Fimela.com, Jakarta - Ada orang yang hampir selalu tersedia ketika teman membutuhkan bantuan, sulit menolak permintaan keluarga, dan rela mengubah rencana pribadi agar orang lain tidak kecewa. Dari luar, sikap seperti ini mudah dipandang sebagai kebaikan hati. Namun, ketika kebiasaan menolong terus dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan, waktu, energi, bahkan perasaan sendiri, pola tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang melelahkan.
Mementingkan orang lain tentu bukan sifat buruk. Persoalannya muncul ketika perhatian kepada orang lain tidak lagi diimbangi dengan kemampuan menjaga diri sendiri. Seseorang mungkin mulai merasa bersalah saat berkata tidak, takut dianggap egois ketika memilih beristirahat, atau terbiasa memendam keinginan agar hubungan tetap tenang.
Advertisement
1. Sangat Peka terhadap Kebutuhan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377332/original/049521300_1760089475-pexels-helenalopes-27176798.jpg)
Orang yang terbiasa mendahulukan orang lain biasanya memiliki kepekaan yang cukup tinggi terhadap suasana di sekitarnya. Mereka cepat menyadari ketika teman sedang kesulitan, anggota keluarga membutuhkan bantuan, atau rekan kerja tampak kewalahan. Kemampuan memperhatikan kebutuhan orang lain sebenarnya merupakan kualitas sosial yang baik karena berkaitan dengan empati dan kepedulian.
Masalah mulai muncul ketika radar terhadap kebutuhan orang lain jauh lebih aktif daripada kesadaran terhadap kebutuhan diri sendiri. Seseorang mungkin mampu mengetahui kapan temannya perlu didengarkan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sudah kelelahan. Ia bisa menyediakan waktu berjam-jam untuk membantu orang lain, sementara kebutuhan tidur, makan dengan teratur, pekerjaan pribadi, atau waktu istirahat terus ditunda.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pola people-pleasing dapat terlihat ketika seseorang terus menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri hingga berdampak pada kesejahteraan pribadi. Dalam jangka panjang, pola memberi tanpa keseimbangan dapat memunculkan stres, frustrasi, rasa dimanfaatkan, hingga kebencian yang sebenarnya tidak pernah ingin dirasakan sejak awal.
2. Sulit Mengatakan Tidak Meski Sebenarnya Keberatan
Salah satu ciri yang cukup mudah terlihat adalah kesulitan menolak permintaan. Ketika seseorang meminta bantuan, respons pertamanya sering kali bukan mempertimbangkan kemampuan diri, melainkan memikirkan bagaimana perasaan orang tersebut jika permintaannya ditolak. Akibatnya, kata "iya" dapat keluar meskipun waktu, tenaga, atau kondisi emosional sebenarnya tidak memungkinkan.
Bagi orang dengan pola seperti ini, mengatakan tidak bisa terasa jauh lebih berat daripada menjalankan permintaan yang sebenarnya tidak diinginkan. Ada kekhawatiran bahwa penolakan akan dianggap sebagai sikap tidak peduli, menimbulkan konflik, membuat orang lain marah, atau bahkan merusak hubungan. Karena itu, ia cenderung memilih ketidaknyamanan pribadi demi menghindari kemungkinan ketidaknyamanan sosial.
Dalam konsep terapi skema, International Society of Schema Therapy (ISST) menjelaskan adanya pola self-sacrifice, yakni fokus berlebihan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dengan mengorbankan kepuasan atau kebutuhan diri. Salah satu dorongannya dapat berupa keinginan menghindari rasa bersalah karena merasa egois atau keinginan mempertahankan hubungan dengan orang yang dianggap membutuhkan dirinya.
Advertisement
3. Merasa Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4510503/original/097322200_1689998901-pexels-thirdman-7659457_1_.jpg)
Ketika orang lain kecewa, marah, sedih, atau tidak puas, seseorang yang terlalu berorientasi pada kebutuhan orang lain dapat langsung bertanya-tanya apakah dirinya melakukan kesalahan. Bahkan dalam situasi yang sebenarnya berada di luar kendalinya, ia mungkin merasa mempunyai kewajiban untuk memperbaiki keadaan.
Contohnya terlihat ketika seseorang membatalkan kebutuhan pribadinya hanya karena takut temannya merasa sendirian, selalu menjadi pihak pertama yang meminta maaf agar pertengkaran cepat selesai, atau terus mencoba menghibur seseorang meskipun dirinya sedang tidak mempunyai kapasitas emosional yang cukup. Menjaga perasaan orang lain akhirnya berubah menjadi tanggung jawab yang seakan tidak pernah selesai.
Pola seperti ini juga dapat membuat seseorang terlalu sering mengamati reaksi orang lain sebelum mengambil keputusan. Mengutip dari Psychology Today, people-pleasing dikaitkan dengan kebutuhan mendapatkan penerimaan, rasa tidak aman, serta ketakutan akan penolakan. Jika persetujuan orang lain menjadi patokan utama, seseorang bisa semakin kesulitan mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan dan yakini sendiri.
4. Kebutuhan Pribadi Sering Diletakkan Paling Belakang
Ada perbedaan besar antara sesekali mengalah dan terus-menerus menempatkan diri sebagai prioritas terakhir. Dalam hubungan yang sehat, seseorang kadang mendahulukan pasangan, teman, anak, orang tua, atau rekan kerja karena situasi memang membutuhkannya. Namun, pengorbanan tersebut seharusnya tidak menjadi aturan tetap dalam hampir setiap keputusan.
Pada orang yang cenderung melupakan diri sendiri, kebutuhan sederhana pun dapat terus ditunda. Ia mungkin merasa belum pantas beristirahat karena masih ada orang lain yang membutuhkan bantuannya, menunda membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan karena merasa kebutuhan keluarga lebih penting, atau menggunakan seluruh waktu luang untuk mengurus persoalan orang lain.
Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan kebiasaan bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa yang sebenarnya aku butuhkan sekarang?" Keinginan pribadi menjadi sulit dikenali karena perhatian sudah terlalu lama diarahkan keluar. Bahkan ketika akhirnya mendapatkan waktu untuk diri sendiri, muncul rasa bingung atau bersalah karena tidak sedang melakukan sesuatu untuk orang lain.
Advertisement
5. Mudah Merasa Bersalah Ketika Memilih Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5122316/original/033000000_1738736238-0E6A9891-01.jpeg)
Rasa bersalah sering menjadi penghalang terbesar ketika seseorang mulai mencoba menjaga kepentingannya sendiri. Mengambil waktu untuk beristirahat dapat terasa seperti kemalasan. Menolak ajakan karena sedang lelah dianggap egois. Meminta orang lain menunggu bahkan bisa terasa seperti telah mengecewakan mereka.
Padahal, memperhatikan kondisi sendiri tidak sama dengan berhenti peduli terhadap orang lain. Batasan diperlukan agar bantuan yang diberikan tetap realistis dan tidak membuat seseorang kehabisan energi. Hubungan juga tidak harus selalu dibangun melalui pengorbanan satu pihak.
NHS menekankan bahwa menjaga hubungan dengan diri sendiri juga penting bagi kesejahteraan mental. Dalam hubungan dengan orang lain, seseorang dianjurkan memikirkan sejauh mana bantuan yang memang sanggup diberikan, mempertahankan batas tersebut, menyediakan waktu untuk aktivitas pribadi, serta berbicara dengan orang yang dipercaya ketika tekanan mulai terasa berat.
6. Sering Menghindari Konflik dan Memilih Mengalah
Tidak semua orang yang tidak menyukai konflik mempunyai kecenderungan mengabaikan diri sendiri. Namun, pola tersebut dapat menjadi masalah ketika mengalah selalu menjadi jalan keluar, termasuk dalam hal yang sebenarnya penting bagi dirinya.
Seseorang mungkin setuju dengan pilihan orang lain meskipun tidak menyukainya, menahan keberatan saat diperlakukan tidak adil, atau berpura-pura tidak terganggu karena takut pembicaraan yang jujur akan memicu perselisihan. Dari luar, hubungan tampak tenang. Di dalam diri, ketidakpuasan perlahan dapat menumpuk.
Konflik sebenarnya tidak selalu berarti hubungan sedang rusak. Perbedaan kebutuhan, pendapat, dan batas merupakan bagian normal dari interaksi manusia. Kemampuan menyampaikan ketidaksetujuan secara tenang justru memungkinkan kedua pihak memahami kebutuhan masing-masing. Menghindari semua konflik mungkin menjaga ketenangan sementara, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan yang berada di bawah permukaan.
Advertisement
7. Merasa Berharga Ketika Dibutuhkan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261745/original/001883200_1750685492-friends-chatting-while-sitting-sofa.jpg)
Membantu seseorang dapat memberikan kepuasan tersendiri. Namun, ada perbedaan antara menikmati kesempatan untuk membantu dan merasa bahwa nilai diri sepenuhnya bergantung pada seberapa bergunanya seseorang bagi orang lain.
Orang dengan pola ini dapat merasa sangat dibutuhkan ketika menjadi tempat curhat, menyelesaikan masalah keluarga, mengambil tambahan pekerjaan, atau selalu tersedia ketika seseorang meminta bantuan. Sebaliknya, ketika tidak ada orang yang membutuhkan dirinya, muncul perasaan kosong atau pertanyaan mengenai perannya dalam hubungan.
Kondisi tersebut dapat menciptakan kebiasaan mengambil tanggung jawab lebih banyak daripada yang sebenarnya diperlukan. Seseorang bahkan bisa menawarkan bantuan sebelum diminta karena merasa nyaman berada dalam posisi sebagai pihak yang selalu dapat diandalkan. Tanpa disadari, identitas "orang yang selalu membantu" semakin kuat sementara bagian diri lain kurang mendapat ruang untuk berkembang.
8. Menyimpan Kelelahan atau Kekesalan Sendiri
Orang yang terus memberi belum tentu selalu merasa baik-baik saja dengan pengorbanannya. Ada kalanya rasa lelah, kecewa, dan kesal muncul, tetapi emosi tersebut kembali ditekan karena dianggap tidak sesuai dengan citra sebagai orang yang sabar dan peduli.
Akibatnya, seseorang dapat mengatakan "tidak apa-apa" meskipun sebenarnya merasa dimanfaatkan. Ia mungkin tetap membantu sambil diam-diam berharap orang lain menyadari besarnya pengorbanan yang telah dilakukan. Ketika perhatian atau penghargaan yang diharapkan tidak muncul, rasa kecewa semakin besar.
Inilah sebabnya pemberian yang sehat sebaiknya dilakukan dengan kesadaran mengenai kemampuan dan pilihan diri sendiri. Membantu karena memang bersedia berbeda dengan membantu karena takut ditolak, takut mengecewakan, atau merasa tidak mempunyai pilihan lain. Mengenali perbedaan tersebut dapat membantu seseorang melihat apakah kebaikan yang dilakukan masih terasa sehat atau sudah mulai menguras dirinya.
Advertisement
9. Sulit Mengetahui Apa yang Sebenarnya Diinginkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339707/original/063783600_1788425962-89a19d4d-9510-4788-b300-a025c9d3fc2e.jpg)
Terlalu sering menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain bisa membuat preferensi pribadi semakin kabur. Pertanyaan sederhana seperti memilih tempat makan, menentukan aktivitas akhir pekan, atau merencanakan tujuan hidup dapat terasa lebih sulit daripada seharusnya.
Seseorang mungkin secara otomatis menjawab, "Terserah kamu," bukan karena benar-benar tidak mempunyai pilihan, melainkan karena sudah terbiasa menjadikan keinginan orang lain sebagai pertimbangan pertama. Jika berlangsung lama, kebiasaan tersebut dapat membuat keputusan yang lebih besar—mulai dari pekerjaan hingga hubungan—lebih banyak dipengaruhi harapan lingkungan daripada kebutuhan pribadi.
Membangun kembali hubungan dengan diri sendiri dapat dimulai melalui keputusan sederhana. Memilih makanan yang memang disukai, menentukan bagaimana waktu luang digunakan, atau menyampaikan pendapat kecil tanpa terlebih dahulu mencari persetujuan orang lain merupakan latihan untuk mengenali kembali preferensi pribadi.
10. Perlu Belajar bahwa Merawat Diri Bukan Sikap Egois
Mengurangi kebiasaan terlalu mengutamakan orang lain bukan berarti berubah menjadi tidak peduli. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan agar kebaikan kepada orang lain tidak selalu dibayar dengan pengabaian terhadap diri sendiri.
Langkah pertama dapat dimulai dengan memberi jeda sebelum menjawab permintaan. Daripada langsung berkata iya, seseorang bisa mengatakan bahwa ia perlu memeriksa jadwal atau memikirkannya terlebih dahulu. Jeda tersebut memberi kesempatan untuk mempertimbangkan energi, waktu, kebutuhan, dan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.
