Sukses

Lifestyle

Indahnya Menjalani Ramadan di Kampung Halaman setelah 7 Tahun Merantau

Fimela.com, Jakarta Bulan Ramadan senantiasa menghadirkan banyak kenangan dan kisah yang berkesan. Baik itu suka maupun duka, haru atau bahagia, selalu cerita yang sangat lekat dengan bulan suci ini. Cara kita memaknai bulan Ramadan pun berbeda-beda. Tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories bulan April dengan tema Light Up Your Ramadan ini pun mengandung hikmah dan inspirasi yang tak kalah istimewa.

***

Oleh: Meliana Aryuni

"Ramadan tiba ... ramadan tiba ...

Mari kita berpuasa ... puasa bulan ramadan ..." 

Cuplikan lirik lagu di atas seakan menyiratkan semangat untuk berpuasa. Adalah suatu keharusan kita sebagai umat muslim untuk menyambut Ramadan dengan suka cita. Hal itu juga yang saya rasakan saat Ramadan akan tiba.

Menjelang Ramadan, saya berusaha mempersiapkan ilmu dengan membaca buku Ramadan In Love. Buku itu berisi tentang hal-hal yang harus dipersiapkan saat ramadan. Hal itu harus dilakukan dengan perasaan gembira. Namun, suka cita itu tidak hanya dirasakan sebelum ramadan. Selayaknya, selama Ramadan pun kita harus bergembira karena banyak keberkahan yang akan diperoleh selama bulan ini.

 

Kembali ke Kampung Halaman

Tahun ini adalah tahun pertama saya kembali ke kampung halaman setelah hampir 7 tahun merantau di tempat orang. Saya bersyukur bisa kembali ke sini meskipun ada rasa sedih meninggalkan daerah rantauan. Ramadan ini betul-betul berbeda bagi saya.

Jika di daerah rantauan kemarin puasa Ramadan tidak begitu terasa karena kondisi alamnya. Udaranya yang sejuk sampai magrib membuat puasa kami terasa ringan untuk dijalani. Berbeda halnya di daerah asal saya, udara dari pukul 7 mulai panas sampai magrib pun kegerahan sangat terasa. Rasa haus dan gerah membuat saya dan keluarga merasakan tidak nyaman. Meskipun begitu, puasa harus tetap kami jalankan.

Dengan keadaan yang tidak menyenangkan itu, Ramadan harus tetap disemarakkan. Saya pun memiliki cara tersendiri untuk menyemarakkan Ramadan, seperti menambah intensitas tilawah al Quran. Target saya adalah bisa menyelesaikan bacaan 30 juz minimal 1 kali selama ramadan.

Di waktu senggang, saya membongkar media tanam anggrek dan menggantikannya dengan yang baru. Jika di tempat sebelumnya anggrek-anggrek saya tumbuh subur di pekarangan, maka di sini saya mendapatkan kenyataan yang menyedihkan. Banyak anggrek saya yang tidak mampu bertahan melewati cuaca ekstrim. Yang semua ada puluhan jenis anggrek spesies, sekarang tinggal segelintir. Saya sedih saat ingat kenangan bersama mereka. Namun, semua sudah takdir dari Allah swt. Yang terpenting adalah berusaha menyelamatkan sisa-sisa yang ada. 

Mengisi Bulan Ramadan

Selain mengisi Ramadan dengan mengurus tanaman, ada beberapa kegiatan lain yang saya lakukan selama ramadan ini. Sayang sekali bila Ramadan yang sangat spesial dan hanya sekali dalam setahun dibiarkan berlalu begitu saja. Kegiatan lain yang saya lakukan adalah berbagi makanan pembuka dengan tetangga. 

Belum banyak yang bisa saya lakukan dengan tetangga baru di sini. Namun, dengan saling mengobrol bersama mereka dan berbagi takjil, saya berusaha menjalin hubungan yang baik itu. Hubungan yang baik itu akhirnya membuat kami saling bertukar tanaman.

Anak-anak saya pun ikut menyemarakkan Ramadan. Dengan memberikan sedikit dorongan kepada mereka,  alhamdulillah mereka mulai  ikut mengaji di mushola. Setiap sore (kecuali Sabtu dan Minggu), mereka akan mempelancar bacaan iqro dan al Quran di mushola. 

Kehadiran Ramadan yang hanya sekejap ini harus diisi dengan banyak kegiatan positif. Keberkahannya yang ingin kita raih. Melakukan kegiatan kecil seperti membaca Al Quran secara rutin atau membaca buku Islami seperti yang kami lakukan akan memberikan manfaat besar bagi kami. 

Saya berharap setelah Ramadan selesai, kegiatan positif itu terus dilakukan. Ayo, jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung masih ada Ramadan!

 

#WomenforWomen

What's On Fimela
Loading