Sukses

Parenting

Kenali Tentang Apa itu Overparenting, Ini Tanda dan Dampaknya Terhadap Buah Hati

Fimela.com, Jakarta Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Tumbuh kembang sang anak saat beranjak dewasa dipengaruhi oleh gaya asuh (parenting) yang didapatkan saat waktu kecil. Maka dari itu, sebagai orangtua harus mengetahui beberapa gaya asuh dan menelaah sisi positif dan negatifnya. 

Kadang-kadang, karena rasa sayang yang berlebihan terhadap anak-anak mereka, orangtua cenderung terlalu membatasi pilihan, keputusan, bahkan perilaku anak-anak mereka. Pola asuh semacam ini dikenal sebagai overparenting. Hal ini dapat memiliki konsekuensi yang merugikan bagi kedua belah pihak.

Untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang overparenting, termasuk definisi, tanda-tanda, dan dampaknya, mari simak artikel ini sampai habis. Informasi yang disampaikan dilansir dari  Verywell Family, Parenting for Brain, dan Times of India.

Lebih Mendalam tentang Overparenting

Overparenting merupakan gaya asuh dimana orang tua terlibat secara berlebihan dalam mengatur kehidupan sang buah hati. Keterlibatan ini ada dalam hal-hal sekecil pilihan, keputusan, hingga perilaku keseharian. Hal ini terjadi karena orang tua takut melihat anak-anak mengalami kesakitan, kegagalan, atau membuat kesalahan.

Mengasuh anak dengan cara yang berlebihan dapat memiliki dampak negatif bagi kedua belah pihak, yaitu orang tua dan anak-anak. Perlindungan yang berlebihan dapat menghambat kemampuan anak untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi serta keterampilan mereka untuk belajar cara melindungi diri sendiri dengan berani. Selain itu, hal ini juga dapat menghambat proses belajar anak-anak untuk bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan mereka sendiri. Selanjutnya, simak tanda-tanda overparenting yang mungkin tidak disadari.

Tanda-Tanda Orangtua Overparenting

1. Terlalu menuntut anak untuk mengikuti kemauan orangtua 

Overparenting ditandai dengan orangtua yang sering berdebat dengan pilihan anak. Contohnya apa yang mereka makan, apa yang mereka kenakan, dengan siapa mereka berteman. Hal ini dapat menghalangi mereka untuk mengembangkan kemandirian yang mereka perlukan. 

2. Mengatur segala urusan anak 

Mengatur setiap aspek kehidupan anak merupakan tanda lain dari overparenting. Terkadang, orang tua cenderung menganggap bahwa hanya ada satu "cara terbaik" atau "cara yang benar" untuk melakukan segala sesuatu, dan hal ini dapat membuat mereka terlalu mengontrol setiap langkah anak. Misalnya, jika orang tua tidak dapat melepaskan kendali dan memberi anak kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal baru, seperti memilih pakaian yang tidak biasa atau menata bak mandi di atas rumah boneka saat bermain, ini mungkin menandakan adanya perilaku overparenting.

3. Tidak bisa membiarkan anak gagal 

Gagal adalah proses tumbuh menuju kesuksesan. Apabila buah hati gagal dan orangtua langsung menolongnya mereka tidak akan belajar dari kesalahanya. Sebaiknya, berilah petunjuk mengenai suatu masalah saat anak menghadapi kesulitan, sehingga orangtua bisa mengembangkan keterampilan pemecahan masalah pada anak. Apabila orangtua tidak bisa membiarkan anak gagal, maka itu tanda dari overparenting

4. Terlalu khawatir 

Kekhawatiran yang berlebihan dapat menghalangi anak Anda untuk menikmati, belajar, tumbuh, dan mengeksplorasi diri serta kehidupannya dengan cara yang sehat. Jika Anda tidak memperlakukan anak Anda seperti manusia yang cerdas, Anda mungkin menghalangi mereka untuk mencapai potensi maksimalnya. Hal ini menjadi salah satu tanda overparenting. 

Dampak Overparenting

Seringkali ada niat baik di balik pola asuh yang berlebihan. Namun, terdapat beberapa dampak negatif yang bisa mempengaruhi kehidupan sang anak. Berikut rinciannya: 

1. Tidak memiliki keterampilan mengatasi masalah yang efektif 

Anak-anak yang terlalu diurus cenderung memiliki keterampilan penyelesaian masalah yang kurang berkembang. Mereka mungkin bergantung pada strategi koping yang tidak sehat, seperti pengalihan perhatian atau fantasizing, untuk menghadapi stres. Ketika orang tua terlalu intervensi dan menemukan solusi untuk anak-anak, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar memecahkan masalah sendiri. Sebagai akibatnya, saat mereka dewasa, sang anak mungkin masih bergantung pada orang tua dan tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menghadapi tantangan di masa depan.

2. Mempengaruhi kesehatan mental 

Ketika orang tua berlebihan dalam menghindari risiko dan membatasi aktivitas anak untuk menjaga keselamatan mereka, anak cenderung mengalami gejala depresi dan kecemasan. Keterampilan maladaptif yang mereka kembangkan, seperti internalisasi dan menjaga jarak, dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan di masa dewasa. 

3. Menurunkan kepercayaan diri 

Meskipun pola asuh yang responsif dapat meningkatkan harga diri anak, pola asuh yang berlebihan justru terkait dengan persepsi diri yang lebih rendah dan kurangnya keyakinan pada kemampuan diri, yang dapat berdampak negatif pada prestasi akademis anak. Ketika orang tua terlalu terlibat, ini dapat menimbulkan keraguan terhadap kemampuan anak. Akibatnya, buah hati mungkin mengembangkan pikiran negatif tentang diri mereka sendiri, seperti meragukan kemampuan dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang diasuh oleh orang tua yang terlalu protektif cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah, prestasi akademis yang kurang baik, dan sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus.

4. Bergantung pada orang lain 

Menurut penelitian, siswa yang memiliki orang tua yang terlalu terlibat lebih cenderung bergantung pada orang lain untuk mencari solusi daripada mengambil tanggung jawab sendiri. Mereka mungkin memiliki keyakinan diri yang rendah dan merasa tidak mampu menyelesaikan tugas dan tujuan mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi terlalu bergantung pada bantuan orang lain dan tidak mengambil tanggung jawab dalam pekerjaan mereka.

5. Menimbulkan narsisme

Ketika anak-anak terlalu dimanjakan oleh orang tua yang memberikan kepuasan berlebihan, mereka mungkin merasa berhak dan terus menuntut perlakuan seperti itu saat mereka dewasa. Jika orang tua terlalu responsif dengan cara yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, maka anak-anak akan lebih mungkin mengembangkan sifat-sifat narsistik secara patologis. Dalam studi longitudinal selama 20 tahun, para peneliti menemukan bahwa pola asuh yang berlebihan berdampak langsung pada perkembangan narsisme pada orang dewasa muda.

 Penulis: Naela Marcelina 

#Unlocking The Limitless

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading