Sukses

Lifestyle

Eksklusif Tina Andrean, Iseng Gambar Berujung ke Designer Ternama

Fimela.com, Jakarta Selain mengikuti kelas dan pendidikan khusus untuk membuat pakaian khususnya dress making, Tina Andrean rupanya memiliki hobi menggambar. Berawal dari keisengannya ketika duduk di bangku SMA, ketika Tina kurang menyukai pelajaran yang berlangsung, tangan terampilnya mulai sibuk menggambar sebuah pola pakaian. Dengan mengandalkan buku kecil yang Ia bawa kemana-mana, semua design pakaian yang dibuat Tina kini menjadi hasil nyata.

Selain hobi menggambar, sosok Ibu rupanya menjadi salah satu influece besar bagi hidup dan karirnya sekarang. Dengan bermodalnya mesin jahit yang diberikan oleh sang Ibu, sejak kecil pun Tina pun sudah pandai membuat baju rancangan sendiri. Mengenyam pendidikan tentang fashion dari negara ke negara lain, rupanya membuat Tina semakin mantap mengepakkan sayap di dunia designer. Bukan hanya itu, istri dari pengusaha Johnny Andrean ini pun dikenal sebagai designer baju pengantin dengan look yang mewah dan elegant.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Karena rasa keingin tahuan Tina yang besar, bukan hanya pakaian pengantin saja yang bisa Ia buat dengan sebegitu bagusnya, kini Tina juga mengambil alih dalam pembuatan batik culture yang tidak kalah bagus dan elegant. Beda dengan designer kebanyakan, Tina menyuguhkan sentuhan batik dengan gaya modern dan bisa dipakai diberbagai acara. Selain itu, semua batik yang Ia buat, bisa dipakai lebih dari satu kali pemakaian.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Pernah menjalani pekerjaan sebagai makeup artist dan stylish nampaknya membuat Tina menjadi semakin mantap di bidang kecantikan dan designer ini. Bukan hanya bekerja trampil yang Ia tonjolkan, melainkan kerja smart menjadi poin paling penting. Di kesempatan kali ini, Bintang.com berhasil mengulik kisah Tina Andrean sebagai desainer ternama yang memulai debut karirnya menjadi makeup artist sekaligus perias pengantin. Berikut hasil wawancara dengan Bintang.com selengkapnya. 

Perjalanan menjadi designer

Awal mula meniti karir hingga menjadi designer?

Tahun 1981, sejak aku bersama Pak Johnny Andrean, waktu itu aku belum menikah. Pada saat itu aku sudah di fashion selama 35 tahun sampai sekarang. Aku belajar di Singapore untuk dress making dan desaining-nya. Setelah itu aku perdalam lagi di Italy, trus habis itu saya perbanyak belajar lagi di Europe. Makanya, style baju pengantin yang saya buat, lebih ke arah Europe.

Sekolah khusus dan detailnya?

Sekolah khusus dress making sama fashion design si Singapore pada tahun 1979.

Mengapa memilih menjadi designer?

Dasarnya begini, lagi sekolah ketika saya highschool, waktu lagi senggang atau pelajarannya kurang interest, aku tuh suka gambar. Jadi ada buku kecil, nah aku sering gambar di situ, sepertinya itu jadi my heritage yang berharga banget. Setelah aku drawing dan ketahuan sama guru bahasa Jerman, diambillah buku aku dan ambilnya pun harus ke rumahnya.

Setelah lulus SMA, aku mau ambil design, khususnya dress making, karena basicnya Ibuku tukang jahit. Aku pun akhirnya mempunyai mesin jahit sendiri. Nah, mulai dari sekolah, sudah banyak acara pesta ulang tahun, aku mulai gunting-gunting sendiri, pergi ke pasar beli bahan, gunting, lalu malemnya sudah pakai baju baru, walaupun masih simpel potongannya. Jadi, itu berawal dari hobi, dan ada influece juga dari ibu menurun ke aku, sehingga aku mencintai mesin jahit dan pakaian.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Setiap pakaian yang dibuat, terinspirasi dari?

Kalau inspirasi sih banyak ya, terutama aku update terus kalau lihat majalah-majalah fashion yang dari luar negeri. Aku juga browsing, dan aku pun juga pergi sendiri ke sana. Kadang-kadang tuh aku ngambil inspirasi dari pakaian-pakaian kuno. Kalau lagi ada acara presentasi tentang kerjaan apa pun itu, aku pasti langsung ke sana.

