Sukses

Lifestyle

Tak Semua Orang Mampu dan Sepakat untuk Menikah Muda

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.
***
Menikah muda dianggap sebagai tren akhir-akhir ini di Indonesia. Banyak orang yang menyalahgunakan arti menikah itu sendiri, ikut-ikutan teman, yang penting halal. Menikah bukanlah tren yang harus diikuti dan tidak semudah mengunduh aplikasi di smartphone. Menikah membutuhkan banyak kesiapan, terkhusus mental.

Mungkin banyak orang yang meninggalkan faktor kesiapan mental ini karena finansial lebih diagungkan dari segalanya. Termasuk orangtuaku yang selalu mendesakku untuk menikah. Pertanyaan “kapan” menjadi sesuatu yang lebih horor dibanding makhluk astral di luar sana.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/adrien ledoux

Pasalnya, sebagai wanita kita harus melewati tingkatan pertanyaan “kapan”. “Kapan wisuda?” Aku sudah wisuda. Sekarang harus menghadapi “kapan nikah” yang aku juga belum mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Umurku baru saja menginjak 24 tahun dan bagiku itu masih terlalu muda untuk menikah karena masih banyak yang harus dicapai. Sebagai anak sulung, pastilah kenyang dengan banyak tuntutan dari orangtua sejak kecil. Kadang aku berpikir bahwa mereka tidak pernah sadar aku adalah manusia, bukanlah robot yang bisa mengabulkan semua tuntutan tersebut dalam sekejap.

Aku memang memiliki kekasih dan sudah menjalin hubungan selama 21 bulan. Aku keturunan Batak dan dia keturunan Tionghoa yang jelas menimbulkan banyak hakim dan jaksa dadakan, tapi aku tidak peduli terhadap itu semua.

Koko, panggilku padanya, ia memiliki cita-cita ingin menikah muda. Saat ini ia berusia 26 tahun. Sejak pertemuan kami pertama dia sudah mengatakannya padaku bahwa ia ingin menikahiku. Responku hanya, “Kita jalani dulu aja yah Ko," untungnya dia mengerti dan menerimanya dengan baik. Keluarga kami mengetahui hubungan kami dan mereka terlihat “welcome”.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/benita elizabeth vivin

Koko sering kuajak bertemu dengan keluargaku dengan maksud ia bisa beradaptasi dan mengetahui tentang keluargaku. “Jadi kapan kalian nikah?” tanya salah satu pamanku, aku langsung menjawab dengan candaan, “Baru juga sebulan langsung ditanya nikah, sabarlah." Saat itu menanggapi pertanyaan “kapan” masih dengan biasa saja.

Di rumah, aku setiap hari mendengar pertanyaan tersebut sampai sekarang. Hal yang memperburuk keadaan adalah ibuku selalu membandingkan dirinya yang menikah di usia 23 tahun. Aku selalu berkilah dulu dan sekarang adalah dua hal yang berbeda. Aku tidak ingin pemikiranku tertutup dan balik ke zaman saat dia menikah. Aku tidak ingin disamakan karena aku memiliki jalanku sendiri, aku memiliki alasan kenapa aku belum siap mau menikah.

Bagiku, sebelum menikah haruslah memiliki ilmu sebelum masuk ke dalamnya. Aku harus belajar pengertian menikah itu sendiri, mengerti tentang hak dan kewajiban sebagai suami istri, memperbaiki diri menjadi lebih baik, bagaimana menjadi orangtua yang baik bagi anaknya kelak, dan masih banyak lagi. Aku sangat concern tentang bagaimana menjadi orangtua dan pertumbuhan anak akhir-akhir ini. Dan inilah yang menjadi alasanku aku belum siap untuk menikah.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/wu jianxiong

Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan yang berat, dan belajar menjadi orangtua itu seumur hidup. Aku paham sekali menjadi anak sulung, kita dituntut banyak hal dari mengerti keadaan orangtua, mengalah untuk adik-adiknya, harus menjadi contoh yang baik untuk mereka sampai menjadi pengganti orangtua kita sendiri. Aku dan Koko adalah anak sulung, sedikit banyak kami memiliki kesamaan dalam mendapatkan pola asuh dari orangtua kami masing-masing.

Aku mencoba mengutarakan alasanku ini padanya. Aku ingin memutus kejadian di masa kecil agar tidak terulang saat aku menjadi orangtua. Aku tidak ingin melakukan kekerasan verbal dan fisik pada anakku kelak. Mendidik anak membutuhkan teknik sendiri dan tidak bisa diterapkan pada semua anak. Aku dan Koko adalah hasil dari trial and error orangtua kami dan aku tidak ingin anak sulung kami nantinya menjadi trial and error pula dan begitu seterusnya.

Tidak banyak orang mengerti terkadang pertanyaan “kapan nikah” itu bisa menjadi sangat menyakitkan. Sekali, dua kali aku bisa menghadapinya. Jika terus-terusan kita akan menjadi risih ditambah saat lebaran. Semakin banyak bertemu dengan orang, semakin banyak pula pertanyaan itu kita terima. Mungkin mereka belum paham bagaimana kata-kata bisa menghancurkan jiwa bahkan membuat orang lain depresi.

Setiap mendapat undangan dari temanku, ibuku langsung mengeluarkan jurusnya. “Liat tuh dia aja udah nikah, hebat ya dia. Ibu dengar mas kawinnya 100 gram emas loh. Kemarin juga anak yang di komplek sebelah itu dapat 50 juta pas hantaran, si anu kemarin itu sewa gedung sama dekorasinya sama Bu Nana, murah kok," dan sebagainya. Yang aku lakukan adalah aku diam, mengambil segelas air putih kemudian pergi. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku lebih peduli tentang pasca menikah. Mungkin dia diberi uang Rp50 juta, kita tidak pernah tahu itu halal atau tidak, atau mungkin bisa hilang dalam sekejap. Kita tidak pernah tahu itu dan bukan menjadi urusan pribadi kita.

Persoalan menikah sama halnya dengan kematian, karena rezeki, jodoh dan maut adalah urusan Tuhan. Bisa saja saat kita ditanya kapan nikah kemudian kita kembali bertanya “kapan mati?” Pasti yang mendengar akan sakit hati pula.

Begitu juga dengan kapan nikah, itu urusan Tuhan. Setiap orang punya waktunya masing-masing dan tidak perlu resah soal itu. Bisa saja aku menikah tahun ini tetapi aku tidak bisa langsung memiliki anak, kemudian mendapat pertanyaan, “Kapan punya anak?” Bisa saja aku menikah tahun depan dan langsung diberi anak dan setelahnya mendapat pertanyaan, "Kapan punya adik?”

Berhentilah bertanya “kapan” pada orang lain, itu bisa sangat menyakitkan. Mendapat tuntutan dari orangtua adalah beban terberat di hidupku. Alasan mereka ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi tidak pernah mengerti keadaan anaknya sendiri.

Berhentilah membandingkan kami dengan orang lain, membandingkan menikah di usia muda, pencapaian yang diraihnya, tinggal di rumah mewah, punya anak kembar dan sebagainya. Mengurus pribadi masing-masing lebih berguna dibanding menyakiti hati orang lain. Aku memiliki alasanku sendiri dan aku masih percaya dengan janji Tuhan, bukan kehilangan arah.
(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading