Sukses

Lifestyle

Eksklusif, Fahd Pahdepie Anggap Karya Sebagai Kartu Nama

Fimela.com, Jakarta Ketika kebanyakan orang semata menganggap karya sebagai output dari kompleksitas buah pikiran, serta curahan tenaga, waktu dan uang, Fahd Pahdepie malah punya asumsi berbeda. Lelaki yang sempat mengenyam pendidikan di Yogyakarta itu malah mempersepsikan deretan karyanya sebagai kartu nama.

***

Fahd menganggap pekerjaan-pekerjaan yang telah diselesaikannya sebagai kartu nama, yakni gambaran cara berpikir, berbahasa dan membingkai suatu permasalahan. Mengingat fakta tersebut, wajar bila asumsi yang terbentuk adalah Fadh berkarya dengan sepenuh dan setulus hati.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Meski lebih dikenal lewat tulisan, lelaki kelahiran Cianjur, 30 tahun silam ini tak bisa dengan mudah dideskripsikan sebagai penulis. Pasalnya selain merangkai aksara untuk berkomunikasi, ia masih punya peran di dunia entrepreneur.

Menjalani peran yang demikian banyak, menebak sosok dan pribadi Fahd tidaklah mudah. Namun dari sekian banyak 'baju' yang dikenakan, Fahd sebenarnya punya passion sederhana. Cabang jalan yang dibuat begitu banyak olehnya semata karena Fahd suka bertemu banyak orang.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

"Jadi dengan berkarya, saya punya kartu nama. Dengan pemikiran yang begini, perasaannya begini, isinya begini," ujar Fahd dengan logat Sunda yang masih lumayan kental di Jakarta, Senin (13/3).

Bukan hanya menjadikan jembatan yang mungkin malah jadi goal bagi kebanyakan orang, Fahd masih punya banyak kisah menarik untuk ditelisik. Pesan-pesan lelaki berkacamata ini boleh saja membuat tersadar akan ragam hal yang selama ini diacuhkan. Bertandang ke kantor Bintang.com di Menteng Jakarta Pusat, berikut kutipan wawancara dengan keterangan-keterangan mengejutkan bersama Fahd Pahdepie

Mencetak Kartu Nama Lewat Karya

Dikenal hanya sebagai penulis, siapa sangka Fahd Pahdepie ternyata tak memiliki passion menulis. Baginya, menulis adalah alat untuk memenuhi keinginan-keinginan terdalamnya. Karena itu, sosok lelaki yang pernah bersekolah di Australia ini jadi menarik untuk ditelisik.

Siapa sih Fahd Pahdepie?

Saya lelaki Sunda, lahir di Cianjur, besar di Bandung tapi sekolah di Garut. Selepas itu, saya berkelana ke Yogyakarta dan sekarang di Jakarta. Sebelumnya juga sempat sekolah dua tahun di Australia.

Bagaimana akhirnya jadi penulis?

Sebetulnya, menulis itu cuma hobi di waktu senggang. Nggak ada kepikiran untuk menjadikannya pekerjaan utama. Jadi pas ada waktu senggang, ya nulis.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Banyak penulis, seperti Cassandra Clare, yang berpindah dan tulisannya terpengaruh dari tempat-tempat yang sudah didatangi. Apakah Fahd juga begitu?

Iya banget. Jadi aku kan orang yang dari kecil selalu berpindah. Nggak pernah menetap. Bahkan sampai sekarang, banyak orang yang bertanya, 'profesinya jadi apa sih?'. Saya memang nggak settle. Maunya selalu berubah. Maunya selalu cari hal baru. Tapi sekarang udah nyaman dengan dua profesi. Pengarang dan entrepreneur. Saya dulu sempat kerja tapi ternyata nggak betah di dunia kerja, jadi resign.

Dari sekian banyak 'profesi' yang pernah dan masih dijalani, jadi passion-nya apa?

Passion-nya dinamis. Passion-nya pengin ketemu banyak orang dengan latar belakang berbeda. Senang ngobrol, senang bercerita, senang mendengar orang juga. Kayanya kalau mau melakukan sesuatu harus ada sisi itunya. Sekarang jadi apapun, kalau nggak begitu, nggak betah. Kenapa betah nulis, karena itu media untuk ketemu banyak orang.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Bergelut di dunia tulis-menulis tentu perlu kreativitas dalam prosesnya. Nggak mudah pasti. Jadi, menciptakan kreativitas itu sendiri gimana?

Saya menyebut kreativitas yang dalam hal ini berupa buku adalah kartu nama. Tapi kan orang nggak puas. Nantinya harus bertanya atau berdiskusi. Mesti ketemu. Jadi, saya memperlakukan karya kreatif dengan cara begitu. Kalau sudah menjadikan karya sebagai cara berkenalan, kreativitas itu nggak susah dimunculin. Karena itu merupakan bagian, sekaligus identitas diri.

Identitas kan nggak terbentuk begitu saja, pasti ada panutan dan pakem-pakem sendiri. Buat Fahd, siapa sosok yang ditempatkan di posisi tersebut?