Melihat baju-baju yang diperlihatnya seakan menjadi inspirasi ingin membuat seperti itu juga tapi dibuat lebih modern. Pada dasarnya, semua inspirasi aku ambil dari semua negara, karena dari Jepang pun aku ada mengambil style kimono. Jadi, setelah itu aku adaptasi, kemudian aku tes di market, tes kepada aku sendiri juga untuk menentukan maunya costumer.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Menentukan temanya sendiri?

Biasanya aku ambil garis besarnya dulu, aku ambil ke arah romance atau ke arah yang ultra elegant dan kemudian diambil lagi dari berbagai bangsa.

Satu pakaian bisa dibuat berapa lama?

Kalau menjahitnya sendiri dan membuat pola sebetulnya tidak terlalu lama, tetapi dalam menentukan finishing itu akan jauh lebih lama.

Ketertarikan dengan batik

Ciri khas design pakaian Tina Andrean?

Yang menggambarkan aku banget tuh, baju Tina Andrean sangat mudah dipakai dan di mix and match, biasanya dalam bentuk jaket dan sexy dress semua sangat wearable. Kita pun bisa pakai terus menerus nggak cuma satu kali pakai. Itu yang membedakan pakaian buatanku.

Adakah Estimasi usia khusus di setiap pakaian?

Nggak sih, aku tuh open market banget. Ada mulai dari usia teenagers sampai ke arah mature. Aku juga mewakili ibu-ibu muslim untuk membuat baju panjang. Aku mewakili bukan hanya satu ras, tapi semua.

Kesulitan selama pembuatan pakaian?

Mencari batik. Untuk mendapatkan batik di tahun 2017, aku harus nunggu setahun dan aku hanya boleh buat 2 nggak boleh lebih.

Mengapa tertarik dengan batik?

Aku melihat untuk effort dari sebuah batik itu luar biasa, semakin mendalami, aku semalin kagum. Betapa sabarnya orang-orang yang membatik dengan hati. Kalau nggak pakai hati, itu batik pasti miring-miring berantakan nggak ngikutin pola. Kalau dia mengerjakannya tekun, semua pola akan rata, setiap titiknya pun halus, itu yang ngebuat aku tertarik banget dan membuat aku semakin jatuh cinta terhadap batik.

Aku ngelihat batik tuh kaya banget, aku masih belum merambah ke seluruh Indonesia, aku baru fokus pada batik Solo, Pekalongan, Betawi dan Cirebon. Tapi aku percaya masih ada batik yang cantik lainnya seperti, batik Madura dan masih banyak lagi. Aku pun tekun di sini dulu, untuk menentukan pola market.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Mensiasati anak zaman sekarang agar cinta sama batik?

Aku harus menciptakan baju-baju yang cute, supaya mereka bisa pakai plus jatuh cinta. If I want to do something, I have to be mastering. Kita kalau bikin sesuatu jangan setengah-setangah, harus total. Jangan sampai kita nggak tahu apa yang kita buat.

Range harga dari setiap pakaian Tina Andrean?

Karena aku nggak mau ngagetin orang, jadi aku start di atas harga Rp 5 Juta up to Rp 20 juta. Semua juga tergantung luxury.

Pencucian khusus dari setiap pakaian?

Ini semua pakai dry clean. Lebih baik dry clean, karena meskipun pergi ke laundry harus diminta tolong banget agar baju nggak luntur.

Tina Andrean. (Foto by Deki Prayoga Bintang.com/ Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri Bintang.com).

Apakah ada latihan khusus kepada masyarakat yang ingin menjadi designer?

Aku belum bikin pelatihan, tetapi aku sudah mengkontribusikan dalam ide, di aplikasi kreasi dan banyak yang lihat. Walaupun saya tidak memberikan pelatihan, namun banyak juga orang-orang yang melihat koleksi aku dan akhirnya memberikan inspirasi. Sebenarnya, tugas seorang designer itu memberikan inspirasi bagi lingkungannya.

Cara mempertahankan eksistensi karya Tina Andrean dari para designer lain?

Ciri khas dan kepribadian lah yang tidak bisa diikuti oleh orang lain. Karena setiap designer itu kan punya motto sendiri, kalau aku kan sudah tau, targetku siapa dan marketku siapa. Jadi, setiap pakaian ready to wear aku, selalu dibeli orang.

Berkhayal sedikit, bila di dunia ini tidak ada pekerjaan sebagai designer, Tina Andrean mau jadi apa?

Karena dulu aku juga bekerja menjadi stylish dan makeup artist. Mungkin aku akan jadi makeup artist kali ya, karena dulu aku juga makeup pengantin. Ini kalau tidak ada pekerjaan menjadi designer lho ya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading