Kenali Efektivitas dan Efek Samping 3 Jenis Vaksin COVID-19 Dosis Tunggal

Fimela Reporter diperbarui 18 Okt 2021, 09:31 WIB

Fimela.com, Jakarta Melakukan vaksinasi merupakan langkah penting dan utama untuk mencegah penyebaran virus, khususnya di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Dalam hal ini, vaksin COVID-19 yang telah dikembangkan sudah menghasilan perlindungan dari berbagai penyakit karena sebagai hasil pengembangan respons imun terhadap virus SARS-CoV-2. 

Saat ini, vaksinasi sedang digencarkan di seluruh dunia demi menekan angka kasus COVID-19. Dalam hal ini, vaksinasi COVID-19 berfungsi sebagai pendorong herd immunity dalam suatu wilayah sehingga orang-orang tidak akan tertular atau menulari virus corona kepada orang lain.

Di Indonesia, sudah ada 10 jenis vaksin COVID-19 yang digunakan. 8 dari 10 vaksin ini merupakan jenis vaksin dosis ganda, dan dua lainnya merupakan vaksin dosis tunggal, yakni vaksin Janssen dan Convidecia. Selain kedua vaksin tersebut, terdapat pula vaksin dosis tunggal yang saat ini masih dikembangkan di Rusia. 

Lantas, bagaimana cara kerja dari ketiga vaksin COVID-19 dosis tunggal tersebut dan bagaimana tingkat efektivitasnya? Melansir laman Liputan6.com, Senin (18/10), berikut penjelasan selengkapnya. 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Efektivitas dan Efek Samping Vaksin Janssen

ilustrasi vaksin COVID-19/cottonbro/pexels

Vaksin dosis tunggal yang pertama adalah vaksin yang dikembangkan oleh Janssen Pharmaceuticals dari Johnson & Johnson, dengan sebutan vaksin Janssen. Vaksin ini disebutkan sebagai vaksin vektor virus karena vaksin jenis ini tidak mengandung virus SARS-CoV-2 dan tidak dapat menyebabkan COVID-19 setelah penyuntikan. 

Dalam hal ini, vaksin ini menggunakan virus berbeda yang tidak berbahaya untuk mengirimkan instruksi genetik untuk membuat protein lonjakan permukaan virus SARS-CoV-2 dan memicu respons imun tubuh untuk menghasilkan antibodi. 

Vaksin ini mulai berlaku di Indonesia dan telah mengantongi izin penggunaan darurat dari BPOM sejak 7 September 2021 lalu. Berdasarkan keterangan WHO, dosis tunggal vaksin Janssen ditemukan dalam uji klinis memiliki tingkat kemanjuran sebanyak 66,9% terhadap infeksi SARS-CoV-2 dengan gejala sedang dan berat. 

Dalam menangkal varian Delta, vaksin ini setidaknya memiliki kesempatan 71 kali untuk mencegah rawat inap dan 95% mencegah risiko kematian akibat varian Delta. 

Sama dengan vaksin lainnya, vaksin Janssen ini juga bisa menimbulkan sejumlah efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang berupa sakit kepala, demam, kelelahan, nyeri otot, mual, rasa sakit, iritasi, kemerahan, dan bengkak pada tempat suntikan. 

3 dari 4 halaman

Efektivitas dan Efek Samping Vaksin Convidecia

Ilustrasi vaksin COVID-19/copyrightshutterstock/sri widyowati

Yang kedua adalah vaksin Convidecia. Vaksin dosis tunggal ini dikembangkan oleh CanSino Biologics. Penggunaan vaksin Convidecia ini dianjurkan untuk orang yang berusia 18 tahun ke atas, dengan pemberian sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 mL secara intramuskular. 

Platform vaksin ini juga Non-Replicating Viral Vector, tetapi vektor yang digunakan adalah Adenovirus (Ad5). hal inilah yang membuat vaksin Convidecia menjadi mirip dengan vaksin vektor virus AstraZeneca’s AZD1222 dan Gamaleya’s Gam-COVID-Vac. 

Sama halnya dengan vaksin Janssen, izin penggunaan darurat untuk vaksin ini juga dikeluarkan pada hari yang sama, yakni pada 7 September 2021. Vaksin ini memiliki tingkat kemanjuran yakni 65,7% untuk mencegah kasus COVID-19 dan kemanjuran 90,98% untuk mencegah kasus yang parah. 

KIPI dari pemberian vaksin Convidecia menunjukkan reaksi ringan hingga sedang, KIPI lokal yang umum terjadi adalah nyeri, kemerahan, dan pembengkakan. Selain itu, KIPI sistemik yang umum terjadi adalah sakit kepala, rasa lelah, nyeri otot, mengantuk, mual, muntah, demam, dan diare. 

4 dari 4 halaman

Efektivitas dan Efek Samping Vaksin Sputnik Light

Ilustrasi Vaksin Covid-19 Credit: pexels.com/Polina

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, vaksin yang ketiga ini merupakan vaksin yang masih dikembangkan di Rusia. Vaksin Sputnik Light merupakan jenis vaksin dosis tunggal yang dikembangkan dari vaksin Sputnik V. 

Keunggulan utama yang dimiliki versi Light dibandingkan versi V standar adalah memungkinkan pengiriman vaksin sekali pakai dengan cepat ke suatu negara di tengah wabah COVID-19 yang akut. 

Saat ini, vaksin Sputnik Light belum masuk ke Indonesia, dan belum menerima izin untuk penggunaan darurat dari European Medicines Agency (EMA) ataupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Vaksin ini umumnya dianggap efektif jika perkiraannya 50% dengan batas >30% dari interval kepercayaan 95%. Namun, dalam penelitian di negara asalnya, Sputnik Light terbukti 79,4% efektif ketika pertama kali mengantongi izin penggunaan pada Mei 2021 lalu. 

Efek samping yang dilaporkan orang setelah menerima Sputnik Light sejauh ini mirip dengan efek samping vaksin COVID-19 lainnya, yakni nyeri ringan di tempat suntikan, demam, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot. 

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen