsung bersyukur dengan keadaan saat ini. Beliau sosok luar biasa baik, perhatian serta jarang ikut campur urusan rumah tangga kami meskipun saat ini masih satu atap.

Anak perempuan kandungnya ada dua, menantu perempuannya ada dua tapi saat menyebutkan jumlah anak perempuan beliau selalu menyebut, “Anak perempuan saya ada empat.”

#ChangeMaker

;
Loading