BERANI BERUBAH: Jasinda Iriani Pakai Konsep Jualan Sales untuk Perkenalkan Masakan Mama

Annissa Wulan diperbarui 20 Okt 2020, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Jualan menjadi salah satu metode bertahan di saat-saat seperti ini. Bekerja dari rumah berarti memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal baru.

Yang membuat orang mengasah kreativitas mereka untuk dapat bertahan di tengah situasi yang serba tak pasti sekarang ini. Salah satunya Jasinda Iriani.

Dengan brand 'Jajanan Netijen' yang dibuat dan dibesarkannya setelah pandemi, Jasinda yang berprofesi sebagai sales di salah satu perusahaan media massa di Jakarta, menggunakan konsep jualan yang sama dengan yang dikerjakannya sehari-hari. Jajanan Netijen awal mula dibuat untuk jualan snack, namun sembari riset dan menjajal jualan masakan sang mama, responsnya sangat baik.

"Tadinya aku dan kakak perempuanku idenya mau jualan snack, cari agen, biar bisa dapat harga lebih murah daripada yang dijual di mall. Sambil cari, jualan masakan mama, coba-coba, ternyata banyak yang suka," cerita Jasinda.

Berawal dari Nasi Perang yang dibuat mirip dengan Nasi Kucing, Jasinda menawarkannya dari orang ke orang melalui sistem komunikasi jalur pribadi. Sekarang, Jajanan Netijen telah memiliki lebih dari 30 menu jualan dengan range harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000-an yang bisa kamu lihat di akun Instagram @jajanan_netijen.

 

What's On Fimela
Salah satu menu Jajanan Netijen. Sumber foto: Document/Jasinda Iriani.
2 dari 3 halaman

Jasinda tidak pernah berencana jualan makanan

Jasinda dan sang mama. Sumber foto: Document/Jasinda Iriani.

Saat ini, Jajanan Netijen dikerjakan oleh 4 orang, yaitu Jasinda, sang mama, kakak perempuan, dan kakak ipar perempuannya. Karena selain sang mama, semua masih bekerja kantoran, maka Jajanan Netijen masih dijual dengan sistem PO setiap akhir pekan.

Bagi Jasinda yang sedari awal tidak pernah terpikirkan untuk jualan makanan secara online, Jajanan Netijen adalah tempatnya untuk belajar. Learning by doing.

"Dari awal, jujur, aku nggak pernah ada bayangan akan jualan makanan, sebenarnya pengennya jadi makeup artist, kalau sudah nggak kerja kantoran."

Membuat dan membesarkan Jajanan Netijen bukan tanpa tantangan, namun Jasinda menerapkan konsep jualan seperti pekerjaannya saat menjadi sales. Ia pun menceritakan bagaimana awal mula dirinya bekerja menjadi sales.

"Pertama kali jadi Sales, aku disuruh presentasi, badan udah gemetar, tapi dari situ aku belajar. Untuk menjual sesuatu, kamu harus yakin dan percaya bahwa apa yang kamu jual itu bagus, menguasai produk itu. Ketika kamu yakin, orang lain akan yakin, dan membeli produk itu, mereka akan mencoba."

Salah satu menu Jajanan Netijen. Sumber foto: Document/Jasinda Iriani.
3 dari 3 halaman

Untuk bisa jualan, harus punya hati baja

Sang mama. Sumber foto: Document/Jasinda Iriani.

Tidak berhenti di situ, bagi Jasinda, penting untuk memastikan produk yang dijual diterima dengan baik oleh si pembeli. Jualan tidak hanya sebatas kamu membuat orang lain membeli produkmu saja.

"Setelah orang lain beli, kita harus kasih servis yang baik. Di sini penataan bahasa juga penting."

Sama halnya ketika Jasinda menjadi sales, ia punya pengalaman baru dan bertemu orang-orang baru setiap hari, berjualan makanan juga membuat Jasinda bertemu beragam pembeli dan komentar. Inilah mengapa menurutnya, kunci berjualan adalah tidak mudah berkecil hati.

"Aku kalau ditolak, nggak langsung down. Mungkin dia lagi nggak butuh atau mungkin dia lagi nggak pengin. Lain kali, coba tawarin lagi."

Memulai sesuatu mengharuskan kamu menghadapi dan menjalani proses. Bagi Jasinda, membesarkan bisnis, apapun itu, memang tidak mudah.

"Kuncinya, berwajah dan berhati baja. Kalau motoku adalah tidak tahu diri dan berlagak gila. Kamu nggak akan bisa jualan, kalau kamu nggak bisa terima masukan dari orang lain, kalau kamu adalah pribadi yang malu-malu, atau nggak enakan," tutup Jasinda di akhir wawancara dengan Tim FIMELA.

Salah satu menu Jajanan Netijen. Sumber foto: Document/Jasinda Iriani.

#ChangeMaker