Sejarah dan Filosofi Ayam Ingkung, Lauk Utama Tumpeng dalam Adat Jawa

Febi Anindya Kirana diperbarui 05 Agu 2021, 16:39 WIB

Fimela.com, Jakarta Ada banyak kuliner nusantara yang kental dengan budaya dan filosofi, salah staunya adalah ayam ingkung. Ayam ingkung biasanya disajikan dalam nampah besar sebagai sajian berbagai acara adat dan perayaan di Jawa seperti upacara keagamaan, peringatan hari besar, wujud rasa syukur (selametan), dan upacara peringatan kematian.

Meski banyak orang sudah tahu tentang ayam ingkung yang menjadi ciri khas makanan orang Jawa dan disajikan bersama tumpeng, namun belum banyak yang tahu bagaimana sejarah ayam ingkung hingga bisa menjadi salah satu kuliner warisan yang memiliki makna penting dalam adat Jawa.

Jika ditelaah secara umum, ayam merupakan binatang paling dekat dengan masyarakat sejak zaman dulu dan punya banyak manfaat. Ayam adalah hewan yang mudah dipelihara, sumber pendapatan, sekaligus bisa dimanfaatkan menjadi makanan. Tidak heran jika sejak dulu masyarakat memiliki "pranjen" atau kandang ayam yang terpisah di pekarangan rumah, seperti dilansir dari Budaya Jawa.id.

Dikutip dari blog Rifaarroyan, dalam satu kajian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition and Food Science bahwa ayam ingkung berasal dari kata “manengkung” yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Ayam ingkung menjadi komponen pokok dalam tumpeng.

Bersamaan dengan tumpeng, ayam ingkung diprediksi sudah ada sejak kerajaan Jawa dipengaruhi oleh agama Hindu (Taylor, 2003 dalam Jati, 2014). Menurut Dewi (2011) istilah ayam ingkung disebutkan pada karya sastra lama, Serat Centhini II, yang menyebutkan mengenai iwak pitik (lauk ayam).

Ayam ingkung memiliki filosofi yang tak bisa diabaikan dalam budaya Jawa. Ayam adalah lambang dari rasa syukur dan kenikmatan yang didapat di dunia karena kuasa Tuhan. Hanya ayam yang baik dan lezat saja yang menjadi persembahan, itulah mengapa ayam ingkung disajikan dalam bentuk utuh dan ditata dengan indah.

Dilansir dari Nutrisipangan Wordpress, menurut Sheiliya dalam Jurnal Pergeseran Nilai-nilai Religius Kenduri dalam Tradisi Jawa oleh Masyarakat Perkotaan, ayam adalah bentuk doa baik bagi manusia agar bisa meniru perilaku ayam. Ayam tidak melahap semua makanan yang diberi padanya, melainkan hanya memilih memakan mana yang baik dan tidak makan yang buruk. Manusia diharapkan bisa memilih mana yang baik dan nama yang buruk dan harus ditinggalkan dalam hidupnya.

Ayam ingkung juga dibuat hanya menggunakan ayam kampung, salah satu alasannya adalah untuk menjaga orisinalitas. Lagipula, pembuatan ayam ingkung dari ayam potong tidak bisa senikmat dan sebaik jika menggunakan ayam kampung.

Jadi ternyata seperti itu sejarah dan asal mula adanya ayam ingkung yang selalu disajikan dengan ayam utuh dalam setiap nasi tumpeng di berbagai perayaan. Semoga ini bisa menambah wawasan para sahabat Fimela ya.

What's On Fimela