Sukses

Lifestyle

Lebih Bijak Atur Uang, Lebih Bahagia Nikmati Hidup Seutuhnya

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Pramudita Kurnia

Perjalananku dalam mengatur uang sangat berliku. Sampai sekarang pun aku masih belajar untuk mengatur uang. Kali ini akan kuceritakan pengalaman pertama mengatur buah kerja keras itu.

Mengatur Uang dan Berbagai Kesalahan

Saat pertama kali kerja kantoran, aku seperti terlalu mengikat diri dalam membelanjakan uang. Banyak menabung tanpa menikmati hidup. Seandainya ya, aku gunakan untuk hal yang tak perlu.

Contohnya seperti belanja banyak kosmetik Korea yang tak kupakai di kemudian hari atau untuk belajar bahasa Jepang tingkat mahir, aku rela membeli buku Fashion asli Jepang yang harganya tembus 200 ribu rupiah lebih. Sampai sekarang pun majalah itu hanya jadi onggokan sampah karena kata-katanya begitu susah dimengerti. Tak pelak caraku mengatur uang itu seperti diet yoyo.

Cara menabungku yang ekstrim ini membuatku tak bisa menikmati hidup seutuhnya. Stres di tempat kerja pun tak bisa teratasi. Kesalahan demi kesalahan bermunculan saat kerja.

Salah satu aturan kerja yang aneh di tempat kerjaku dulu adalah pegawai baru yang melakukan kesalahan harus menraktir pegawai senior. Aku pun terpaksa melakukannya. Jadi uangku habis untuk itu.

Saat-saat terakhir di kantor itu, aku punya kendala. Sisa uang di rekening bank tambahan mendadak tak bisa diambil. Aku berkali-kali ganti ATM untuk mengambilnya tapi tak bisa. Karena lelah dan terpaksa menyerah, kurelakan Rp300 ribu itu hangus begitu saja.    

Dalam masa mencari pekerjaan baru, ternyata lingkup pertemanan itu bisa mempengaruhi finansial dan kesehatan psikologis. Aku pernah berteman dengan seseorang yang sangat toxic.

Selama tidak bekerja, aku menemaninya mengerjakan skripsi di sebuah perpustakaan yang berlokasi di kawasan Senayan. Pastinya setelah pergi dari perpustakaan pergi ke mall-mall di Senayan itu untuk makan atau sekadar jalan.

Di perpustakaan itu ia tidak membaca buku dan hanya bermain Twitter. Ia juga suka menakut-nakuti, menasihati dengan nasihat buruk dan meremehkanku. Sebaliknya jika ia diperlakukan dengan hal yang sama, ia akan mengamuk.

Selama aku berteman dengannya ia hanya mau jalan-jalan ke tempat mewah. Jika kita jalan-jalan ke tempat biasa, ia akan cemberut dan menggerutu sepanjang waktu. Untungnya ketika ia merasa aku tidak berguna lagi, ia meninggalkanku. Tapi buntungnya uangku lenyap dan keadaan mentalku terpuruk.

 

 

Terus Belajar Mengatur Uang

Aku sering menonton video cara mengatur uang yang baik di Youtube. Dari video-video itu, aku menyadari bahwa menabung pun tidak cukup. Aku pun langsung punya inisiatif untuk membuka tabungan emas untuk investasi. Kenapa emas? Meski untungnya sedikit, investasi emas paling mudah dan aman. Karena aku termasuk orang yang awam berinvestasi dan ekonomi, aku pun memilih tabungan emas.

Untuk menabung, sahabatku menyarankan cara konvensional yang cukup unik. Caranya adalah dengan menabung di celengan tanah liat. Menabung di bank akan terpotong biaya administrasi belum lagi godaan untuk belanja pakai kartu debit. Bentuk celengan tanah liat yang unik dan cara mengambil uangnya yang susah karena harus dipecahkan akan menghambat kita yang suka mengambil uang tabungan. Cara ini tentunya awet.

Belajar dari kesalahanku terdahulu yang terlalu mengikat diri sendiri dalam membelanjakan uang. Aku sendiri melonggarkan pemakaian uang. Aku buat skala barang yang butuh dan barang yang digunakan untuk keperluan menghibur diri seperti buku dan skincare. Tentunya dalam batasan yang normal sehingga tidak boros. Aku juga sedang membuat perencanaan keuangan ketika nanti Ayahku pensiun dan tak lupa dana darurat.

Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Aku setuju dengan slogan “Money can buy happiness”. Tapi sebagai manusia kita perlu terus tetap belajar mengatur uang agar tercapai kemerdekaan finansial.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: Aku dan Uang
Artikel Selanjutnya
Harapan Seorang Ibu untuk Masa Depan Anak setelah Perceraian