Sukses

Parenting

Dapat Merusak Sel Otak, Ini Bahaya Jika Orangtua Sering Membentak Anak

Fimela.com, Jakarta Semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Terkadang, mencoba mendisiplinkan anak bisa membuat banyak orangtua akhirnya frustrasi karena anak mereka tak kunjung berperilaku baik. 

Biasanya, banyak orangtua yang akhirnya memilih cara memarahi bahkan membentak anak mereka untuk mengekspresikan kemarahan dan frustrasi karena perilaku sang anak. 

Melansir laman MedicineNet, penelitian menunjukkan bahwa mendisiplinkan anak dengan cara membentak dengan keras dapat memiliki efek negatif yang serupa dengan hukuman fisik. 

Anak-anak yang terus-menerus dimarahi lebih cenderung memiliki masalah perilaku, kecemasan, Depresi, stres, dan masalah emosional lainnya, mirip dengan anak-anak yang sering dipukul. 

Penelitian tentang Membentak

Melansir sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development Reports, membentak dan melakukan strategi disiplin verbal yang keras akan memiliki konsekuensi serius pada anak-anak. Peneliti menemukan bahwa berteriak meningkatkan masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja. 

Banyak orangtua yang membentak anaknya karena mereka telah kehilangan kesabaran. Akibatnya, mereka cenderung membuat komentar yang menghina atau menyebut nama anak mereka dengan keras, yang mana akan berdampak langsung secara serius pada citra diri pada anak. 

Ketika anak-anak mencapai usia remaja, mereka sangat rentan melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah orangtuanya lakukan terhadapnya kepada orang lain. Studi menemukan bahwa anak-anak dalam kelompok usia ini, anak-anak yang dulunya sering dibentak akan menunjukkan perilaku agresif dan kekerasan.

Menyebabkan Bahaya Jangka Panjang

Membentak tidak hanya berbahaya bagi anak-anak, tetapi juga bukan strategi disiplin yang efektif karena dapat menimbulkan bahaya dan efek negatif jangka panjang. Melansir laman MedicineNet, berikut beberapa bahaya yang akan dialami anak: 

  • Mengalami gangguan dalam perkembangan otak: membentak dan teknik pengasuhan kasar lainnya dapat mengubah cara otak anak berkembang karena otak manusia memproses peristiwa negatif lebih cepat daripada yang positif. 
  • Depresi: ketika seorang anak dimarahi, mereka mungkin merasa sakit hati, takut, dan sedih. Jika sering terjadi, dapat memengaruhi kesehatan mental anak dan dapat menyebabkan masalah psikologis yang lebih dalam seperti depresi atau kecemasan. 
  • Sakit kronis: pengalaman masa kecil yang negatif, termasuk sering dibentak akan memengaruhi nyeri kronis ketika anak beranjak dewasa. Seperti radang sendiri, sakit kepala, masalah punggung dan leher, dan nyeri kronis lainnya.

Cara Alternatif Mendisiplinkan Anak

Anak-anak yang memiliki hubungan positif dan komunikasi yang sehat dengan orangtuanya seringkali berperilaku baik dan ingin membahagiakan orangtuanya. Namun, begitupun sebaliknya. Ketika orangtua sering membentak anak, maka anak akan cenderung berperilaku sama ketika ia beranjak dewasa. 

Maka dari itu, berikut beberapa strategi untuk mendisiplinkan anak tanpa harus membentak: 

  • Tinggalkan konflik sejenak: berikan waktu beberapa menit untuk menenangkan diri, menilai kembali situasi, dan memikirkan apa yang dapat dilakukan daripada membentak dan berteriak. 
  • Kenali pemicunya: membentak tidak terjadi tiba-tiba. Ini biasanya merupakan respons terhadap perilaku atau stres tertentu. Kesadaran diri dapat membantu kamu membuat pilihan yang lebih baik dan menghindari berteriak.
  • Dorong anak untuk mengekspresikan emosinya: cobalah berbicara dengan mereka tentang emosi dan dorong mereka untuk membagikan apa yang mereka rasakan. Melakukan hal ini dapat membantu anak mengembangkan sikap hormat dan memahami bagaimana perasaannya. 
  • Tetap tenang tapi tegas: ketika anak berperilaku tak baik, hindari mengatakan hal-hal menyakitkan dan dapat menurunkan moral mereka. Pertahankan kontak mata dengan anak ketika berbicara sehingga kamu dapat menciptakan ikatan komunikasi yang kuat.

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
5 Olahan Makanan Tinggi Kalori untuk Menambah Berat Badan Anak Usia 2 Tahun
Artikel Selanjutnya
Jangan Diabaikan, Ini 5 Tanda Anak Sebenarnya Belum Siap Kembali Sekolah Tatap Muka