Editor Says: Pantaskah Marah pada Supir Ojek Online?

Karla Farhana diperbarui 16 Des 2016, 12:28 WIB

Fimela.com, Jakarta Perkara ojek dan taksi online mungkin sudah tak lagi meradang seperti beberapa bulan lalu. Meski masih ada rasa takut dari supir-supir ojek online terhadap ojek pangkalan (opang), gelombang emosi masyarakat kini sudah cenderung tenang. Tapi gelombang di samudera yang begitu luas, tak akan pernah benar-benar diam.

Akan selalu ada dua kubu pada masyarakat. Mereka yang mendukung dan menentang. Mereka yang setuju dan menolak. Mereka yang diam dan angkat bicara. Mereka yang jujur dan berdusta. Tapi masalahnya, masyarakat negeri ini tak lagi terbagi menjadi dua kelompok.

Selain kelompok kanan dan kiri, ada mereka yang berasal dari kelompok depan dan belakang. Parahnya, sebagian dari kelompok satu bisa juga bagian dari kelompok lainnya. Mereka menentang, tapi tetap menggunakan jasa ojek online. Mereka tak puas, tapi tetap saja order namun dengan tambahan omelan pada setiap email feedback yang mereka kirimkan kepada pihak perusahaan. Tapi sayangnya, omelan tersebut kadang hanya ‘umpatan’ dan ‘lava’ dari kemarahan, tanpa ada solusi dan ide baru untuk memperbaiki.

Saya pengguna jasa ojek dan taksi online. Hampir setiap hari, hidup saya tak lepas dari ponsel dan aplikasi-aplikasi ojek online terserbut. Saya menggunakannya cukup sering. Artinya, jasa tersebut menjadi kebutuhan utama dalam setiap aktivitas.

Suatu hari, saya hendak berangkat ke suatu tempat. Tentu saja saya menggunakan jasa layanan ojek yang bisa dipesan lewat ponsel. Memilihnya bukan hanya perkara lebih murah, tapi juga lebih mudah, dan mudah-mudahan lebih cepat dari angkot atau kendaraan umum lainnya.

Sayang, supir ojek online tersebut nampaknya tak pernah belajar untuk menggunakan GPS. Tak juga mau menelepon atau mengirim SMS untuk menanyakan patokan jalan menuju kediaman saya. Dan parahnya, saya pun lagi-lagi termakan amarah dan kekesalan, lantas memilih untuk bertahan menunggu tanpa berusaha menghubungi lebih dulu. Tapi sambil ngomel.

Begitu ojek itu sampai, saya naik. Saya masih juga ketus dan kesal karena keterlambatannya. Belum lagi kalau bapak supir itu tak begitu familiar dengan jalur yang kami lewati. Ditambah, GPS yang tak akurat dan kecepatan Internet yang berkualitas rendah.

Meski saya pengguna setia, saya ternyata juga termasuk dalam kelompok mereka yang kerap marah dan kesal dengan layanan ojek online ini. Saya ternyata juga bagian dari lelehan ‘lava’ amarah tanpa memberikan solusi.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Berlindung dari Prinsip Profesionalitas

Lima bintang yang kadang saya berikan pada hampir setiap supir kerap kali tak jujur dan adil. Kadang, meski tetap mengomel dan kesal sepanjang hari, saya tetap berikan lima bintang dengan alasan kasihan atau, ya... karena ingin saja. Tapi juga ada kalanya saya tak begitu mengomel dan protes. Tapi lantas memberikan satu bintang sebagai penilaian .

Terlepas dari pelanggan kelompok mana, pantaskah jika menghardik hingga meluapkan emosi dengan kata-kata kasar? Cukup cerdaskah pelanggan dalam memberikan feedback buruk dengan cara yang lebih manusiawi?
Beberapa waktu lalu beredar sebuah percakapan antara supir ojek online dan pelanggannya yang saling mengamuk.

Pasalnya, si pelanggan terlalu lama membiarkan sang supir menunggu, tanpa memberikan kabar lebih lanjut. Janjinya, pelanggan itu hanya membutuhkan waktu sekian menit hingga sampai pada titik temu yang mereka sudah sepakati. Tapi setelah setengah jam, pelanggan tersebut tak juga datang. Maka sang supir langsung cancel perjalanan dan mencari pelanggan lain.

Tindakan supir tersebut ternyata membuat pelanggan yang tadi naik pitam. Dia lantas marah dan memaki sang supir lewat SMS. Pertengkaran antara mereka akhirnya terjadi hingga percakapan tersebut menjadi viral di media massa.

Tapi pertanyaannya, perlukah umpatan dan omelan terus mengalir? Betul, ada beberapa supir yang memang menjengkelkan. Tapi pernahkah berpikir mengenai sisi lainnya? Perkara sang supir tak bisa menemukan jalan menuju tempat tertentu mungkin karena dia memang tak begitu familiar dengan GPS. Mungkin karena kehabisan pulsa atau sinyalnya yang buruk.

Memberikan komentar dan mengatai supir bodoh nampaknya keterlaluan. Tak ingatkah, para supir tersebut sebagian merupakan mereka yang berasal dari kelas menengah dan bawah? Memang ada banyak supir ojek online yang juga karyawan kantoran dengan pendidikan tinggi. Tapi juga banyak yang tak lulus sekolah. Pendapatan narik sehari-hari pun mungkin tak cukup membeli paket Internet mahal dengan sinyal kuat. Tak ingatkah kalau saya, kamu, dan pelanggan lainnya juga saling membutuhkan?

Kadang kita berlindung dari kata profesionalitas. Menganggap diri sendiri merupakan pelanggan dengan segudang kepantasan yang harus dipenuhi sang supir. Pelanggan memang raja. Tapi bukankah raja justru harusnya bermartabat sekalipun marah dan kesal setengah mati?

Kubu pada pelanggan layanan ojek online bukan lagi terbelah menjadi dua; mereka yang setia dan yang beralih pada angkutan umum lain. Tipe pelanggan kini seperti diagram lingkaran yang saling bertumpuk dan ruwet. Pelanggan yang setuju juga bagian dari mereka yang tak setuju. Pelanggan yang membutuhkan jasa tersebut juga bagian dari yang menentang diam-diam, tapi masih juga menggunakan layanan tersebut. Marah, tapi tanpa memberikan solusi terbaik untuk kepentingan bersama.

Maka pantaskah kita melebelkan para supir bodoh hanya karena sering nyasar? Pantaskah pelanggan, yang juga jelas-jelas masih membutuhkan layanan tersebut menghardik dan bahkan ‘menyemprotkan’ umpatan baik kepada sang supir secara pribadi, maupun kepada manajemen perusahaan?

 


Editor Feed,
Karla Farhana