14 Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Kesalahan

Fimela diperbarui 12 Apr 2011, 16:48 WIB

Apakah saya akan mengubah apa yang sudah terjadi? Nggak yakin juga, sih. Saya mungkin nggak akan terlibat hutang kartu kredit, tapi kalau begitu saya nggak akan tahu kepuasan yang muncul saat hutang tersebut saya selesaikan. Saya mungkin bisa membuat pilihan karir yang lebih baik, tapi jadinya saya nggak punya pengalaman kerja yang menghantarkan saya ke pekerjaan saya sekarang.

Rasanya saya nggak akan mengubah segala yang sudah terjadi. Tapi, melihat ke belakang, ada beberapa pelajaran yang akan saya bagi dengan diri saya saat berumur 20-an. Apakah saya membaginya sekarang karena ingin menceritakan penyesalan saya? Tidak, saya sharing dengan harapan siapa pun, laki-laki atau perempuan, bisa mengambil manfaat dari kesalahan dan apa yang saya pelajari.

Berikut ini bukan daftar yang panjang dan penuh penyesalan, tapi daftar yang saya harap bisa berguna minimal untuk segelintir orang.

  1. Bagaimana mengontrol napsu belanja. Kalau ada satu hal yang membuat saya kesulitan keuangan, adalah gairah belanja dadakan. Beli baju yang nggak saya perlu (walau rasanya perlu banget, pada saat itu). Beli tas branded karena saya harus punya. Belanja online karena bisa beli apa saja yang nggak ada di sini. Hal yang nggak bikin diri saya bangga. Tapi saya belajar untuk mengendalikan si napsu tersebut, paling nggak sedikit lebih baik. Sekarang, kalau tergoda sesuatu, saya berusaha mengalihkan dengan bernapas panjang. Menghitung dan mengecek apakah saya punya uangnya, berpikir apakah itu keinginan atau kebutuhan. 10 years ago, that would have been a useful tool.
  2. Berusaha tetap aktif. Dulu saya rajin olahraga, basket dan tenis saat sekolah menengah, tapi begitu mulai kuliah, kedua olahraga tersebut saya tinggalkan. Nggak langsung – tapi sedikit demi sedikit jadi nggak terlalu penting dibanding kuliah dan main. Sekarang main dengan anak bikin saya kecapekan. Dan saya mulai menimbun lemak. Saya sudah mulai olahraga lagi, dan sekarang sangat aktif bergerak, tapi masih banyak timbunan lemak yang harus saya hilangkan dari masa-masa tanpa olahraga tersebut.
  3. Bagaimana merencanakan keuangan. Pada dasarnya saya tahu kalau perlu membuat budget dan mencatat semua pengeluaran, begitu mulai punya penghasilan sendiri. Tapi kok rasanya malas sekali. Dan saya nggak tahu bagaimana melakukannya dengan benar. Sekarang, saya belajar untuk membuat perencanaan uang sederhana, and how to stick to that plan. Sesekali memang saya membandel dari plan tersebut, tapi saya juga belajar untuk mengatasi kebandelan. Ini mungkin bukan kemampuan yang bisa dipelajari dari buku. Harus latihan and learning by doing. Paling nggak, saya berharap bisa mengajarkan pada anak saya sedari kecil dan saat dia beranjak dewasa.
  4. Junk food akan tersimpan manis di bokong. Bukan cuma gaya hidup yang super malas yang bikin lemak saya menumpuk. Tapi makan junk food juga. Saya bisa makan gorengan dan kentang goreng dan fried chicken dan desserts dan donat…walaupun nggak sekaligus, well, you get the picture. Karena terlalu terbiasa bisa makan apa saja, tanpa kelebihan berat badan, jadinya nggak pernah menganggap junk food suatu masalah. Badan nggak sehat adalah sesuatu yang harus kamu kuatirkan saat usia bertambah. Jins banyak yang terlalu ketat, dan seramnya, ukuran celana serta rok bertambah dan berhadiah muffin top alias perut membuncit. Saya berharap, ada yang bisa menunjukkan foto diri sekarang ini kepada diri saya 15 tahun lalu.
  5. Merokok is a stupid decision. Saya nggak mulai merokok sampai saat lulus kuliah. Nggak usah dibahas kenapa saya merokok, tapi dulu rasanya bukan satu masalah besar, karena saya tahu bisa berhenti kapan saja. Saya berhenti merokok saat hamil dan menyusui. Mulai lagi saat anak sudah nggak menyusui. Sempat berhenti lagi karena berpikir sudah nggak kuat, tapi ternyata ganti merek adalah solusinya (ha!). Setelah akhirnya saya benar-benar berhenti setahun yang lalu, saya baru tersadar, kalau merokok nggak ada gunanya buat saya. Baju dan badan bau rokok, apalagi mulut. Dan untuk kesehatan? Zero.
