Sukses

Lifestyle

Mengukir Senyum untuk Mama Mertua yang Berhati Mulia

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Damar

Air wudhu selalu membasahimu,

Ayat suci slalu dikumandangkan,

Suara lembut penuh keluh dan kesah, 

Berdoa untuk putra putrinya...

Potongan lirik lagu Sakha itu selalu terngiang saat kubayangkan sosok mama, sosok ibu yang kudapatkan setelah menikah dengan suamiku. Sebelum menikah hanya dua kali saja aku berjumpa dengannya karena kami bekerja merantau ke luar Jawa. Malu-malu aku bertanya bagaimana aku harus memanggilnya setelah acara pernikahan, "Panggil saja mama, sama seperti Mas (putranya yang menjadi suamiku)," begitu jawabnya. Begitulah awal mula pertama kali aku memanggil orang dengan sebutan "mama". Awalnya terasa begitu kaku, tapi lama-lama aku menjadi terbiasa juga.

Hubungan kami mungkin sama seperti menantu dan mertua pada umumnya, anaknyalah yang menjadi perantara di antara kami berdua. Namun setelah aku dikaruniai anak pertama kami menjadi lebih dekat. Awalnya aku mencurigai ada yang berbeda dari anakku dibanding anak lain seusianya. Mamalah tempatku menceritakan kegalauanku. Karena tidak ada dokter anak spesialis tumbuh kembang di rantau, kami meminta bantuan mama untuk mencarikan dokter dan berencana memeriksakan anakku saat mudik lebaran. 

Entah bagaimana rasanya kala itu, mendengar diagnosa kalau anak pertamaku dilabeli "anak berkebutuhan khusus" dan harus menjalani terapi yang entah sampai kapan. Sedih sudah pasti, belum lagi bingung di mana harus mencari tempat terapi di rantau sedangkan dokter anak saja tidak ada di sana. Tapi mama kuat, cucu pertama kesayangannya diminta untuk tinggal di Surabaya saja bersamanya, mama bilang mama yang akan mengantar terapi setiap hari. Mama yang selalu menguatkan aku, mengurangi rasa rinduku pada anakku. Tiada hari yang terlewat tanpa foto dan video sehari-hari putri kecilku. Mama juga selalu bersemangat menceritakan sekecil apapun kemajuan terapinya.

Mama yang masih kuat setiap hari berjuang mengantar cucunya terapi naik sepeda motor sendiri, walau panas berpeluh-peluh. Mama yang keliling-keliling "shopping dokter" untuk cari 2nd 3rd 4th opinion atas diagnosa putriku, mencari info ke sana ke mari mana treatment yang terbaik untuknya dan menceritakan detailnya pada kami agar kami bisa memutuskan mana yang akan kami ambil.

 

Berutang Budi pada Mama

Tak terhitung berapa utang budi yang harus kubayar untuk mama. Setelah dua tahun menitipkan putriku pada mama, akhirnya pengajuan pindahku dan suami disetujui. Akhirnya kami bisa berkumpul kembali. Senang melihat mama yang tampak sangat bahagia sekali saat kepindahan kami.

Belum lama kebersamaan kami, pandemi Covid-19 terjadi. Di tengah keadaanku yang sedang berbadan dua, aku dan suami pun dinyatakan positif Covid-19 dari hasil swab dan harus menjalani karantina. Lagi-lagi kami harus merepotkan mama. Kami menitipkan lagi putri kecil kami kepada mama dan harus menjalani karantina selama satu bulan sampai akhirnya dinyatakan negatif dari Covid-19. 

Di Hari Ibu ini, ingin kusampaikan berjuta rasa terima kasihku untuk mama, ibu yang kudapatkan saat aku bertumbuh menjadi ibu. Terima kasih karena mama telah melahirkan dan membesarkan laki-laki yang penuh kasih sayang seperti mama. Terima kasih mama selalu sabar dan menguatkan kami. Kami berjanji akan selalu berusaha mengukir senyuman di wajah mama. Terima kasih, Ma.

#ChangeMaker

;
Loading