Sukses

Lifestyle

Kisah Haru Pelukan Umay untuk Bu Risma Walikota Surabaya

Sosok ibu memang tak selalu wanita yang memiliki ikatan darah langsung dengan kita. Bisa saja ia adalah seseorang yang begitu kita kagumi atau orang yang terlihat sangat perhatian dengan kita. Dan sosok seperti Ibu Tri Risma Harini yang kini masih menjabat sebagai Walikota Surabaya adalah salah satu sosok keibuan yang sangat dikagumi oleh banyak orang, termasuk seorang anak bernama Umay.

Foto: copyright Farida Hardaningrum

Sebuah kisah mengharukan ditulis oleh Farida Hardaningrum. Kisah ini ditulis berdasarkan pengalamannya melihat seorang anak bernama Umay yang begitu histeris karena belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada "Ibunya". Meskipun tak memiliki ikatan darah langsung, sang "Ibu" tampaknya sudah menempati relung hati terdalam Umay. Hingga tak lama kemudian, "Ibu" itu benar-benar kembali untuk berpelukan dengan Umay. Kisah selengkapnya bisa langsung Anda baca di sini.

Foto: copyright Farida Hardaningrum

Hari ini saya mendapat pengalaman yang sangat mengesankan. Mengikuti acara Penganugerahan Pendamping terbaik bagi para mahasiswa di Surabaya yang telah sukses membina adik-adik asuh untuk kembali bersekolah.

Acara berlangsung meriah. Anak-anak jalanan yang telah berubah menjadi pelajar tampil di panggung. Prestasi mereka beragam. Ada yang juara menyanyi, berprestasi di sekolah, hingga meraih medali perak tingkat nasional untuk balap sepeda. Walikota Surabaya, Ibu Tri Risma Harini, yang juga hadir di acara itu, tidak canggung menyebut mereka sebagai, “Anak-anak saya”.

Tapi bukan itu yang membuat saya dan belasan orang mengharu biru. Ketika acara telah berakhir, dan Walikota beserta rombongan telah meninggalkan tempat acara, yaitu Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial Kalijudan) yang menampung anak berkebutuhan khusus, tiba-tiba dari dalam gedung pertemuan terdengar seorang anak menangis meraung-raung, menyebut ibunya.

Cukup lama dia menangis sehingga banyak yang datang padanya, termasuk saya. Ternyata ia adalah seorang anak tuna grahita berusia sekitar 15 tahun. Pada acara pembukaan tadi saya lihat si Umay, nama anak itu, sangat asyik berjoget gembira.

Tangisnya makin menggema sambil terus memanggil-manggil: "Di mana Ibuku… Di mana Ibuku?"

Ada apa gerangan? Menurut penjelasan Pengurus Pondok, ternyata Umay kehilangan “Ibunya” yang tak lain adalah Walikota Surabaya, Tri Risma Harini. Rupanya, saat Bu Risma pulang, dia tengah berada di kamar mandi. Istilah Jawa-nya adalah “kelayu”. Umay merasa sedih tidak sempat ikut mengucapkan perpisahan kepada Bu Risma.

Tak seorang pun bisa mendiamkan Umay, sehingga Pimpinan Pondok berinisiatif menelpon seseorang. Saya dengar beliau melaporkan bahwa Umay tidak bisa berhenti menangis.

Ternyata yang ditelepon adalah Bu Risma. Saya cuma berpikir, "Ah, mungkin itu hanya bersifat laporan. Mana mungkin seorang walikota mau kembali hanya untuk menenangkan anak tuna grahita?"

Sekitar lima menit kemudian, masuklah sebuah mobil Innova hitam yang tadi dikendarai Bu Walikota ke dalam halaman Liponsos. Bu Risma pun turun.

Orang-orang segera memanggil Umay, dan sejurus kemudian berbaurlah bocah itu ke pelukan “Ibunya”.

Bagaikan sikap seorang Ibu kepada anaknya, Bu Walikota mendekap dan bertanya, "Kenapa tadi Umay tidak ikut mengantar?"

Terlihat si Umay begitu manja dan tak mau lepas dari pelukan “Ibunya” itu. Merespon sikap Umay itu, Bu Risma mengatakan: “Ibu harus mencari uang untuk makan kamu, supaya kamu bisa belajar joget dan menyanyi."

Akhirnya Umay pun mau melepaskan pelukan disertai senyuman. Sungguh, sebuah kejadian yang sangat jauh dari rekayasa, apalagi pencitraan.

Semoga Umay bisa segera tumbuh jadi anak yang baik dan cerdas ya, Ladies. Dan semoga masih ada sosok-sosok "Bu Risma" lainnya di Indonesia yang dapat memberikan ketenangan dan pelukan pada anak-anak generasi penerus bangsa.

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading