Pengalaman Paling Berkesan Tinggal di Salatiga, Kota Paling Toleran se-Indonesia

Endah Wijayanti diperbarui 19 Agu 2021, 12:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya cerita atau pengalaman tentang rasa rindu kepada kampung halaman, berbagai macam makanan khas daerahmu yang menggugah selera, hingga objek wisata yang bagai surga dunia? Atau punya cara tersendiri dalam memaknai cinta Indonesia? Pada bulan Agustus kali ini, kamu bisa membagikan semuanya dalam Lomba Share Your Stories bulan Agustus dengan tema Cinta Indonesia seperti tulisan yang dikirim oleh Sahabat Fimela ini.

***

Oleh: Anna Marie Happy

Apa hal paling berkesan dalam hidup saya? Jalan-jalan ke luar negeri? Iya. Makan enak iya. Tapi ada hal yang sangat berkesan yaitu pernah tinggal di kota paling toleran se-Indonesia.

Sebuah cita-cita masa SMA membawa saya tinggal di kota itu. Saat SMA, saya suka banget nonton kontes bakat Indonesian Idol. Bukan cuma aksi panggung kontestan dan drama eliminasi, saya juga mengikuti kehidupan mereka melalui tayangan infotainent dan majalah hiburan.

Ketika menonton infotainment saya kagum dengan kedekatan Delon kontestan asal Bangka berdarah Tionghoa dan Michael, kontestan asal Papua. Saya berharap suatu saat saya bisa berteman dengan teman-teman dari Indonesia Timur.

Harapan saya terkabul ketika kuliah di Salatiga. Walaupun Salatiga kota yang masih asing buat saya, saya memilih kuliah di kota itu. Saya mengambil jurusan komunikasi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Pilihan saya tidak salah. Di kota itulah saya memiliki teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia. Pertama kali, saya berkenalan dengan Nona Ambon, selanjutnya saya punya teman-teman dekat yang berasal dari Medan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan.

Saya yang berdarah Tionghoa dan berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah tidak merasa kesulitan bergaul dengan teman-teman dari luar Jawa. Saya justru menganggap itu sebagai anugerah bisa bergaul dengan berbagai suku bangsa. Saya bahkan pernah pacaran dengan kakak teman yang berasal dari NTT.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Bahagia Memiliki Banyak Teman

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ipunk%2Bkristianto

Dari teman-teman luar Jawa, banyak hal yang saya pelajari seperti budaya, bahasa, dan makanan. Awalnya ada beberapa bahasa mereka yang kurang bisa saya pahami, misalnya, teman-teman Indonesia Timur yang sering mengatakan “cukup tahulah” atau “lapan” untuk menyebut angka delapan. Berjalannya waktu saya mengerti maksud mereka

Budaya lainnya yang saya ketahui ketika kuliah di UKSW adalah budaya cium hidung yang biasa dilakukan teman-teman NTT, mirip dengan cipika cipiki. Awalnya saya tidak paham mengapa teman-teman NTT sering cium hidung ketika bertemu teman, ternyata itu adalah budaya.

Selain budaya dan bahasa, saya juga mulai mengenal makanan khas daerah. Awalnya terasa asing di lidah, tapi ternyata banyak juga yang enak. Teman-teman pun sering memberi oleh-oleh ketika pulang kampung.

Indonesia Mini, itulah julukan kota Salatiga. Beberapa kegiatan bertema kebudayaan dan keaagamaan sering digelar di kota itu. Seperti expo budaya yang menampilkan kesenian dan kuliner daerah juga kegiatan aksi damai yang diikuti berbagai organisasi budaya dan agama.

Saya juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Walaupun Namanya organisasi keagamaan, tapi anggota bukan cuma dari satu agama saja lho. Selain Katolik dan Kristen, ada juga teman-teman Muslim dan Budha, bahkan juga terlibat sebagai pengurus.

Sejak 2018, Salatiga masuk dalam 10 kota paling toleran di Indonesia bersama kota-kota lain. Tahun itu Salatiga masih berada di posisi kedua, namun tahun 2020 dan 2021 Salatiga berada di posisi pertama kota paling toleran se-Indonesia.

Terlepas dari kontroversimya, menurut saya, tidak salah predikat itu diberikan ke Salatiga. Saya melihat sendiri bagaimana warga asli Salatiga dan warga pendatang bisa berbaur. Dalam kegiatan keagamaan pun mahasiswa pendatang bisa ikut dalam kegiatan doa bersama di lingkungan kos.

Itulah hal yang saya syukuri selama hidup saya. Rasanya kangen ingin jalan-jalan ke Salatiga, tapi kondisi belum memungkinkan. Kuliah tatap muka belum aktif dan banyak mahasiswa yang kembali ke kampung halaman. Semoga pandemi segera usai sehingga warna Indonesia mini kembali terlihat di Salatiga.

#ElevateWomen