  6. Dana pensiun, tabungan dan asuransi. Jangan diutak-atik, harus disimpan. Hal yang sebenarnya semua orang juga tahu. Tapi rasanya saya nggak benar-benar sadar, at least not 10 years ago. Pensiun atau berhenti bekerja adalah sesuatu yang rasanya hanya perlu dipikirkan saat sudah berumur 30an. Well, saya sudah lewat 30 dan pengen rasanya menampar diri saya sendiri. Berapa banyak uang yang bisa saya miliki sekarang! Sempat punya Jamsostek, tapi sudah saya tarik saat ganti pekerjaan, dan habis entah kemana.
  7. Segala hal yang terlihat sulit – pasti akan berguna. Ini salah satu yang nggak terlihat nyata. Ada saatnya dalam hidup saya, pekerjaan berat, nggak termasuk dalam job description dan saya toh tetap melakukannya, walaupun nggak enjoy. Jadinya stres dan kecapekan. But you know what? Setiap pekerjaan seberat apapun yang saya lakukan, walaupun seharusnya itu bukan pekerjaan saya…akhirnya bisa berguna buat saya. Memang nggak langsung, tapi kemampuan dan pengetahuan yang saya pelajari di waktu yang berat dan penuh tekanan serta super stres – membantu saya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, dan menjadikan saya into the person I am today.
  8. Sisihkan waktu untuk mengejar keinginan atau passion, sesibuk apapun. Sejak kecil saya ingin sekali jadi penulis, mungkin sejak saya bisa membaca…satu hal yang ingin saya lakukan tapi kok rasanya jauh dari realita. Atau kalau pun bisa, pastinya akan lama sekali. Tapi saya nggak pernah punya waktu untuk menulis. Akhirnya saat majalah tempat saya bekerja kekurangan reporter, saya menawarkan untuk membantu liputan dan menulis. Sampai akhirnya sekarang, justru pekerjaan utama saya adalah menulis. Yes, you can do anything you want. Jangan pernah meremehkan cita-cita atau keinginan sekecil apapun. If it is something good, do it, or at least try to do it.
  9. Semua yang bikin stres – nggak akan berarti dalam 5 tahun, apalagi 15 tahun. Saat suatu hal terjadi padamu sekarang, memang dunia seperti terbalik. Saya punya deadline dan pekerjaan dan orang-orang yang menuntut sesuatu dari saya, dan tingkat stres sudah setinggi langit. Saya nggak menyesali bekerja keras tapi rasanya nggak akan terlalu stres kalau hal-hal yang saya pusingkan nggak akan berpengaruh beberapa tahun ke depan. Perspective is a good thing to learn. Orang-orang yang menjadi temanmu lebih penting daripada pekerjaan atau barang yang kamu beli. Saya sudah beberapa kali berganti pekerjaan, beli berbagai macam barang, dan punya sederetan teman 15 tahun terakhir ini. Dari semuanya, yang penting buat saya adalah para sahabat (dan satu dua tas andalan) dan juga keluarga.
  10. Anak tumbuh besar lebih cepat dari yang kita sadari. Jangan buang waktu. Anak saya sebentar lagi masuk sekolah menengah dan tanpa sadar sudah waktunya dia meninggalkan rumah. Rasanya saya pengen balik ke diri saya saat lebih muda dan berkata; Berhenti bekerja terus-terusan! Kurangi keluyuran! Habiskan waktu lebih banyak dengan anak! Tahun-tahun bersama anak sepertinya berlalu terlalu cepat.
  11. Lupakan drama. Fokus pada kebahagiaan. Banyak hal yang terjadi pada saya, profesional atau personal, that seem like the end of the world. Walaupun mungkin memang sesuatu yang buruk, saat meledak di kepala yang terlihat adalah drama besar. Membuat saya merasa depresi dari waktu ke waktu. What a waste of time. Kalau saya cepat menyadari kalau semuanya hanya ada di pikiran saya, dan saya bisa bahagia hanya dengan fokus pada sisi positif, pada apa yang saya miliki, dan apa yang bisa saya lakukan…saya bisa melewatkan masa-masa penuh airmata.
  12. Tequila (alcohol) is seriously evil. Saya nggak akan membahas dengan detil, tapi cukup dengan mengatakan kalau saya punya pengalaman jelek, dan nggak yakin kalau ada yang bisa saya pelajari selain alkohol adalah minuman yang nggak ada gunanya.
  13. Semua kesalahan yang akan kamu lakukan, walaupun sudah membaca tulisan ini? They’re worth it. Saya yang berumur 20 tahun mungkin akan membaca artikel ini dan bilang, “Good advice!” Dan kemudian melakukan kesalahan yang sama, walaupun nggak berniat seperti itu. Saya bukan anak yang bandel, tapi memang nggak suka diatur. Saya harus melakukan kesalahan, dan live my own life. Dan itu yang saya lakukan, dan nggak ada yang saya sesali. Setiap pengalaman yang saya lalui (sejelek apapun) telah mengarahkan saya kepada hidup saya saat ini. I love where I am today, dan nggak akan menukarnya dengan apapun. Rasa sakit, stres, drama, kerja keras, kesalahan, depresi, hangover, hutang, lemak…it was all worth it.
  14. Bagaimana denganmu? Poin ke-14 adalah milikmu. Let's share.

 

 

What's On Fimela