Sukses

Lifestyle

Raden Sirait, Cintanya Memeluk Kehidupan

Vemale.com - Lima belas tahun di dunia rancang busana dilaluinya secara otodidak. Raden Sirait, putra kebanggaan dari Porsea Sumatera Utara, mengatakan bahwa love and success never come easy to him. Ia kemudian akan bertutur dengan sangat runut mengenai liku-liku kehidupannya, mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris - tanpa menyembunyikan logat Batak - dalam menyampaikan ceritanya. Jika mengenang perjuangannya untuk keluar dari segenap keterbatasan keluarga, lingkungan, pendidikan dan kesempatan, air mata Raden selalu mengembang di pelupuk matanya. Betapa ia ingin menjadi seseorang yang berhasil dan dikenang sepanjang hayat oleh dunia. Menyelesaikan sepanjang masa sekolah selalu sebagai juara kelas dan meraih gelarnya dari Institut Pertanian Bogor Jurusan Agribisnis dengan cemerlang, Raden tidak dapat menutupi rasa bangga bahwa ia yang terlahir dari orang tua yang buta huruf dan kurang mampu, dapat mengenyam begitu banyak ilmu. Latar belakang inilah yang membentuk Raden menjadi seorang pribadi yang menghayati falsafah kehidupan secara mendalam namun ’terpaksa’ berperan sebagai salah satu mesin penggerak industri kapitalis saat bekerja sebagai Marketing Manager di sebuah bank terkemuka Indonesia sejak tahun 1993-2001. Meski berhasil dalam karir perbankan-nya, Raden sangat mengerti bahwa bukan itu yang ia mau. Ia pun terus berusaha mengasah intuisi akan panggilan hatinya dan mengerahkan talenta yang ia punya di bidang pemasaran. Sekali lagi, meski cukup sukses mengembangkan usaha mandiri pemasaran berjenjang hingga ke tingkat dunia, Raden belum menemukan pelabuhan hidupnya. Bahkan ia pun pernah mencoba mendirikan perusahaan jasa pariwisata, namun tak pernah sekali pun berhasil mengusir minatnya pada dunia rancang busana. Sebagai seorang yang sangat percaya pada ’bisikan alam’, Raden akhirnya menetapkan hatinya sebagai seorang perancang mode dan pecinta seni budaya meski tak berbekal keterampilan dan pengalaman secuil pun. Mottonya sederhana tetapi tanpa ragu; Be, Do, Have; jadilah seorang perancang, lakukanlah apa yang seharusnya diperbuat oleh seorang perancang dan yakinlah akan mendapatkan yang diinginkan. Raden tidak butuh waktu lama untuk memantapkan diri di antara jajaran perancang fashion terkemuka Indonesia dan hingga kini telah menciptakan kurang lebih 15 ribu potong karya busana selama 15 tahun masa berkaryanya, dan tidak kurang dari 5 ribu disain kebaya selama 5 tahun. Raden fokus membesarkan Luire Boutique – brand ciptaannya – dengan 3 lines busana utama; gaun malam, kebaya dan batik. Semakin ia menghayati karyanya, semakin ia mengerti intisari dari semua yang ia lakukan. ”Semua yang saya jalani di bidang ini, merupakan pengejawantahan cinta dan dilakukan dengan penuh cinta.”, ujarnya. Lima tahun terakhir Raden mengonsentrasikan dirinya pada Kebaya, warisan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya. Kontemplasinya yang mendalam akan cinta dan perjuangan hidupnya kemudian melahirkan tema yang ia usung seumur hidup; Kebaya for The World. Raden mengatakan, ”Saya mungkin hanya punya kesempatan yang kecil untuk bersaing dengan perancang-perancang dunia dalam pembuatan gaun malam, tapi mari kita rebut perhatian dunia melalui Kebaya.” Tekadnya adalah untuk mempopulerkan Kebaya di tingkat dunia dan digunakan oleh para trendsetter internasional. Ia terkenal berani memadupadankan kebaya dengan berbagai jenis kain seperti beludru, tenun, ulos, batik, renda dengan potongan-potongan unik pada leher, lengan dan pinggul. Meski demikian, ia tetap menjaga harmoni dan style. ”Saya ingin pengguna Kebaya rancangan saya menjadi Ratu atau Dewi Bidadari yang memukau”, katanya. Raden juga memiliki tiga ciri khas yang melekat pada setiap Kebaya rancangannya; warna-warnanya yang sangat dinamis – jika tidak bisa disebut provokatif – dan sangat naif dalam mengadopsi warna dasar alam merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu (mejikuhibiniu); desainnya yang ’memeluk tubuh’ pemakainya dan potongannya yang selalu asimetris; serta pembuatannya yang didasari filosofi utuh. ”Saya dapat menguraikan hikmah di balik sebuah rancangan. Kebaya seorang pengantin misalnya; bahan tule kosong saya umpamakan seperti kepolosan seorang calon pengantin wanita; brokat-brokat yang menempel di atasnya adalah kharisma sang calon pengantin pria yang diikat erat dengan benang cinta; sedangkan manik, payet atau berlian swarovsky yang bertaburan adalah kerikil-kerikil kehidupan yang mungkin dihadapi”, jelasnya panjang lebar, ”Jangan cepat putus asa dalam menjalani biduk perkawinan. Seperti halnya fitting dan penyempurnaan sebuah rancangan pakaian, cinta kedua insan juga selalu bisa dijahit dan diperbaiki kembali.” (prl/miw)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    Loading