Sukses

Lifestyle

Jepang Dibuka lagi untuk Pariwisata, Minat Kunjungan Tinggi walau Aturan Ketat

Fimela.com, Jakarta Nasea Ronayne, seorang turis asing berniat mengunjungi Jepang untuk pertama kalinya di tahun ini. Perjalanan untuk 16 hari mengharuskannya membayar sekitar Rp 63,9 juta, karena Jepang masih dalam pembatasan COVID-19. Meski mengharuskannya memenuhi banyak persyaratan, Ronayne yang tinggal di Inggris masih ingin melakukan perjalanan tersebut. Ia mengungkapkan betapa antusias dirinya untuk berkunjung ke Jepang, seperti dikutip dari laman BBC.

“Ini akan menjadi pertama kalinya saya di Jepang dan juga pertama kali di Asia. Saya menantikannya. Saya telah menonton acara reality TV Jepang Terrace House untuk memperlajari beberapa frasa,” katanya dengan bersemangat.

Ternyata, tidak hanya Ronayne yang antusias akan kunjungannya ke Jepang. Lonjakan pertanyaan mengenai liburan Jepang juga disebutkan oleh beberapa agen perjalanan, walaupun negara itu masih dalam peraturan ketat. Jepang telah menutup perjalanan ke negaranya dari turis asing semenjak tahun 2020, dan diketahui sebagai negara dengan pembatasan COVID-19 terketat di dunia. Bahkan pada hari Jumat, saat Jepang membuka perbatasan untuk 100 negara dan wilayah, negara ini juga menerapakan peraturan baru.

Persyaratan itu berupa turis harus membeli asuransi kesehatan dan memakai masker di ruang umum. Dibawah aturan baru ini pula turis harus menghindari “Tiga C”: ruang tertutup, tempat ramai, dan pengaturan kontak dekat.

Aturan yang tetap ketat

Badan Pariwisata Jepang selalu wanti-wanti mengenai persyaratan COVID-19 bagi wisatawan terhadap pemimpin-pemimpin tur perjalanan. Mereka harus menemani pengunjung dari masuk hingga keberangkatan.

“Pemandu wisata harus sering mengingatkan peserta tur tentang tindakan pencegahan infeksi yang diperlukan, termasuk mengenakan dan melepas masker, di setiap tahap tur,” kata Badan Pariwisata Jepang yang tertera dalam 16 halaman pedoman yang dirilis hari Selasa.

Meski tetap ketat, agen perjalanan menyebutkan minat turis untuk mengunjungi Negeri Sakura tersebut melambung tinggi. Salah satu agen perjalanan dari Singapura, Chan Brothers Travel telah menerima 50 grup turis untuk mengunjungi Jepang. Jeremiah Wong, juru bicara Chan Brothers Travel mengungkapkan penyelidikan “telah mengalis secara ekspansional”  sejak pertama kali pembukaan kembali Jepang. Ia juga menyebutkan bahwa momentum ini adalah hal yang tunggu-tunggu para pelancong untuk menebus waktu yang hilang dalam dua tahun terakhir.

Bagaimana aturan masuk Jepang?

Direktur Pelaksana Perjalanan Intrepid, Zara Bencheikh, mengatakan ada banyak permintaan untuk mengunjungi Jepang. Perusahaannya berharap tur yang ditawarkan mulai Agustus mencakup destinasi seperti Gunung Fuji. Namun, Bencheikh menyatakan keinginan tersebut belum mendapat persetujuan dari pihak berwenang Jepang.

Tahun 2022 adalah pertama kalinya Jepang kembali membuka negaranya untuk tujuan turisme dan bisnis. Setelah kurang lebih dua tahun penutupan negaranya demi memperlambat penularan COVID-19. Tahun lalu, pengunjung luar negeri seperti atlet tidak diizinkan untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 2020.

Pariwisata di Jepang

Kepala ekonom di Deutcsche Bank Japan,  Kentaro Koyama, menyebutkan pandangannya bahwa “strategi pembukaan kembali yang sederhana” tidak akan banyak berpengaruh pada ekonomi Jepang yang termasuk tiga terbesar di dunia. Dua tahun lalu sebelum pandemi, pariwisata Jepang merupakan bisnis besar dengan rekor 31,9 juta turis asing pada tahun 2019. Sangat berbanding besar jumlahnya dengan jumlah kunjungan pada tahun 2020 yang hanya sekitar 250.000 turis. Meski begitu, industri pariwisata Jepang masih memiliki jalan besar untuk pemulihan.

Salah seorang warga asing bernama Rad Sappany, bercerita pada BBC bahwa ia telah batal terbang ke Jepang bulan depan dari Australia. Ia Juga menyebutkan bahwa ia tidak tertarik dengan paket wisata dan cara tersebut bukan gayanya untuk bepergian. Disisi lain, agen perjalanan butik TokudAw yang berfokus di Jepang milik Wanping Aw, sama sekali belum memiliki pemesanan perjalanan apapun, walaupun mendapatkan pertanyaan dua hingga tiga berkaitan dengan perjalanan dalam sehari.

"Untuk menebus waktu yang hilang dalam dua tahun terakhir atau lebih, para pelancong tidak ragu untuk pergi berlibur, yang telah lama ditunggu-tunggu," kata Wong.

 

*Penulis: Tasya Fadila.

What's On Fimela
Loading