Kalau penulis lagi, ada Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dulu dia nulis essay, buku, cerpen, nulis di koran di majalah. Tapi kalau ditanya dia penulis apa bukan, jawabnya juga bukan. Karena dia juga mendamaikan orang berkonflik, dia ini aktivis juga, dia ini bergaul di dunia politik juga. Saya mungkin terinspirasi sepak terjang beliau. Dia ngasih sudut pandang baru, dia ngasih solusi. Kalau nulis bisa bantu orang lain, mungkin itu alasan saya mau nulis.

 

Fiksi Lintas Media

Tak membatasi diri, karya-karya Fahd merupakan interpretasi dan penggabungan dari berbagai unsur yang menarik atensinya. Karenanya, tak heran jika terdapat banyak istilah dan konsep berbeda yang muncul. Wajar bila akhirnya banyak orang bertanya-tanya tentang buah pikiran unik tersebut.

Fiksi lintas media itu apa?

Karena berkarya nggak membatasi diri, menulis itu hanya cara menurut saya. Beberapa tahun lalu, saya punya ide, kayanya orang ada yang nggak suka baca, baru baca dua-tiga halaman sudah ngantuk. Tapi bacaan itu tetap penting. Hanya dengan tulisan, kita punya ruang untuk menyampaikan banyak hal.

Di sisi lain, orang senang dengerin musik, tapi ruang musik menyampaikan berbagai hal itu terbatas. Ya kalo lagu kan cuma 3 menit 5 menit, tapi orang senang dengerin, liriknya dihapal. Okay berarti ada kelemahan ada kelebihan. Terus ada orang yang lebih ngena nonton, ketimbang baca dan mendengarkan.

Jadi kepikiran buat gabungin ketiganya. Beda dengan film ya. Kalau film kan orang nonton, ada percakapannya, ada ilustrasi musiknya. Tapi ini orang nonton tapi baca. Jadi medianya video, ada banyak teks, sambil baca itu ada musiknya juga. Orang sambil baca, sambil nonton, sambil dengerin musik.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Jadi peran musiknya apa?

Memberi nuansa pada si bacaan. Memberikan penekanan. Kadang juga ada lirik yang dinyanyikan pada bagian-bagian tertentu. Itu enam tahun yang lalu. Sempat dapat apresiasi, sampai diundang ke Singapura dan presentasi di sana. Sampai juga ada yang mengulas di media massa. Tapi kami belum melanjutkan.

Kalau dikombinasikan dunia sastra dan musik ini bisa tukaran panggung. Jadi para pegiat sastra dapat audience, pemusik memperoleh apresiasi secara intelektual. Banyak orang yang melihat profesi dari permukaannya saja. Siapa tahu profesi itu hanya cara untuk memenuhi passion. Misalnya ada orang jadi barista.

Profesinya barista, bikin kopi dan segala macamnya. Handal banget. Tapi dia memilih profesi itu karena suka mendengarkan cerita orang, memberi solusi. Kalau begitu, harusnya kan dia jadi psikolog. Tapi nggak semua orang bisa langsung dikotak-kotak.

Semangat apa yang mau disampaikan dari sekian banyak karya?

Pertama, ada banyak hal luar biasa dari hal sederhana di sekeliling kita. Kedua, kita ini sering gagal melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Itu yang bikin kita banyak masalah. Kita gagal melihat inspirasi ada di sekeliling kita. Nah saya nulis hal-hal sederhana.

Dari dulu sampai sekarang, tema tulisan saya nggak ada yang jauh. Pasti sederhana. Tapi ada hal lain yang mesti kita lihat dari sesuatu yang sederhana ini. Karya-karya saya ini mengajak orang untuk melihat ke dalam diri. Romantis itu bukan cerita yang gimana-gimana, tapi kejadian sederhana yang diberi makna. Seandainya kita bisa memberi makna dari banyak kejadian, hidup kita juga akan jadi romance.

Eksklusif Fahd Pahdepie. (Foto: Adrian Putra/Bintang.com Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Bintang.com)

Sudah punya banyak buku, mana yang paling susah membuatnya, mana yang paling disuka?

Yang paling disuka Angan Senja Senyum Pagi. Karena ini pendekatannya berbeda. Saya nggak ingin kelihatan pintar atau wise. Ini betul-betul bercerita apa adanya. Saya nggak terbebani dengan ego mau terlihat pintar dan bijak.

Kalau yang paling susah itu Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan. Perjalanan janin dari 0 minggu sampai lahir. Itu susah karena memakai sudut pandang orang kedua, pembaca adalah tokoh utama. Perlu riset yang lumayan. Dari nanya sampai baca, semua dilakuin.

Kalau ada pembaca baru yang mau kenalan sama Fahd, buku apa yang bakal direkomendasiin?

Angan Senja Senyum Pagi. Supaya bisa menangkap cara saya berbahasa, cara saya menyampaikan cerita. Bisa juga dengan membaca Perjalanan Rasa.

Planning 5 tahun ke depan?

Saya mau buat film. Entah ceritanya dari yang mana. Saya pikir film adalah pencapaian tertinggi dari para kreator. Semua ngumpul. Saya juga belum pernah mencoba layar lebar. Tapi tetap mau fokus ke novel dan romance.

Dengan ide-ide segar, Fahd Pahdepie memelihara dan tetap menjembatani diri dengan passion-nya. Tak eksplisit memang, namun toh alat-alat yang digunakan bisa mewujudkan kesenangannya. Jadi kiranya, janganlah cepat menebak sosok seseorang karena manusia adalah gulungan misteri tiada bertepi.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading