Happy Salma Berebut Jadi Nyonya Nomer Satu

Puput Puji Lestari diperbarui 18 Nov 2015, 17:56 WIB

Fimela.com, Jakarta Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto siap mementaskan karya Indonesia Kita ke-18, Nyonya Nomer Satu. Indonesia Kaya ingin menjadikan panggung teater dan pentas seni budaya sebagai rumah, sebagai tempat bertemu dan berkumpul masyarakat untuk mengapresiasi seni budaya dan keberagaman yang ada di antara kita. Dalam pentas Nyonya Nomer Satu, Happy Salma turut terlibat menjadi salah satu pemain terater.

“Selama ini, melalui pentas-pentas Indonesia Kita, kami mencoba memahami kembali Indonesia sebagai sebuah proses panjang berbangsa dan bernegara melalui jalan kesenian serta kebudayaan. Sebagai sebuah proses dialog, kami selalu mengajak para seniman untuk berkolaborasi,” ujar Butet Kartaredjasa, penggagas ide Indonesia Kita melalui rilis kepada Bintang.com.

Kisah Nyonya Nomor Satu berlatar belakang kelompok tonil/stamboel komedi yang mulai bangkrut. Para bintang-bintang lama di kelompok itu mulai gelisah, karena kini mereka bagai hanya tinggal sebagai sebuah monumen kenangan. Sementara mereka terus berusaha untuk tetap eksis dalam dunia hiburan panggung. Di tengah situasi yang menggelisahkan seperti itu, muncul mantan pemain yang pernah ikut dalam kelompok Stamboel Komedi itu. Kemunculannya membuat kaget: karena kini ia telah kaya raya.

Dia selalu menganggap dirinya sebagai Nyonya Nomor Satu, selalu ingin menjadi yang utama dan menjadi primadona. Padahal dulunya, saat ikut kelompok Stamboel Komedi, dia hanya selalu kebagian peran-peran kecil, sebagai jongos atau pembantu. Tapi kini ia mau menolong menghidupkan kembali kelompok kesenian itu dengan satu syarat: ia menjadi pemeran utama, bahkan ia yang akan mengatur semua cerita dan lakon. Dengan kekayaan dan uang yang dimilikinya, ia merasa bisa mengatur segalanya. Bahkan untuk membuktikan bahwa ia hebat dan berbakat, ia mengatur agar memanggil para bintang lama seperti Titiek Puspa, dll untuk sepanggung dengannya.

Nyonya Nomor Satu itu diperankan oleh Yu Ningsih. Ia yang dulunya batur dan jongos di kelompok itu, kini menjadi yang paling berkuasa. Sementara itu, ada tokoh calon primadona yang lebih disukai, dan diharapkan akan menjadi bintang di kelompok itu. Gadis cantik dan berbakat yang diperankan Happy Salma. Tetapi Nyonya Nomor Satu tak suka. Maka persaingan antara keduanya pun diam-diam terjadi. Maka perebutan peran sebagai primadona bercampur aduk dengan perebutan kisah cinta. Bahkan kisah cinta yang dulu terjadi antara Nyonya Nomor Satu dan pemimpin tonil (Susilo Nugroho), dan seorang bintang lelaki (Tarsan) muncul kembali.

Dengan segala kekayaan yang dimilikinya, Nyonya Nomor Satu merasa berhak mendapatkan cinta itu. Kisah cinta yang ruwet justru membuat suasana di kelompok itu makin kusut. Ada upaya permainan dukun, jampi-jampi, bahkan intrik-intrik antar pemain yang membuat situasi bertambah konyol dan kocak.

Hingga akhirnya, di akhir kisah, terbongkarlah semua rahasia yang selama ini ditutup-tutupi, siapakah sebenarnya Nyonya Nomor satu itu (yang punya banyak suami, yang sukses dengan semua kekayaannya), dan siapa sesungguhnya gadis calon primadona itu: yang tak lain adalah anak Nyonya Nomor Satu yang pernah dibuangnya.