Sukses

Lifestyle

Aku Papa Sama-Sama Berwatak Keras, tapi Inilah yang Menyatukan Kami

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Febriani Azzahra

Assalammu'alaikum Papa. Papa mungkin kaget mendapati surat dariku, begitu juga denganku. Sebenarnya aku tidak pernah menyangka akan menulis surat ini.

Jika banyak yang menyatakan kalau seorang ayah adalah cinta pertama anaknya dan menjadi kiblat juga idolanya maka bagiku pendapat itu hanya 50% saja dapatku terima. Pa... engkau adalah lelaki pertama yang dekat denganku walaupun kita tidak terlalu dekat atau pun akrab.

Kita memang memiliki watak yang sama-sama keras. Ya, watak ini tidak bisa dipungkiri berasal darimu dan mama. Sering kali kita berseberangan pendapat dan pikiran hingga sedikit membuat ketegangan atau pun ribut kecil.

Engkau dengan pikiran yang sedikit kolot sedangkan aku yang sedikit modern tapi tetap dengan batasan norma agama juga sosial. Aku teringat ketika dahulu remaja, engkau tidak memperbolehkan aku menginap dirumah orang lain walau pun masih dibilang keluarga. Kemana pun aku pergi, engkau harus tahu tempat dan nomor kontak yang aku tuju. Aku terpaksa menuruti perintahmu.

Pa, tahu tidak kalau saat itu aku merasa kesal kenapa orang tuaku berbeda dari kebanyakan orang tua teman-temanku, aku merasa terkekang dan tidak bebas? Ternyata baru aku sadari sekarang bahwa itu caramu menjagaku dan aku beruntung mempunyai orang tua yang begitu perhatian walaupun secara kasat mata tergolong otoriter karena banyak dari orang tua teman-temanku tidak peduli anaknya kemana asalkan pulang dalam keadaan selamat.

Seingatku Papa hanya beberapa kali menemaniku untuk urusan sekolah. Ya, papa sibuk bekerja begitu juga mama.

Ketika pembagian rapor, hampir semua teman-teman didampingi orang tua atau wali yang akan mengambil hasil belajar mereka tapi aku datang sendiri dan meminta tolong wali teman. Ada perasaan sedih dan malu juga iri pada teman-temanku saat itu.

Saat aku akan mendaftar ulang melanjutkan pendidikan SMP, itu adalah kali pertama papa menemani karena aku tidak tahu lokasi sekolahnya. Papa meluangkan waktu satu hari untuk urusanku.

Kali kedua ketika aku akan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi saat pendaftaran ulang juga mengenalkan jalan dan tranfortasi menuju almamater tempatku menuntut ilmu selama beberapa tahun. Ya, dahulu aku adalah seorang anak perempuan rumahan yang tidak tahu banyak tempat dan jalan. Setelahnya semua urusan aku lakukan sendiri dan menyelesaikan sendiri.

Cinta yang Menyatukan Semuanya

Dahulu aku tidak paham kenapa papa sering kali marah, entah apakah aku ada salah atau pun tidak tapi kini aku sadari mungkin saat itu begitu banyak beban dan tekanan pekerjaan yang harus Papa selesaikan hingga akhirnya Papa mutasi bekerja di luar kota. Satu hingga dua minggu sekali, papa pulang mengunjungi kami. Tahukah Papa ketika Papa tidak ada di rumah, itu adalah hari kebebasanku dan betapa bahagianya diri ini tidak ada yang akan marah atau pun melarang? Dan ketika Papa pulang, rasa takut dan ketidaknyamanan itu muncul kembali.

Kita tidak pernah ngobrol akrab walau pun aku sangat tahu Papa begitu menyayangiku. Dahulu saat aku kecil, Papa selalu memeriksa seluruh kaki dan tanganku ketika malam. Jika ada luka sedikit saja papa akan bertanya dan marah. Dahulu aku tidak mengerti ternyata itu cara Papa mencintaiku. Karena itulah aku begitu takut ada luka. Tapi Pa, maaf menurutku itu cara mencintai yang salah yang membuat kita tidak bisa dekat dan akrab.

Hingga kini pun kita tetap bertolak belakang dan sering berbeda pendapat. Aku terkadang tidak mampu menahan sabar dan membantah semua ucapan Papa yang akan membuat Papa semakin marah atau aku akan meninggalkan Papa menuju kamar sehingga emosi Papa pun meningkat.

Aku tidak bermaksud tidak sopan Pa. Sebenarnya aku tidak ingin membantah atau pun mengacuhkan Papa, tapi ini yang terbaik menurutku. Menjauh, diam, dan tidak meneruskan perdebatan akan mendinginkan hati masing-masing. Aku sangat tahu jika Papa mudah marah, itu berarti tekanan darah papa sedang naik.

Juli 2021, engkau terpapar covid-19 bersama mama dan yang lain. Engkau begitu lemah hingga telah mengeluarkan kain ihram sebagai kain kaffanmu kelak dan begitu banyak pesan yang engkau ucapkan tapi saat itu aku abaikan. Rasa sedih aku tepiskan hingga yang terlihat hanya semangat untukmu karena aku belum sanggup untuk kehilanganmu Pa.

Pa... melalui surat ini aku hanya ingin mengungkapkan betapa aku mencintaimu terlepas dari semua ketidaksepahaman kita dalam beberapa hal. Cinta ini tidak dapat aku gambarkan tapi yang jelas aku ingin melihatmu bahagia dan menikmati hari tuamu dengan Mama.

Terima kasih Pa untuk semua yang telah engkau berikan. Berkat engkau yang selalu menyuruhku melakukan segala sesuatu dengan sendiri dan belajar memecahkan masalah sendiri, kini aku inshaaAllah mampu menjadi wanita yang mandiri juga kuat.

Hanya satu pintaku dan doaku, Pa. Semoga Papa diberikan sifat sabar yang luas sehingga ketidak sabaran yang sudah tertanam lama itu semakin menipis. Doakanlah terus anakmu ini. Mohon terus tengadahkan tangan meminta kepada Sang Khalik agar segera mengirimkan pendampingku untuk menggantikan tugasmu.

Tidak ada cinta terbesarku selain untukmu dan Mama setelah cintaku pada Allahu Robbi dan Rasulullah. Kalianlah tujuan dan semangat hidupku. Forever love for you, Papa and Mama.

Wassalam.

#ElevateWomen

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Menikah di Usia 38 Tahun, Aku Ingin Membalas Cinta yang Luar Biasa
Artikel Selanjutnya
Pada Hari Kepergian Ayah, Ada Kesedihan dan Kebencian yang Berkecamuk di Dada