Diary Fimela: Dari Desain Mesin Beralih Menjadi Desain Pakaian, Kisah Berani Berubah Founder Brand Fashion Lokal NONA

Anisha Saktian Putri diperbarui 05 Mar 2021, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Jalan hidup seseorang kedepannya memang tidak ada yang tahu, mulai dari bertahan di bidang yang menjadi zona nyaman atau berani berubah menjadi lebih sukses dan meraih cita-cita sesuai passion.

Perempuan bernama Andani Agni Putri pun memilih untuk berani berubah, kini ia merupakan pemiliki brand fashion lokal, NONA. Namun, sebelum terjun di dunia fashion di tahun 2017 silam, Andani berprofesi sebagai engineer perminyakan.

Rasa jenuh pun menjadi salah satu alasan mengapa ia harus melepas pekerjaan sebagai enggineer. Namun tak hanya itu, Andani pun bercerita kepada Fimela jika alasan merubah profesinya dikarenakan ketertarikannya di bidang desain dan bisnis, serta sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.

"kuliah S1 dan S2 engineer, lulus kuliah langsung kerja di bidang minyak dan gas. Jadi kalo dihitung sudah delapan tahun di bidang tersebut. Tapi dari dulu tertariknya di bidang desain. Waktu sekolah juga masih ngedesain tapi ke-permesinan, jadi apapun tentang desain saya suka," ujar Andani kepada Fimela.com.

Jalan menjadi pemiliki brand fashion pun tak semudah membalikan telapak tangan, sebab memilih untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah ada dan meraih passion yang diinginkan tentu harus ada yang dikorban dan diperjuangan. Begitupun, Andani yang awalnya ditentang keluarganya ketika memilih melepas titlenya sebagai seorang engineer.

"Saya sebenarnya suka yang stabil, makannya bertahan delapan tahun di bidang minyak dan gas. Tapi lama-lama ada titik jenuhnya juga. Karena suka desain dan fashion jadi udah kebayang bisnisnya akan seperti apa. Jadi saya support diri sendiri dan suami pun dukung. Walau awalnya keluarga menentang, karenakan harus melepas karir yang udah bagus, gaji lumayan, udah kemana-mana dari pekerjaan ini tapi tiba-tiba mau ke fashion," ungkapnya.

Founder NONA, Andani Agni Putri (tengah) /dok. Andani Agni Putri
2 dari 3 halaman

Terbentuknya brand fashion NONA

Koleksi terbaru NONA 2021/dok. NONA

Walau keluarga menentang, Andani pun terus maju dengan mulai mengikuti sekolah fashion di Jakarta, pada tahun 2016 selama enam bulan. Setelah menyelesaikan dan mendapat ilmu dari sekolah fashionnya tersebut, ia realisasikan menjadi bisnis pakaian di tahun 2017 yang kini diberi nama NONA.

Jika biasanya orang terdekat menjadi orang pertama yang menjadi konsumen, lain halnya dengan pemikiran Andani. Ia justru ingin mengetahui pasar atau orang lain terhadap koleks-koleksi NONA dengan mengikuti bazaar offline.

"Selesai sekolah fashion, direalisasikanlah di tahun 2017 bikin sample untuk NONA. Produknya sudah ada nih, ada kesempatan ikut bazaar jadi nekat satu koleksi mulai dijual, langsung ngeliat reaksi pasar gimana sama koleksi pertama NONA. Kalau sama yang kita kenal kan ada ikatan emosi yang mau ngga mau pasti beli," ungkapnya.

Koleksi-koleksi NONA, Andani mengatakan terinsiprasi dari panasnya kota Jakarta dan membutuhkan pakaian yang nyaman. Dan ditahun 2017 saat itu belum banyak brand fashion membuat pakaian loose wear.

"Dulu tuh masih sulit menemukan loose wear, kalo pun ada malah ngga sesuai jadi malah pas di badan, bahannya tidak nyaman, apalagi waktu itu saya baru berhijab yang butuh pakaian tertutup tapi tetap nyaman dan stylish. Dari situlah kepikiran signature NONA yaitu loose wear," paparnya.

Awalnya, Andani pun melakukan semua sendiri mulai dari pola pakaian, cutting, sampling, mencari penjahit, hingga foto produk. Dengan modal Rp3,5 juta, Andani pun menciptakan 50 potong pakaian seperti dress dan tunik.

"Dulu tuh semua sendiri sampai nyari penjahit ke Sukabumi karena jahitannya rapi. Modalnya hanya 3,5 juta untuk beli bahan dan bayar penjahit, jadilah 50 pcs pakaian dan bersyukur langsung terjual habis," ujarnya.

 

Koleksi terbaru NONA 2021/dok. NONA
3 dari 3 halaman

Jatuh bangun membangun NONA

Koleksi NONA/dok. NONA

Memasuki dunia fashion, Andani menyadari jika harus bekerja cepat, cepat beradaptasi dengan market hingga menyiapkan berbagi planning strategi bisnis.

Di akhir 2017 dan awal 2018 perkembangan bisnisnya cukup slow karena hanya mengandalkan bazzar offline. Namun ditahun 2019 mulai memasarkan melalui marketplace dan Instagram. Di akhir 2019 mencari investor dan berpatner dengan Hypefast. Dari situ, penjualan pun meningkat.

Jika dilihat, koleksi pakaian NONA loose wear bergaya vintage. Andani mengatakan desain vintage digunakan agar pakaiannya timeless bisa digunakan dari perempuan usai 20 tahunan hingga 60 tahunan. Terdiri dari koleksi outer, atasan, dress, skirt, hingga yang terbaru sport wear.

Menariknya, NONA tidak mengikuti tren yang sudah ada, melainkan menciptakan trennya sendiri hingga menjadi koleksi yang eksklusif. 

"Seperti pandemi ini sleepwear sangat populer, tapi NONA justru meluncurkan pakaian dengan bahan silk satin yang tetap nyaman digunakan di rumah. Dengan warna-warna yang berani seperti gold dan merah. Brand lain mengeluarkan floral, kita ngeluarin desain animal," tuturnya,

NONA loose wear pun memiliki misi untuk mengajak para perempuan Indonesia mencintai diri mereka sendiri.

#elevate women