Belajar memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan juga mempunyai peran penting. Harvard Health menjelaskan bahwa self-compassion berarti menunjukkan sikap penuh pengertian kepada diri sendiri ketika sedang mengalami kesulitan, kegagalan, atau merasa tidak cukup baik. Sikap ini dapat dilatih, misalnya dengan memperhatikan kebutuhan tubuh, memberikan dorongan kepada diri seperti yang diberikan kepada seorang teman, serta mengamati pikiran dan perasaan tanpa langsung menghakiminya.
Jika kebiasaan mengorbankan diri sudah sangat sulit dihentikan, terus menyebabkan kelelahan, mengganggu pekerjaan atau hubungan, maupun membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri, membicarakannya dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi pilihan. Tujuannya bukan menghilangkan sifat peduli, melainkan membantu menemukan cara tetap hadir untuk orang lain tanpa meninggalkan diri sendiri.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Orang yang Mementingkan Orang Lain
Apakah selalu mementingkan orang lain termasuk people pleaser?
Tidak selalu. Membantu dan mendahulukan orang lain sesekali merupakan bagian normal dari hubungan, tetapi dapat menjadi pola people-pleasing jika dilakukan terus-menerus dengan mengabaikan kebutuhan dan kesejahteraan diri.
Mengapa seseorang sulit mengatakan tidak kepada orang lain?
Penyebabnya bisa beragam, termasuk takut mengecewakan, menghindari konflik, membutuhkan penerimaan, merasa bersalah, atau sudah terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain.
Apakah mementingkan diri sendiri berarti egois?
Tidak. Memenuhi kebutuhan dasar, beristirahat, menetapkan batas, dan mempertimbangkan kemampuan diri merupakan bagian dari perawatan diri yang sehat.
Bagaimana cara mulai berhenti selalu mengalah?
Mulailah dari keputusan kecil, beri waktu sebelum menyetujui permintaan, kenali batas kemampuan, dan berlatih menyampaikan penolakan atau pendapat secara sopan tetapi jelas.
Kapan kebiasaan mengutamakan orang lain perlu dibicarakan dengan psikolog?
Pertimbangkan bantuan profesional jika pola tersebut menyebabkan stres berkepanjangan, kelelahan, rasa bersalah berlebihan, hubungan yang tidak sehat, atau membuat kebutuhan dan keputusan pribadi terus terabaikan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347523/original/053473600_1789351704-2150172158.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4695625/original/015648100_1703240584-caleb-george-AeZncpkqMVU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4568625/original/044600400_1694172056-callum-shaw-xHNcjqTlk6E-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345960/original/062257000_1789100670-pexels-shvetsa-12679946.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5052389/original/032351700_1734334759-lifestyle-people-emotions-casual-concept-thoughtful-troubled-businesswoman-thinking-girl-searching-solution-looking-up-pondering-making-difficult-choice_1258-94461.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111187/original/023809800_1783063078-IMG_1258.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7241807/original/019116900_1780027083-front-view-woman-kid-relaxing-home_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346079/original/053857300_1789109596-pexels-giulianogiudici-18269729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7165470/original/073643600_1779955615-pexels-reneterp-13821255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5932615/original/009181300_1778830171-little-boy-outdoor-crying.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5289607/original/098662900_1753074718-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_12.09.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1662905/original/003171100_1501352511-Taman_Nasional_Gunung_Gede_Pangrango.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5446609/original/066893700_1765931612-Kapolri_Jenderal_Listyo_Sigit_Prabowo.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3560138/original/068350600_1630651083-20210903-Bus-Sekolah-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/849467/original/025285500_1428837125-Ilustrasi-pembunuhan-wanita-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345296/original/029953500_1789028707-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_15.20.35.jpeg)
![Saatnya tampil effortless dengan sport outfit yang multifungsi. [Dok/Pexels.com/Elina Fairytale].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/myxnkg8ufFOTVwQAHdtd9I7CktI=/260x125/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9115193/original/072885200_1783065653-pexels-elly-fairytale-3822725.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111776/original/041290000_1783064103-pexels-martabranco-30784707.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347276/original/045318700_1789288852-IMG_2678.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347360/original/084443000_1789296115-IMG-20260911-WA0014.jpg.jpeg)