Selain Istirahatlah Kata-kata, Puisi Wiji Thukul Ini Inspiratif

Puput Puji Lestari diperbarui 05 Agu 2021, 21:26 WIB

Fimela.com, Jakarta Wiji Thukul adalah penyair yang kritis terhadap ketidakadilan penguasa. Rezim Soeharto telah 30-an tahun memegang pemerintahan di Indonesia dan mematikan demokrasi. Puisi-puisi Wiji lugas dan selalu diteriakkan dalam demonstrasi-demonstrasi melawan rezim.

Pada Juli 1996, pecah kerusuan di Jakarta, Wiji Thukul dan beberapa aktivis pro-demokrasi ditetapkan sebagai tersangka pemicu kerusuhan. Wiji lalu melarikan diri ke kota Pontianak. Selama hampir 8 bulan di Pontianak, Wiji tinggal berpindah-pindah rumah bahkan tinggal bersama dengan orang-orang yang sama sekali belum dia kenal.

Wiji mengawali pelariannya dengan ketakukan, karena status baru menjadi buronan. Namun, Wiji tetap menulis puisi dan beberapa cerpen dengan menggunakan nama pena lain. Wiji juga berganti identitas untuk mengelabui administrasi negara, tercatat Wiji menggunakan beberapa nama di dalam pelariannya.

Di Solo, Sipon istri Wiji Thukul hidup bersama dua anaknya. Sipon ditekan, rumah diawasi polisi, koleksi buku-buku disita dan beberapa kali Sipon digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi. Mei 1998, Wiji Thukul hilang, sebulan sebelum Soeharto diturunkankan rakyatnya sendiri. Kisah inilah yang menjadi cerita di film Istirahatlah Kata Kata.

Puisi Wiji Thukul telah menjadi roh dan kekuatan rakyat Indonesia untuk terus melawan rezim Orde Baru hingga kini. Suaranya hingga kini masih terdengar. Semangatnya masih hangat dalam relung kalbu. Seolah terus membisikkan untuk tetap melawan dan menolak lupa akan ketidakadilan yang telah terjadi.