Sukses

Lifestyle

Menghabiskan Masa Kecil di Desa Memang Kenangan yang Paling Indah

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Silmi Sabila

Halo. Perkenalkan namaku Silmi biasa dipanggil Mimi. Kali ini aku akan menceritakan perjalanan masa kecilku yang tidak akan pernah aku lupakan dan akan selalu aku kenang.

Ketika masih kecil aku tinggal di pedesaan yang sangat asri, damai, dan alamnya masih terjaga sangat baik. Selain itu, aku merupakan anak yang sangat aktif dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu yang pertama aku lihat dan aku rasakan. Tapi di balik itu juga aku anak yang sangat penurut dan tidak pernah meminta dibelikan mainan atau barang lainnya sebelum aku menabung dan membelinya dengan uangku sendiri karena dari kecil sudah diajarkan untuk mandiri dan tidak boleh boros. 

Pada saat aku duduk di bangku Taman kanak-kanak (TK) usiaku saat itu masih 5 tahun. Aku sangat senang belajar dan mempunyai teman yang banyak. Selain itu, di sekolahku ada taman bermain dan bunga-bunga yang indah karena aku sangat menyukai bunga dan di tempatku tidak sulit menemui bunga yang beraneka ragam bahkan tumbuh di setiap jalan, benar-benar sangat asri kan?

Kebiasaanku pada saat itu selalu membawa makanan dan jajanan di tas ranselku sampai semua guru heran dan bertanya, "Silmi kenapa di ranselmu banyak sekali jajanan dan kamu hanya membawa 1 buku saja?"

Lalu dengan polosnya aku menjawab, "Ibu guru aku memerlukan asupan makanan supaya aku belajar lebih giat makannya aku membawa banyak jajanan dan kalau ibu guru mau boleh ngambil kok." Hehehe saat itu aku masih sangat polos. 

Aku senang sekali menari dan sering tampil di atas panggung apalagi ketika penonton memberikan tepuk tangan dan apresiasi itu membuatku tambah semangat.

Hari-Hari yang Indah Kala Itu

Hari berlalu dan aku pun memasuki bangku Sekolah Dasar (SD) yang tidak jauh dari rumahku.  Sebenarnya ketika aku masuk SD usiaku belum cukup karena masih 6 tahun sementara persyaratan masuk SD harus berusia minimal 7 tahun. Tetapi aku memaksa orang tuaku supaya bisa sekolah dan memakai seragam serta bertemu teman-teman baru. Dan akhirnya aku bisa bersekolah di usia 6 tahun. Itu adalah hari yang paling bahagia menurutku.

Hari pertama di bangku SD selain memperkenalkan diri, guru juga memberikan tugas yaitu menulis huruf, angka, dan simbol. Waktu itu aku siswa pertama yang menyelesaikan tugas dan aku berkata kepada guruku bahwa tugas itu sangat mudah untukku karena aku sudah sering mempelajarinya ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak dan aku meminta kepada guruku untuk memberikan tugas yang paling sulit. Hehehe saat itu aku merasa bisa segalanya tetapi ketika guruku memberikan penjelasan bahwa aku tidak boleh sombong dan harus membantu teman-temanku yang belum selesai mengerjakan tugasnya. Selain belajar di kelas guruku sering membawa siswanya belajar di alam terbuka untuk mengenalkan tumbuhan dan binatang yang ada di alam sembari membawa gitar dan bernyanyi bersama. 

Di sekolah aku sering mendapatkan juara 1, 2, dan 3. Bahkan ketika ada lomba Calistung, lomba keagamaan bahkan lomba menari aku sering ikut setiap tahunnya. Aku sangat senang ketika guru memilihku sebagai perwakilan untuk mengikuti lomba. Di sisi lain juga tidak bisa dipungkiri banyak teman-temanku yang merasa iri kepadaku karena selalu aku yang diikutsertakan untuk mengikuti lomba tersebut. Tapi itu semua tidak membuatku patah semangat dan tetap percaya diri. 

Setiap pulang sekolah aku sering bermain menghabiskan waktu bersama teman-temanku di sawah membantu petani memetik hasil panennya seperti sayuran, buah-buahan, dan mengumpulkan telur itik.  Karena di desaku mayoritas warganya bekerja sebagai petani dan peternak. Bahkan industri tekstil pun belum ada. Itu sebabnya tempat tinggalku masih sangat asri bahkan buah-buahan bisa kita petik sendiri dan air yang mengalir pun bisa langsung diminum.

Selain bermain aku pun belajar menanam padi dan kacang tanah tapi kegiatan yang paling aku suka ketika aku mengumpulkan telur itik karena sambil bermain lumpur dan air. Hehehe aku sangat senang ketika bermain air. Tapi terkadang ketika sedang mengumpulkan telur itik seringkali kakiku dipatuk oleh itik tersebut hingga seluruh badanku jatuh ke lumpur karena aku ketakutan dan menangis dalam keadaan wajahku cemong penuh lumpur. Pemilik itik tersebut memberikan nasihat supaya aku lebih berhati-hati lagi. 

Setelah mengambil telur itik, aku dan teman-temanku pulang. Di tengah perjalanan pulang seperti biasa aku sering memetik bungan dan sesuatu yang menurutku menarik. Saking asiknya aku memetik bunga, tidak terasa waktu sudah magrib dan akupun masih belum pulang sehingga membuat orang-orang rumah khawatir.

Setelah aku pulang ke rumah, orang tuaku memarahiku karena aku membuat semua orang khawatir. Setelah itu ibuku menasihatiku supaya tidak mengulangi kesalahanku yang sama. Meskipun begitu, besoknya aku tetap bermain sekaligus belajar bersama teman-temanku hingga hari-hari berikutnya.  Bahkan karena kebiasaanku itu sampai saat ini aku masih suka bertani dan memelihara hewan di pekarangan rumahku.

Itulah sepenggal cerita masa kecilku di desa yang sangat asri. Dan sampai saat ini aku masih tinggal di desa yang sama meskipun banyak perubahan dan tidak seperti dulu, tetapi aku sangat beruntung karena masih bisa merasakan masa kecilku yang indah tanpa gadget bersama teman dan guru SD-ku. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah masa kecilku.

#ElevateWomen

PLAYLIST VIDEO 2 AGUSTUS 2021
Loading
Artikel Selanjutnya
Kita Tak Bisa Kembali ke Masa Lalu, maka Hargailah Semua yang Ada Saat Ini
Artikel Selanjutnya
Sejuta Cerita Masa Kecilku di Rantau Pulung