Sukses

Lifestyle

Di Balik Sikap Dingin Ayah, Ada Pengorbanan dan Cinta Luar Biasa untuk Keluarganya

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Lindo Gato

Kalau saya ditanya siapa sosok yang paling sabar, menyayangi keluarga, peduli, pekerja keras tanpa kenal musim dan waktu, serta tidak peduli sehat atau sakit, beliau adalah ayah saya. Saya yakin setiap ayah di dunia ini memiliki kriteria seperti ayah saya, dan saya bangga memiliki beliau.

Saya tidak pernah dekat dengan ayah saya seperti kebanyakan anak perempuan lainnya, seperti sebuah kalimat yang sering saya dengar bahwa anak perempuan akan lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Tapi hal ini tidak terjadi pada saya, kadang saya pun bertanya kepada diri saya sendiri kenapa saya tidak pernah bisa dekat dengan ayah saya walaupun kerap kali saya mencoba untuk dapat dengan ayah saya.

Mungkin bisa dibilang hubungan ayah dan saya biasa-biasa saja, atau bisa dibilang tidak ada yg istimewa. Sejak saya di dalam kandungan ibu hingga memasuki usia lima tahun ayah jarang berada di rumah karena ayah bekerja di kota. Beliau akan pulang ke rumah sebulan sekali.

Hari-Hari yang Kulalui Bersama Ayah

Setiap kali ayah pulang ke rumah, saya tidak menyambut ayah dengan baik. Setiap kali menemui ayah seperti saya bertemu dengan orang asing. Mendapat respons yang kurang baik dari anaknya sendiri membuat ayah saya sedih, tapi ayah tidak kecewa sama sekali karena waktu itu saya masih kecil. Lalu ayah memutuskan untuk bekerja di desa saja, agar ayah bisa lebih dekat dengan saya. Tidak banyak mata pencahrian yang bisa dilakukan di desa yang sangat jauh dari kota. 

Kebanyakan orang di desa saya bekerja sebagai nelayan, sehingga ayah memutuskan menjadi nelayan. Selain menjadi nelayan ayah saya juga seorang petani dan terkadang ayah berkerja bersama ibu di sawah. Pernah suatu malam ketika ayah masih berkerja di kota, ayah sampai di desa pada malam hari, pada saat itu pada larut malam.

Kendaraan satu-satunya yang bisa dipakai untuk menyeberang dari desa seberang ke desa saya hanya perahu, tapi tidak ada satu pun ojek perahu yg beroperasi pada malam itu. Jadi ayah memberanikan diri menyeberangi sungai tanpa pelampung atau pengaman apa pun. Tapi saya bersyukur ayah bisa sampai ke rumah dengan selamat.

Kepulangan ayah dari kota adalah sebuah kebahagian bagi ibu, kakak dan saya yang telah kepulangan ayah selama sebulan lamanya. Terkadang saya  mendengar atau melihat seorang anak perempuan yg sangat dekat dengan ayah. Dia bisa menceritakan apa pun atau bahkan bermanja ria dengan ayahnya, saya ingin seperti dia.

Saya ingin sekali saja memeluk ayah, tapi seperti ada jarak antara saya dan ayah, terlalu canggung untuk melakukan itu. Dalam diam kerap kali saya berpikir bahwa saya dan ayah sangatlah dekat, hanya saya yang tidak menyadarinya.

Ada banyak kenangan manis yang ayah lalukan kepada saya, sungguh banyak tak terhitung tapi di antara kenangan tersebut ada kenangan yang sangat manis di antara kenangan yang lainnya. Pada sore hari itu saya bermain bersama teman-teman setelah pulang sekolah, tak berapa lama setelah itu ada kejadian yang membuat tangan saya keseleo.

Lalu saya segera pulang ke rumah dengan mata sembab serta menahan rasa sakit yang teramat. Mengetahui anaknya terluka ayah segera ke rumah tetangga untuk meminjam perahu, untuk membawa saya ke rumah tukang urut di desa lain. Sebenarnya bisa memakai motor atau mobil, tapi kami tidak punya kendaraan tersebut walaupun bisa memakai becak ongkosnya akan sangat mahal sekali.

Jadi jalan satu-satunya yaitu memakai perahu, jarak dari desa kami ke desa tujuan bukan jarak yang dekat, ayah harus mengayuh perahu selama dua jam pulang dan pergi. Selama berada di perahu saya hanya termenung, saya sangat merasa bersalah melihat ayah yang harus rela berjerih payah untuk kesembuhan anaknya. Saya tahu ayah sangat lelah tapi ia tidak mengatakan apa pun atau memarahi saya.

Sebaliknya ayah malah merasa tenang setelah saya mendapatkan perawatan dari dukun urut. Sebenarnya bisa saja saya di bawa kerumah sakit, tapi mengingat biaya rumah sakit yang cukup besar dan tentu ayah tidak punya cukup uang untuk membawa saya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Tapi saya bersyukur dan sangat berterima kasih kepada ayah. Ayah melakukan apa pun demi kesembuhan saya.

Kasih sayang orangtua itu banyak bentuk, dan tak terhitung, tak melulu soal pemenuhan materi. Bahkan marahnya orangtua pun adalah salah satu bentuk kasih sayang. Saat saya masih duduk di bangku SMA, ayah pernah mengatakan satu hal yang membuat saya samgat bingung tentang makna yang terkandung dari kata-kata tersebut.

Ayah mengatakan bahwa suatu saat ketika saya akan merantau hal yang paling akan saya rindukan adalah marahnya orangtua. Saya bertanya kenapa saya akan merindukan marahnya orangtua saya, bukankah seharusnya hal yang paling akan saya rindukan adalah kasih sayang dan perhatian orangtua saya.

