Sukses

Lifestyle

Mengenal Tren Anti-Bucket List, Hal yang Tak Lagi Ingin Dilakukan

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, selama ini kita mungkin lebih familiar dengan istilah bucket list. Isinya biasanya berbagai hal yang ingin dilakukan dalam hidup, mulai dari mengunjungi tempat impian, mencoba aktivitas baru, sampai mengejar pengalaman yang dianggap wajib dirasakan setidaknya sekali.

Namun, bagaimana kalau daftar tersebut justru dibalik? Bukan berisi hal-hal yang ingin dicoba, melainkan hal-hal yang sengaja tidak ingin dilakukan. Konsep inilah yang dikenal sebagai anti-bucket list.

Dilansir dari VICE, anti-bucket list menjadi alternatif bagi orang-orang yang sudah tidak ingin memaksakan diri untuk melakukan berbagai pengalaman hanya karena dianggap menyenangkan atau populer. Daftar ini dapat berisi hal-hal yang ingin dihindari, seperti kesempatan yang tidak ingin diambil, tempat yang tidak ingin dikunjungi, hingga rencana yang memang tidak sesuai dengan keinginan pribadi. 

Konsep tersebut terdengar sederhana, tetapi cukup menarik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kita sering kali lebih terbiasa memikirkan apa yang harus dicapai daripada apa yang sebenarnya ingin dilepaskan. Padahal, menentukan hal-hal yang ingin ditinggalkan juga bisa menjadi cara untuk lebih mengenal diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar kita butuhkan. 

Misalnya, seseorang mungkin merasa harus mengikuti tren traveling karena hampir semua orang di sekitarnya melakukannya. Padahal, bisa saja ia justru lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah. Ada juga yang merasa harus mencoba aktivitas ekstrem, menghadiri pesta besar, atau mengikuti berbagai kegiatan sosial meski sebenarnya tidak menikmatinya.

Melalui anti-bucket list, seseorang dapat memberikan ruang untuk mengatakan, “Ini bukan untuk saya,” tanpa harus merasa bersalah.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk mencoba sebanyak mungkin hal. Mengetahui apa yang tidak kita inginkan juga bisa menjadi bagian dari proses mengenal diri sendiri.

Hal-Hal yang Bisa Masuk ke Anti-Bucket List

Membuat anti-bucket list tidak berarti harus memiliki daftar panjang berisi hal-hal yang benar-benar tidak ingin dilakukan. Justru, daftar tersebut bisa dibuat sangat personal dan sederhana. Isinya pun dapat berubah seiring bertambahnya pengalaman dan berubahnya prioritas hidup.

Misalnya, kamu bisa menuliskan “tidak lagi memaksakan diri menghadiri acara yang membuat tidak nyaman”. Bukan berarti harus menolak semua ajakan, tetapi mulai memilih mana yang memang ingin dihadiri dan mana yang sebenarnya hanya dilakukan karena merasa tidak enak menolak.

Contoh lainnya adalah berhenti mengikuti tren yang sebenarnya tidak sesuai dengan gaya hidup. Ada orang yang merasa harus selalu mencoba restoran viral, membeli barang yang sedang ramai di media sosial, atau mengunjungi tempat wisata populer. Padahal, kalau aktivitas tersebut tidak memberikan kesenangan, tidak ada kewajiban untuk mengikutinya.

Anti-bucket list juga bisa berisi pengalaman yang memang sejak awal tidak menarik bagi diri sendiri. Misalnya, tidak ingin mencoba olahraga ekstrem, tidak tertarik bepergian sendirian, atau tidak ingin menghabiskan akhir pekan dengan jadwal yang terlalu padat.

Inti dari konsep ini memang bukan sekadar membuat daftar larangan, tetapi memberikan izin kepada diri sendiri untuk tidak melakukan sesuatu yang memang tidak diinginkan. 

Menariknya, membuat daftar seperti ini bisa membantu kita melihat bahwa preferensi setiap orang tidak harus sama. Apa yang dianggap sebagai pengalaman seru bagi satu orang belum tentu terasa menyenangkan bagi orang lain.

Daripada terus mengejar pengalaman hanya demi bisa mengatakan “sudah pernah”, sesekali tidak ikut mencoba juga tidak masalah. Hidup tetap berjalan meski kita melewatkan beberapa hal yang sedang dianggap populer.

Jadi, kalau selama ini kamu merasa harus mengatakan “iya” pada banyak hal, mungkin sudah waktunya membuat beberapa daftar “tidak” versi diri sendiri.

Anti-Bucket List Tetap Bisa Membuat Hidup Lebih Fleksibel

Memiliki anti-bucket list bukan berarti kita harus menutup diri dari semua pengalaman baru. Justru, konsep ini dapat menjadi pengingat bahwa mencoba sesuatu sebaiknya dilakukan karena memang ada rasa ingin tahu, bukan semata-mata karena merasa harus.

Misalnya, hari ini kamu merasa tidak tertarik melakukan solo traveling. Itu bukan berarti keputusan tersebut tidak bisa berubah di masa depan. Beberapa tahun kemudian, setelah memiliki pengalaman atau kondisi yang berbeda, kamu mungkin justru ingin mencobanya.

Hal yang sama berlaku untuk aktivitas lainnya. Anti-bucket list bukan kontrak seumur hidup yang mengharuskan seseorang mengatakan “tidak” selamanya. Daftar tersebut lebih seperti catatan pribadi mengenai hal-hal yang saat ini tidak ingin dilakukan atau tidak dianggap penting.

Konsep ini juga bisa membantu membedakan antara keinginan pribadi dan tekanan dari lingkungan. Media sosial sering membuat kita melihat pengalaman orang lain sebagai sesuatu yang harus ikut dimiliki. Mulai dari traveling ke tempat tertentu, mencoba aktivitas yang sedang viral, hingga mengejar berbagai pencapaian di usia tertentu.

Padahal, kehidupan setiap orang memiliki ritme yang berbeda.

Anti-bucket list muncul sebagai alternatif bagi mereka yang sudah lelah memaksakan diri untuk mencari kesenangan melalui pengalaman yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Pada akhirnya, daftar ini bukan tentang menjadi orang yang pesimis atau takut mencoba. Justru, dengan mengetahui apa yang tidak kita inginkan, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Jadi, kalau bucket list berisi berbagai hal yang ingin kamu katakan “iya”, mungkin anti-bucket list bisa menjadi tempat untuk menyimpan beberapa “nggak dulu”.

Karena ternyata, tahu kapan harus berkata tidak juga merupakan bagian dari mengenal diri sendiri.

Penulis: Najwa Maulidina

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading