Sukses

Lifestyle

Mengobati Luka Hati, Calon Suami Selingkuh Saat Aku Susun Skripsi

Di masa kini, masih sulit menjadi wanita mandiri dan cerdas tanpa membuat pria takut tersaingi. Kisah ini merupakan salah satu tulisan untuk Lomba Menulis: My Life, My Choice. 

***

Saya adalah seorang perempuan karir yang memiliki banyak impian. Sejak kecil orang tua saya selalu mendukung aktivitas belajar dan impian saya. Mereka tidak pernah melarang keinginan belajar bahasa Inggris sejak usia TK. Pada masa itu, belajar bahasa Inggris sebelum kelas 4 SD dianggap tidak lazim. Keingintahuan yang meledak-ledak sejak usia balita juga tidak ditekan oleh kedua orang tua. Intinya saya beruntung memiliki Ayah dan Ibu yang mendorong anak-anaknya untuk terus menjajal kemampuan diri.

Di tiap fase usia, saya memiliki impian besar. Saat masih duduk di bangku SD, saya bermimpi menerbitkan buku dan menandatangani buku karya saya sendiri. Memasuki jenjang SMP, saya bercita-cita menjadi seorang pembicara inspiratif setelah karya tulis saya dikenal. Dan saat duduk di bangku SMA hingga kuliah, semua impian itu terus menyatu serta bermetamorfosa mendorong saya untuk belajar bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Jepang serta mengambil kuliah magister di luar negeri. Jika saya bisa berbahasa asing, saya dapat menulis dalam banyak ragam bahasa atau berbicara di berbagai kalangan orang asing. Jika saya kuliah S2 di luar negeri, ilmunya dapat saya manfaatkan untuk membangun sekolah bahasa asing yang diintegrasikan dengan budaya tradisional.

Perempuan Terlalu Pintar Membuat Lelaki Takut

Benar jika kedua orang tua saya tidak melarang untuk ikut workshop A atau ikut seminar B. Prestasi akademik saya sejak duduk di bangku sekolah hingga lulus S1 dengan IPK hampir sempurna adalah cerita yang sering diulang Ibu kepada kenalannya. Namun jika ingin kuliah S2, katanya saya harus menunggu menikah dulu baru minta izin suami. Kalau gelar saya lebih tinggi lagi, takutnya nanti malah membuat lelaki keder sebelum mendekat. Beberapa artikel yang saya baca juga menjelaskan jika lelaki, dari zaman kuda gigit besi sampai era digital seperti ini, memang menyukai wanita cerdas tetapi tidak suka jika merasa kalah secara kecerdasan dan titel.

Awalnya saya berpikir jika hal itu omong kosong. Saya sempat merencanakan pernikahan setahun setelah wisuda S1. Kekasih saya, yang waktu itu sudah mengetahui semua passion saya, awalnya terlihat mendukung. Katanya ia bangga jika memiliki kekasih cerdas yang perhatian dengan dunia pendidikan karena hal ini menjadi bekal untuk mendidik anak-anak kami nanti. Saya juga sudah berkomitmen jika sesibuk dan setinggi apapun impian saya, keluarga kami nanti tetaplah menjadi nomor satu. Lihat saja Dian Sastro yang sukses S2 meski sudah menjadi ibu beranak dua. Dia menjadi role model yang tepat buat saya.

Semua pengorbanan dan ego yang saya tekan, termasuk menunda S2 rupanya tidak menghalangi kekasih saya untuk mendua. Ya, dia pernah mendua terang-terangan di tengah saya yang jungkir balik berjuang untuk skripsi, lalu menjelang rencana pernikahan pun dia tengah mendekati perempuan lain lagi. Alasannya lelaki yang akhirnya saya jadikan mantan kekasih itu merasa belum siap dengan pernikahan. Padahal dialah yang mengajak untuk lebih serius dan dia telah mengutarakan keinginannya pada orang tua saya. Bukan karena saya ingin kuliah lagi, tetapi katanya karena saya sudah memikirkan pernikahan makanya mantan menjadi goyah.

Jadi, kesimpulannya hanya lelaki kurang percaya diri dan memang tidak tangguh yang mengatakan jika perempuan berpendidikan tinggi sebagai pesaing. Perempuan juga tidak boleh tinggi hati serta wajib menghargai peran pria sebagai imam dalam keluarga nanti. Saya paham betul konsep tersebut.

Sudah Waktunya Menyambung Mimpi

Selepas masa kehancuran hati setelah patah hati dengan mantan kekasih, saya merenung. Lantas untuk apa saya menahan diri lagi? Saya berkomitmen untuk menghargai semua impian pasangan saya, jadi seharusnya saya juga layak dihargai bukan? Menikah adalah perjuangan bersama, bukannya untuk saling mematikan asa masing-masing individu. Maka saya putuskan untuk mulai belajar banyak hal baru, lebih menekuni bahasa asing yang saya cintai, menulis lebih banyak lagi dan satu melaksanakan hobi yang selalu saya tahan yakni berpetualang. Dulu mantan kekasih saya sangat posesif sampai-sampai satu per satu saya kehilangan teman.

Saya menikmati proses saat ini. Sudah mulai banyak tempat yang saya kunjungi. Bahkan buku-buku tunggal serta blog juga menemukan banyak pembaca setia. Job menulis serta sebagai pembicara juga mulai muncul. Tak semuanya berbayar mahal, namun itulah panggilan jiwa saya. Pekerjaan di kantor pun terus memberikan ilmu baru untuk saya. Luka akibat patah hati telah sembuh dan kabar baiknya, saya sudah bisa jatuh cinta dengan berbunga-bunga pada sosok baru.

Impian S2 itu muncul, kali ini lebih kuat. Yah, saya putuskan untuk menjalani kata hati. Dimulai dari traveling, menulis dan berbicara, kini saya harus berani menjejak satu langkah lagi. Walau akhirnya cinta yang baru bersemi itu gagal lagi, saya sudah tak sesedih sebelumnya. Hati saya siap jatuh cinta lagi. Saya mulai belajar lebih keras demi persiapan S2. Negara yang ingin saya datangi juga sudah terpatri di kepala. Mungkin barangkali di tengah perjalanan menyambung mimpi, saya akan bertemu si belahan hati.

Siapa yang tahu? Saya yakin Ayah dan Ibu pasti akan paham jika saya jelaskan sedikit demi sedikit. Kebahagiaan bukan hanya soal pernikahan. Saya ingin menikah dengan seseorang yang juga dapat menikahi impian-impian saya. Kami akan belajar bersinergi. Dan saya juga akan memeluk semua cita-citanya. Pernikahan bukan soal siapa lebih cepat atau soal usia, melainkan bagaimana dua kepala dan dua jiwa berjalan harmonis bersama.

(vem/yel)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading