4 Pemicu Stres Terbesar pada Perempuan Bekerja

Endah Wijayanti diperbarui 20 Jan 2020, 09:15 WIB

ringkasan

  • Beratnya Peran di Luar Pekerjaan
  • Kesenjangan Penghasilan
  • Diskriminasi dan Pelecehan

Fimela.com, Jakarta Seorang perempuan bekerja karena berbagai alasan. Mulai dari mencari penghasilan, memenuhi berbagai kebutuhan, hingga aktualisasi diri. Bagaimana pun seorang perempuan punya hak dan kemampuan untuk bekerja. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tantangan menjadi perempuan yang bekerja juga cukup besar.

Baik yang bekerja sebagai karyawan maupun yang bekerja sebagai pekerja lepas, banyak faktor yang bisa membuat kita sulit terhindar dari stres. Di sejumlah situasi dan kondisi, pemicu stres terbesar pada perempuan bekerja bisa karena beberapa hal umum berikut ini. Coba kita cari tahu pemicunya untuk memudahkan kita mencari solusi dan mencari jalan keluarnya.

1. Beratnya Peran di Luar Pekerjaan

Melansir womensnetwork.com.au, masih banyak perempuan yang dituntut untuk bertanggung jawab penuh pada urusan domestik dan keluarga. Bagi yang sudah menikah, butuh kompromi dan komunikasi yang lebih baik dengan suami untuk bisa saling berbagi peran dalam berbagai urusan. Beratnya peran dan tanggung jawab yang masih timpang di luar urusan pekerjaan bisa menjadi pemicu stres terbesar pada perempuan.

2. Kesenjangan Penghasilan

Tak bisa dipungkiri bahwa di sejumlah korporasi atau perusahaan, masih ada yang namanya kesenjangan penghasilan antara pekerja perempuan dan pria. Sulitnya mencari keadilan untuk mendapat penghasilan yang layak bisa membuat seorang perempuan tertekan dan kesulitan untuk fokus dalam bekerja. Bahkan untuk bisa memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya juga tak mudah.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

3. Omongan Orang

ilustrasi./copyright By weedezign (Shutterstock)

Hm, iya sih memang kita tak perlu terlalu memusingkan omongan atau nyinyiran orang lain. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kadang omongan orang tetaplah menyakitkan. Bagi yang masih single di usia yang katanya sudah matang menikah, dianggap karena terlalu gila kerja sehingga tak punya waktu untuk cari jodoh. Bagi yang sudah punya anak, dianggap terlalu menomorsatukan pekerjaan sehingga membiarkan anak tak terawat. Ada saja cara orang-orang di luar sana mencari celah untuk menggosipkan kita.

4. Diskriminasi dan Pelecehan

Kita semua ingin bekerja dengan nyaman. Tak ada yang ingin jadi korban pelecehan atau diskriminasi di tempat kerja. Kita tak pernah mau jadi sasaran pelecehan dalam bentuk apa pun. Menghadapi tindak diskriminasi atau pelecehan tak pernah mudah. Bahkan untuk memulihkan diri dari situasi yang tak nyaman itu juga butuh perjuangan. Bekerja pun jadi kurang optimal.

Setiap pekerjaan yang kita pilih dan jalani selalu memberi tantangan tersendiri. Walau ada kondisi stres yang sulit untuk dihindari, masih ada celah yang bisa kita temukan untuk bekerja dengan baik dan produktif. Semoga kita bisa bekerja dengan nyaman di mana pun berada, ya.

#GrowFearless with FIMELA