[Vemale's Review] Novel ''O'' Karya Eka Kurniawan

Fimela diperbarui 21 Nov 2016, 10:30 WIB

Judul: O
Penulis: Eka Kurniawan
Penyelia Naskah: Mirna Yulistianti
Desain Sampul & Ilustrasi: Eka Kurniawan
Proofreader: Angka & Sasa
Setting: Fitri Yuniar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Maret 2016

Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut.


Membaca judulnya saja, O, saya sungguh dibuat penasaran dengan isi ceritanya. Terlebih ketika membaca blurb novel yang cuma satu kalimat, jadi makin penasaran ini novel bercerita tentang apa sih? Dan ketika akhirnya saya membaca novel ini, membuka halaman demi halamannya, banyak sekali kepingan dalam novel ini yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

Adalah O, ia merupakan seekor monyet yang berwatak polos. Ia memiliki kekasih bernama Entang Kosasih dan sudah berencana akan menikah di bulan kesepuluh. Hanya saja, Entang Kosasih ini bukan monyet kebanyakan. Ia punya impian yang begitu tinggi. Apa itu? Tak lain dia ingin menjadi seorang manusia. Demi impiannya menjadi manusia, ia selalu mengamati setiap tingkah laku manusia. Meniru sebisa mungkin apa yang dilakukan manusia. Salah satunya adalah meniru cara membunuh menggunakan sebuah revolver.



Keinginan Entang Kosasih menjadi seorang manusia juga tak luput dari sebuah kisah Armo Gundul. Konon menurut cerita yang tersebar dari mulut ke mulut, Armo Gundul merupakan salah satu monyet yang telah terbukti bisa berubah menjadi manusia. Ada sebuah kisah yang sangat heroik dan sering diulang-ulang oleh warga Rawa Kalong tentang kesaktian seorang Armo Gundul.

“Hidup adalah perkara makan atau dimakan… kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan.”  (halaman 59)


O kemudian meyakini kalau Entang Kosasih berhasil menjadi manusia. Tepatnya menjadi seorang penyanyi dangdut terkenal dengan julukan Kaisar Dangdut. Ketika dirinya menjadi artis topeng monyet di bawah majikan bernama Betalumur, O tak henti-hentinya selalu berharap bisa bertemu dengan sang Kaisar Dangdut. Apakah O berhasil bertemu kembali dengan sang kekasih hatinya? Apakah rencana mereka untuk menikah bisa terwujud?

Novel ini tak hanya menceritakan soal O dan Entang Kosasih.  Selain O dan Entang Kosasih, ada sejumlah tokoh dan karakter lain yang kisahnya sangat menarik untuk diikuti. Beberapa di antaranya ada si revolver, Tomi Bagong, Kirik, Sobar dan Joni Simbolon si polisi, Betalumur, Ma Kungkung dan Mat Angin, Jarwo Edan, Rudi Gudel, si burung kakaktua, Mimi Jamilah, dan Rini Juwita. Banyaknya karakter di novel ini sepintas membuat kita pusing. Tapi ketika mengikuti masing-masing kisah mereka, kita jadi dibuat makin penasaran dengan benang merah kisah mereka.

"Dunia monyet dan dunia manusia sudah pasti berbeda. Jauh berbeda. Bahkan burung dengan otak sebesar kacang sepertiku mengerti hal itu. Menyeberang dari dunia monyet ke dunia manusia merupakan sesuatu yang besar. Masuk ke sana, dan kau tak mungkin kembali. Tak ada manusia yang kembali menjadi monyet. Yang ada, mereka tetap berpikir seperti monyet."
(halaman 101)


Rangkaian cerita di novel ini seperti sebuah bingkai yang memotret kehidupan sosial. Ada adegan-adegan yang begitu brutal, bikin begidik, ngeri, tapi juga ada yang begitu mengharukan. Alurnya yang maju mundur jadi tantangan tersendiri untuk menyatukan setiap puzzle ceritanya.

Menarik sekali mengikuti cerita seorang burung kakaktua yang selalu mengingatkan manusia untuk mendirikan shalat. Padahal ia sendiri sebenarnya cuma meniru omongan yang pernah diajarkan oleh seorang pemuka agama. Ada ular sanca yang berniat untuk menelan seorang bocah. Tapi kemudian ada naluri keibuan yang muncul dari dirinya.

Juga kisah para manusia yang membuat kita kembali bertanya-tanya, benarkah selama ini manusia telah menjadi manusia yang sesungguhnya? Atau malah manusia saat ini justru lebih sering menampilkan "sisi binatangnya"?

Menjadi batu sering kali satu-satunya yang bisa dilakukan manusia. Lihatlah bongkah-bongkah batu, yang sebesar rumah maupun sekecil kerikil. Mereka mungkin terlihat, tapi pada saat yang sama terabaikan. Mereka tampak kukuh, tapi pada saat yang sama diam. Batu tampak seperti gumpalan dunia di mana kehidupan berhenti di dalam dirinya sendiri, sementara dunia di luar dirinya bergerak dengan cepat.
(halaman 371)


Hakikat kita sebagai manusia benar-benar dipertanyakan. Ada manusia yang tak segan untuk menghancurkan dan menyiksa yang lain demi dendam dan kepuasan batin. Ada juga yang lebih memilih hidup dalam kemiskinan, alih-alih melakukan sesuatu yang baru dengan mengambil peluang yang ditawarkan. Manusia baik dan manusia jahat semua melebur jadi satu. Baik dan buruk, benar dan salah, kita diajak untuk mengambil kesimpulannya sendiri.



Carut marutnya kehidupan pun terpotret dengan apa adanya di novel ini. Makan atau dimakan. Berjuang untuk tetap hidup atau memilih mati. Melanjutkan hidup atau memilih berhenti dan pasrah saja. Membalaskan dendam atau mencoba untuk berdamai dengan semua gejolak emosi yang dirasa.

“Kau tahu kenapa ayahmu almarhum memberimu nama yang lucu itu? Nama yang pendek? Hanya satu huruf?” tanya ibunya. Si gadis menggeleng. “Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O.”
(halaman 418)


Buat kamu yang ingin mendapatkan pengalaman membaca yang bisa membuatmu tertawa sekaligus tersentuh hingga tersindir, novel O ini bakal cocok sekali buatmu. Menurut saya, meskipun plotnya lompat-lompat dan banyak karakter yang terlibat di dalamnya, novel ini tetap sangat mudah diikuti. Pesan-pesan yang tersirat dan tersurat pun tak bikin kening berkerut.

Terima kasih Eka Kurniawan sudah membuat karya yang begitu berkesan ini :)



(vem/nda)
What's On Fimela