Jangan Menikah Kalau Tujuannya Cuma untuk Pelarian dari Masalah Hidup, Ini 5 Alasannya

Endah Wijayanti diperbarui 26 Apr 2021, 14:33 WIB

Fimela.com, Jakarta "Capek kerja, maunya nikah aja!" "Sudah bosan kuliah lama-lama, inginnya berumah tangga saja!" "Lelah dengan berbagai macam tekanan, mending nikah saja biar tenang!" Di benak atau pikiran kita mungkin pernah terlintas akan hal itu, khususnya bagi perempuan lajang yang berusia 20an atau awal 30an. Masih ada yang beranggapan bahwa menikah adalah jalan keluar terbaik dari semua masalah. Menikah menjadi semacam pelarian paling aman dari semua prahara kehidupan. Hm, tapi haruskah buru-buru menikah supaya bisa mengatasi semua masalah yang ada?

Pernikahan adalah sebuah perjalanan. Tak ada jaminan seseorang yang sudah menikah akan terbebas dari masalah hidup. Justru besar kemungkinan akan muncul tantangan dan masalah baru yang harus dihadapi dan diatasi sendiri. Rasanya tidak bijak jika menikah dijadikan semacam pelarian dari masalah hidup.

1. Setelah Menikah, Ada Banyak Prioritas Baru yang Perlu Ditangani

Seorang sahabat menceritakan sebuah persoalan yang cukup lama ia pendam sendiri. Suaminya dirumahkan untuk sementara waktu sehingga tak ada pemasukan atau penghasilan rutin lagi seperti sebelumnya. Memang masih ada tabungan, tapi lama kelamaan tabungan juga akan habis jika suami tidak kembali bekerja. Sebagai seorang ibu, dia pun mencemaskan masa depan dua putrinya yang masih kecil. Apa yang akan terjadi pada anak-anaknya jika suaminya tak kunjung kembali bekerja? Bagaimana cara membiayai pendidikan kedua putrinya kalau tak ada lagi penghasilan bulanan rutin?

Setelah menikah, ada prioritas baru yang butuh perhatian. Apalagi kalau sudah memiliki anak, maka ada tanggung jawab besar yang harus diterima. Kehidupan setelah menikah pastinya akan berbeda. Ada banyak prioritas baru yang perlu ditangani. Persoalan-persoalan baru pun datang silih berganti. Sehingga kalau ada yang bilang menikah adalah satu-satunya jalan keluar dari segala persoalan hidup, rasanya itu bukan hal yang benar. 

2 dari 5 halaman

2. Pernikahan adalah Perjalanan Panjang

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/AIFAT+LI

Persiapan batin, fisik, hingga finansial perlu dioptimalkan sebelum memutuskan untuk menikah. Perjalanan pernikahan akan menjadi perjalanan panjang jadi butuh bekal yang cukup untuk bisa bertahan selama perjalanan itu. Kadang sangat berliku. Bahkan menghadapi berbagai perbedaan dengan pasangan pun bisa memicu konflik atau masalah baru jika tak dihadapi dengan kepala dingin. Menikah bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah perjalanan. Jadi, ada baiknya untuk tidak ceroboh dalam memutuskan untuk menikah.

3 dari 5 halaman

3. Menikah Butuh Komitmen Kuat

ilustrasi./copyright by bedya (Shutterstock)

Untuk membangun cinta yang kokoh, perlu adanya komitmen. Carol Ryff yang menyusun psychological well-being mengatakan bahwa salah satu kunci kebahagiaan adalah yang memiliki purpose in life (tujuan hidup). Dalam sebuah hubungan, diperlukan komitmen untuk menjaga keutuhannya. Mengutip buku Seksologi Pernikahan Islami, komitmen adalah kesepakatan untuk tetap bersama mencapai tujuan tertentu. Untuk seia sekata membangun visi dan misi yang telah ditetapkan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa semakin mulia tujuan sebuah hubungan dibangun, maka semakin langgeng perjalanannya. Jika nilai tujuan yang dimiliki masih dangkal, maka rasa setia bisa lebih cepat memudar. Bisa dibayangkan jika tujuanmu menikah hanya untuk pelarian, maka hidupmu bisa makin kacau saat muncul masalah-masalah baru yang harus dihadapi.

4 dari 5 halaman

4. Tuntutan dan Tekanan Baru akan Datang Bergantian

Ilustrasi./(pixabay.com)

Tuntutan dan tekanan hidup tak akan berhenti begitu saja setelah menikah. Mungkin jika sudah menikah, tidak ada lagi yang bertanya, "Kapan menikah?" Namun, pertanyaan "kapan" yang lain pun akan menyusul. Seperti kapan punya anak, kapan punya rumah, kapan beli mobil, kapan nambah anak, dan segudang "kapan" yang lain. Masalah hidup tidak serta merta selesai dengan menikah. Sebab perjalanan hidup masih panjang untuk dilalui. Namanya hidup, masalah akan datang silih berganti, siap atau tidak siap kita menghadapinya.

5 dari 5 halaman

5. Setelah Menikah, Ada Peran-Peran Baru yang Perlu Dimainkan

ilustrasi./Photo by Emma Bauso from Pexels

Menikah bukan hanya menyatukan dua individu. Ada dua keluarga yang juga menyatu dalam pernikahan. Kita pun akan mendapat banyak peran baru. Bukan hanya sebagai seorang istri, tetapi juga seorang menantu, ipar, hingga menjadi ibu ketika sudah memiliki anak. Memiliki peran-peran baru, maka kita harus siap membagi waktu dan energi kita dengan sebaik mungkin. Kedewasaan kita akan sangat diuji dalam memainkan semua peran itu. Jadi, nggak ada jamina seratus persen bahwa setelah menikah, masalah hidup akan lenyap begitu saja. 

Pernikahan bisa memberi perjalanan yang sangat unik pada setiap pasangan. Tentu saja kita berharap pernikahan akan menghadirkan perubahan yang lebih baik dan positif dalam hidup. Hanya saja ada baiknya dalam membuat keputusan atau pilihan untuk menikah, kita melakukannya dengan sadar. Jangan sampai menganggap pernikahan adalah sebuah pelarian, sebab dalam perjalanannya bisa lebih berliku dari yang pernah kita kira. 

#ElevateWomen