Setelah saya berkuliah dan harus hidup mandiri di kota, saya baru tahu makna sebenarnya yg di sampaikan oleh ayah saya dahulu. Marahnya orangtua saya yang selama ini yang saya salah pahami, itu merupakan juga bentuk dari kasih sayang orangtua.

Saya selalu beranggapan bahwa ayah saya orang yang dingin, cerewet, dan pemarah. Tapi di balik sikap ayah yang selalu saya anggap begitu ayah sebenarnya ayah adalah orang yang penuh kasih sayang. Ayah sering memarahi saya hanya agar membuat saya lebih disiplin, tidak ceroboh dan lebih bertanggung jawab pada suatu tugas atau pekerjaan.

Ayah memang bukanlah seorang ayah yang dapat menunjukkan rasa sayangnya. Beliau tidak dapat secara langsung mengatakan bahwa ayah sayang anaknya. Tapi cara yang ayah lakukan untuk menunjukan bahwa ayah amat menyayangi saya adalah dengan semua pengorbanan yang ayah lakukan.

Ingin Bisa Membahagiakan Ayah

Setiap tetes keringatnya adalah cinta. Saya hanya anak yang egois dan terlalu menuntut. Perjuangan ayah sungguh luar biasa seperti yang terjadi padatahun 2004, kami terpaksa pindah dari desa ke desa kakek dari ayah. Keluarga saya seakan terusir dari rumah dan tempat kelahiran saya sendiri, hal ini karena pertengkaran yang terjadi antara ayah dan keluarga ibu.

Tidak ada satu pun orang dari keluarga ibu yang membela ayah, mereka semua memfitnah ayah atas meninggalnya kakek. Tapi ayah bukanlah seorang yang dipikirkan keluarga ibu. Ayah adalah orang yang sangat baik dan positif.

Ayah selalu bersikap baik bahkan tidak segan membantu jika dibutuhkan pertolongan oleh siapapun. Ayah memboyong ibu, kakak, saya dan adik-adik saya kedesa kakek. Hidup di desa kakek pun bukanlah hal yang mudah, ayah harus segera bekerja demi menghidupi kami. Tapi ayah tidak mempunyai keahlian apapun, tapi ayah orang yang ulet, rajin, pekerja keras, dan mau belajar.

Ayah ikut kakek bekerja sebagai buruh bangunan, walaupun gaji tidak seberapa tapi yang penting bisa memberi kami sesuap nasi. Kerap kali kami makan seadanya benar-benar seadanya bisa dikatakn yang penting kenyang.

Tidak mudah bagi ayah untuk menghidupi 5 orang anak yang juga masih membutuhkan pendidikan. Makan dan baju seadanya, tapi itulah hal yang terbaik yang ayah lakukan. Lambat laun akhirnya kami bisa pindah kerumah yang baru walaupun rumah tersebut sangat kecil bagi 7 orang. Ayah rela melakukan apapun demi saya dan saudara saya. Memikirkan perjuangan ayah yang teramat banyak rasanya tidak pantas bagi saya untuk menuntut lebih. 

Sampai detik ini saya belum bisa membahagiakan ayah atau setidaknya mengurangi beban ayah. Ayah sudah melakukan banyak hal untuk dan berkorban semuanya untuk saya. Waktu , kecerian, kebahagian, ayah korbankan demi anaknya. Tapi saya belum melakukan apa pun yang dapat membuat ayah bahagia ataupun mengurangi beban ayah.

Saya masih membuat ayah khawatir ayah, dan terkadang  saya membuat ayah  kecewa dengan sikap ku yang egois. Saya ingin melukiskan senyum diwajah ayah, membuat ayah bangga. Orangtua adalah sosok-sosok yang paling bisa menerima kekurangan anak-anaknya, seburuk-burunknya anak orangtua selalu ada tempat untuk memberikan perlindungan kasih sayang dan cinta.

Tidak perduli seberapa jahat anak berperilaku kepada orangtua, orangtua akan tetap menerima anaknya. Terlepas dari kita memepunyai teman yang selalu ada jika dibutuhkan ataupun pasangan yang selalu mencintai. Tapi cintanya orangtua terhadapa anaknya tak akan terkalahkan oleh siapapun. Begitu pun yang selalu ayah lakukan kepadaku, beliau selalu ikhlas menerima sikap saya yang kadang buruk dan egois. Beliau selalu punya cinta di hatinya yang tak akan pernah terhapuskan oleh apapun.

Antara saya dan ayah sangat  dekat, begitu dekat hingga saya pun tak menyadarinya. Beliau yang selalu saya anggap dingin, ayah adalah sosok yang sangat hangat dan menyayangi saya. Hanya saya yang terlalu menuntut dan kurang membuka lebar mata saya, bahwa banyak kebaikan yang ayah lakukan kepada saya. 

Saya amat menyayangi ayah. Kalau tidak ada ayah entah akan jadi apa saya sekarang. Ayah adalah sosok yang paling berjasa dalam hidup saya. Cita-cita saya hanya satu. Saya ingin membalas jerih payah dan kebahagian yang ayah lewatkan demi saya, walaupun saya sadari bahwa setiap tetes keringat yang ayah keluarkan tak akan dapat tergantikan atau terbalaskan dengan apa pun. Saya ingin melakukan segala yang terbaik yang saya bisa lakukan hanya untuk ayah yang begitu saya sayangi. Suatu saat saya akan memeluk ayah dengan erat.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Rindu Anak Perempuan kepada Ayahnya, Rindu Terdalam yang Pernah Ada
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories Surat untuk Ayah