Prabu Revolusi: Rambah Bisnis Kuliner Berbekal Kesuksesan di Televisi

Fimela Editor diperbarui 05 Apr 2013, 06:30 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Bisnis berbuah bisnis

Lelaki dengan latar belakang pendidikan teknologi ini, justru dikenal melalui dunia broadcast. Prabu mengawali karirnya di dunia televisi sebagai reporter. Perlahan tapi pasti, karirnya pun melesat sebagai news anchor dan host di berbagai program acara beberapa stasiun TV. Tidak puas hanya “menguasai” dunia broadcast, Prabu merambah dunia bisnis.

Hobi minum kopi dan hangout di kedai kopi, bersama teman-temannya, Prabu membuat satu kedai kopi yang ia sebut dengan Graet Day Indonesia. Pada tanggal 1 November 2012, kedai pertama Great Day Indonesia resmi dibuka di daerah Kedoya, Jakarta Barat.

“Saya dan beberapa teman sebelumnya memang sudah membuat satu usaha yang biasa memberikan kursus-kursu singkat tentang kewirausahaan dan keuangan pada profesional. Nah, biasanya ketika kami meeting atau sekadar bertemu, biasanya kedai kopi menjadi tempat tujuan kami. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat GreatDay Indonesia. Selain kami membuat “tempat nongkrong” sendiri, kami juga mencoba merealisasikan satu ide bisnis dari obrolan-obrolan kami. Berbeda dari kedai kopi yang sudah ada dan biasanya hadir di daerah keramaian, GreatDay Indonesia justru mendekati komunitas-komunitas. Dan jika biasanya kita harus merogoh kocek cukup dalam untuk segelas kopi, GreatDay Indonesia hadir membawa kopi berkualitas dengan harga murah,” Prabu bercerita saat dihubungi FIMELA.com lewat telepon.

3 dari 4 halaman

Next

 

Sediakan kopi murah, namun tidak murahan

Baru berusia 5 bulan, namun Prabu sudah bisa membuka 6 kedai kopi di 6 titik. Dengan menghadirkan kedai-kedai kopi kecil, Prabu berusaha untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap beragam kopi dan teh dengan harga murah, mengingat kopi juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota saat ini.

“Harga produk di GreatDay Indonesia mulai dari Rp5.000,- hingga yang paling mahal Rp22.000,-. Tapi, walaupun harga kopi kami murah, kami menyediakan kopi berkualitas yang tidak kalah dengan produk-produk di kedai-kedai kopi yang dijual dengan harga mahal. Kami bisa menjual produk dengan harga murah, karena kami masuk ke konsumen melalui komunitas untuk mencari tempat. Jadi, kami bisa memotong biaya sewa tempat yang harus kami keluarkan. Sebenarnya modal untuk membuat kopi juga cukup murah. Untuk segelas espresso misalnya, modal yang diperlukan hanya sekitar Rp3.000,-. Kenapa kedai-kedai lain menjual produk mereka dengan harga tinggi karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk sewa tempat. Salah satu visi dari GreatDay Indonesia membuka kedai kopi kecil di setiap komunitas yang menawarkan kopi berlualitas, selain itu, kami juga ingin membuat kopi yang bisa menemani konsumen dalam beraktivitas,” Prabu kembali bercerita.

4 dari 4 halaman

Next

Gencar kembangkan bisnis, berencana pensiun dari dunia TV?

Saat ini, Prabu tengah fokus pada bisnis kuliner yang baru dijalaninya, kedai kopi dan warung steak. Tahun ini Prabu memiliki target untuk membuka 100 kedai kopi di Jakarta. Melalui akun social media pribadinya, Prabu gencar mempromosikan kedua bisnisnya yang baru memasuki usia 5 bulan. Gencar mengembangkan bisnis baru, mungkinkah ada rencana untuk hengkang dari dunia TV yang membesarkan namanya?

“Nggak juga sih. Jujur, bisnis juga merupakan salah satu passion saya. Sebelumnya bisnis kuliner bersama teman-teman, saya juga sudah membuka usaha showroom di Bandung. Yang berbeda, di Bandung saya benar-benar membuka usaha sendiri, walaupun kecil tapi usaha saya masih jalan hingga saat ini. Jadi, kalau ditanya soal resign dari TV, nggak. Saya nggak ada niat untuk resign dari TV,” ujar suami Zee Zee Shahab.

Setelah kuliner, akan ada bisnis baru lain di bidang….

Sebelum akhirnya fokus berkarir di dunia broadcast hingga saat ini, Prabu mengaku bahwa sebelumnya ia sempat bekerja di sebuah perusahaan IT. Latar belakang pendiidikannya dari jurusan Teknik Fisika, membuat Prabu tergerak untuk membuat bisnis baru di luar bisnis showroom dan kuliner yang sudah ia jalani saat ini.

“Untuk tahun ini, sepertinya saya akan fokus dulu untuk membesarkan bisnis yang sudah berjalan saat ini. Tapi, tentu saya ingin mencoba bisnis lainnya nanti. Kebetulan dulu saya berasal dari latar belakang teknik dan sempat bekerja di perusahaan IT, saya pun sempat terpikir untuk membuka bisnis di bidang IT. Wacana ini pernah saya lontarkan kepada teman-teman bisnis di bisnis kuliner saya dan mereka pun menyambut baik ide saya. Rencananya saya ingin membuat bisnis digital publishing. Tapi, entah kapan bisa terealisasi. Bisa saja ketika ada momen pas, wacana digital publishing ini akan segera terwujud mengingat saya (dan teman-teman) tidak memerlukan waktu lama untuk menjalankan bisnis kuliner kami,” tutur Prabu mengakhiri pembicaraan.