Menyimpan Dendam dan Benci Tak Akan Membuat Hidup Ini Lebih Baik

Fimela diperbarui 12 Mei 2018, 11:30 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Sudah banyak puji-pujian yang di lantunkan di musala dekat rumahku. Sebentar lagi bulan Ramadan akan datang. Aroma-aroma kedamaian bahkan sudah terasa jauh-jauh hari. Aku jadi teringat tentang sesuatu di masa lalu. Ah, harus dari mana aku mulai bercerita.

Saat itu usiaku baru sembilan tahun. Dengan alasan ingin memiliki seorang anak laki-laki, bapak memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita penggoda. Tidak peduli seberapa keras ibuku memohon agar wanita itu melepaskan bapak, wanita itu tetap mempertahankan hubungan terlarangnya dengan bapak.

Ibu kemudian bekerja menjadi TKI di luar negeri dengan membawa luka hatinya. Ia bertindak seolah-olah dia adalah yang paling menderita di sini. Padahal, masih ada aku. Tidak bisakah mereka menjadikanku sebagai alasan untuk bertahan satu sama lain? Setidaknya sampai aku mengerti mengapa keluarga kecilku yang di hari kemarin masih dipenuhi kebahagiaan berubah menyedihkan seperti itu.

Ibu menitipkan aku, kakak, dan juga adikku pada kakek dan nenek. Meninggalkan kami yang tidak tahu apa-apa dalam lorong kesengsaraan. Mereka meninggalkan kami dengan sejuta kenangan yang menyakitkan bila diingat.

Detik itu juga aku membenci mereka

Mereka tidak pernah tahu betapa beratnya aku melewati hari-hari tanpa mereka. Sendirian dan selalu merasa kesepian. Aku merasa Tuhan tidak adil pada hidupku. Mengapa banyak anak yang bahagia sementara aku tidak? Mereka membuat hidupku penuh dengan dendam dan ambisi. Ambisi untuk membuktikan pada bapak bahwa meskipun aku anak perempuan, aku akan lebih hebat dari anak lelakinya Juga membuktikan pada ibu bahwa tanpanya aku juga bisa hidup dan bertahan.

Tidak peduli meskipun bapak tidak pernah lupa hari ulangtahunku, dan ibu kembali ke pelukan kami empat tahun kemudian. Sehangat apapun pelukan dan candaan yang ia lontarkan, hatiku tetap membeku. Aku tetap hidup dengan kebencian yang mengakar sampai bertahun-tahun kemudian. Di usiaku yang ke dua puluh tahun, ada suatu kejadian yang menjadi titik balik kehidupanku.

Kakek meninggal dunia

Ada sebagian dari diriku yang hilang saat itu. Aku menjadi linglung karena merasa tidak lengkap. Kakek yang selama ini merawatku telah pergi untuk selamanya. Ini lebih berat daripada saat aku kehilangan bapakku. Aku pikir ada yang salah di sini, sampai aku menyadari sesuatu yang membuatku menangis sepanjang malam.

Aku tidak pernah sendirian

Ada kakek yang menggantikan tugas-tugas ayahku. Dia mengantarku ke sekolah, menungguku saat pulang les, menghadiri rapat di sekolahku, memberiku nasihat, menegurku saat aku nakal, mengkhawatirkanku saat terlambat pulang sekolah dan tidak memberinya kabar, dia juga yang memperbaiki barang-barangku yang rusak. Dia melakukan banyak hal untukku.

Lalu ada nenek yang selalu memasak untukku, menguncir rambutku, menemaniku belajar, mengingatkanku untuk salat, menghiburku saat aku bersedih, dan mengajariku membuat kue. Dia benar-benar menjalani peran lebih baik dari ibuku sendiri.

Aku hanya menyimpan dendam terlalu dalam, hingga tidak menyadari bahwa aku sebenarnya tidak pernah kehilangan apapun. Kakek dan nenek adalah pengganti orangtua yang paling sempurna untukku. Mereka merawatku dengan tulus. Aku sangat menyesal baru menyadarinya sekarang. Aku bahkan tidak sempat memberinya penghargaan untuk pengorbanannya selama ini.

Dan Ramadan tahun ini aku harus melaluinya tanpa kakek. Tidak akan lagi sosok pria tua yang akan mengubah warna cat rumah kami seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya, dan juga tidak akan lagi orang yang merengek karena kue nastar kesukaannya dihabiskan olehku. Ah, aku benar-benar merindukanmu, kek.

Terima kasih ya Allah sudah mau membukakan pintu hatiku yang sangat sempit ini. Kini sudah tidak ada lagi dendam maupun kebencian di hatiku. Meskipun aku tidak bisa mengembalikan keluargaku seperti dulu lagi, aku harap dengan memaafkan mereka, aku bisa hidup dengan lebih baik lagi. Aku berharap mereka akan mengerti mengapa aku bersikap dingin selama ini.

Terima kasih juga untuk kakek dan nenek yang telah menjagaku saat kedua orangtuaku sibuk dengan egonya masing-masing. Terimakasih karena telah mendidikku dengan benar selama ini. Aku menyayangi kalian!

Lebaran kali ini mungkin akan terasa kosong tanpa kehadiran kakek, namun aku tetap bersyukur, setidaknya hatiku tidak lagi sedingin salju. Aku akan mulai memaafkan orang-orang yang pernah menyakitiku dan juga akan meminta maaf jika selama kebekuan hatiku aku pernah menyakiti seseorang.

Pada akhirnya, aku menyadari satu hal, menyimpan dendam dan benci hanya akan menambah bebanmu. Mereka menyibukkan dirimu dengan ambisi yang tidak beralasan sehingga kamu tidak menyadari ada kebaikan-kebaikan lain yang Tuhan beri untuk hidupmu. Dan itu akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Jadi, belajarlah memaafkan meskipun itu sulit.

 

(vem/nda)