Reeyot Alemu 'Jurnalis Ethiopia', Dicap Teroris, Diganjar Penjara & Tumor Payudara

Fimela Editor diperbarui 07 Mei 2013, 10:29 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Kebebasan berpendapat rupanya masih belum seutuhnya terealisasi. Di sudut-sudut kota dan berbagai penjuru dunia, demokrasi dan kebebasan berpendapat selalu digadang-gadangkan. Namun, sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau ‘bebas berpendapat’ sekadar teori yang manis diucapkan dan sulit untuk dilaksanakan seutuhnya. Masih ada negara dan perangkatnya yang memegang kunci kendali.

Setelah Aung Suu Kyi yang menjadi korban kemutlakan kuasa negara, kini Reeyot Alemu, seorang jurnalis asal Ethiopia menjadi korban berikutnya. Jika Aung Suu Kyi ditahan karena berusaha membawa paham demokrasi ke negaranya, Reeyot ditahan karena secara gambling membeberkan tentang kondisi politik, kemiskinan, dan ketimpangan gender di negaranya.

Pada tahun 2010, Reeyot mendirikan perusahaan penerbitan dan majalah sendiri, Change, yang keduanya kemudian ditutup dalam jangka waktu yang tidak lama. Pertengahan tahun 2011, Reeyot berprofesi sebagai kolumnis di koran mingguan, Feteh. Pada saat yang sama ia pun ditahan atas tuduhan sebagai ‘teroris’.

Menurut data dari International Women’s Media Fundation, Reeyot hanyalah salah satu dari sekian banyak jurnais yang diinterogasi, ditahan, dan diancam di negara-negara Afrika Timur. Namun, rupanya penjara sama sekali tidak mengubah idealisme Reeyot sedikit pun. Ketika dalam masa penahanan, Reeyot pernah ditawarkan pengurangan hukuman dengan catatan ia mau bersaksi melawan rekan-rekan sesama jurnalis. Reeyot serta merta menolak tawaran tersebut. Dengan tuduhan tidak kooperatif, Reeyot pun dipindahkan ke dalam sel lain dan diisolasi selama 13 hari. Bahkan, menurut kabar, Reeyot diisolasi hingga 2 bulan dengan tuduhan tingkah laku buruk selama dalam penjara.

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

 

Tanggal 3 Mei kemarin, dalam rangka memeringati Hari Kebebasan Pers Sedunia, UNESCO menganugerahkan Guillermo Cano World Press Freedom Prize 2013. Reeyot direkomendasikan oleh juri internasional independen atas keberanian, daya tahan, dan komitmennya dalam mempertahankan kebebasan berekspresi.

The UNESCO Guillermo Cano World Press Freedom Prize kali pertama dicetuskan pada tahun 1997 oleh Dewan Penasihat Eksekutif UNESCO. Setelah itu, penghargaan ini pun selalu diberikan setiap tahun dalam rangka memeringati Hari Kebebasan Pers Sedunia pada tanggal 3 Mei. Penghargaan ini diberikan kepada individu atau organisasi yang memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan dan memperjuangkan kebebasan berekspresi di manapun mereka berada, terlebih bagi mereka yang telah menerima risiko besar atas komitmen yang mereka jalani.

Sebelum menerima penghargaan dari UNESCO tahun ini, Reeyot mendapat dianugerahi penghargaan Courage in Journalism Award pada tahun 2012. Tak sekadar perlakuan tidak menyenangkan di penjara, akibat masa penahanannya, Reeyot didiagnosis menderita tumor payudara. Lagi-lagi, idealismenya untuk menegakkan kebebasan dalam mengungkapkan pendapat tak gentar hanya dengan tekanan penjara dan tumor payudara.