Perempuan Harus Punya Empati Agar Tidak Jadi Pelakor dalam Pernikahan Orang Lain

Vinsensia Dianawanti diperbarui 28 Mei 2020, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Rasanya tidak ada perempuan yang ingin pernikahannya dirusak oleh orang lain. Kehadiran perempuan lain sebagai pihak ketiga tentu akan menimbulkan bencana dalam sebuah pernikahan.

Istilah pelakor kini semakin banyak digunakan untuk perempuan yang menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga orang lain. Padahal, perselingkuhan dalam rumah tangga tidak terjadi hanya karena satu orang.

Untuk itu, Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog menuturkan seorang perempuan harus memiliki rasa empati yang tinggi agar tidak menjadi orang ketiga atau pelakor dalam pernikahan orang lain.

"Berempati, bayangkan jika kita yang berada di posisi tersebut, bagaimana rasanya? Tentunya tidak menyenangkan bukan? Memang perasaan tidak bisa dikontrol, bisa jadi ada kondisi tertentu yang membuat seseorang menyukai pasangan orang lain. Tetapi, bukan berarti jadinya harus meneruskan perasaan tersebut sehingga menghancurkan kebahagiaan orang lain," ungkap Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Harus mengontrol diri sendiri

Ilustrasi Perselingkuhan Credit: pexels.com/pixabay

Sebagai perempuan, kamu harus mampu mengontrol diri sendiri dengan membuat batasan terhadap orang lain. Ketika orang lain berusaha menerobos batas yang kamu buat, kamu pun harus menunjukkan sikap tegas bahwa kamu tidak mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain.

Selain itu, kamu bisa menyibukkan diri sendiri berbagai kegiatan positif. Temui banyak orang agar kamu menyadari bahwa masih banyak alternatif pilihan selain menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain.

3 dari 3 halaman

Simak video berikut ini

#changemaker