Data Baru Peringatkan Pandemi COVID-19 Bisa Sebabkan Diagnosa Kanker Terlewatkan

Annissa Wulan diperbarui 25 Des 2021, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Selama pandemi, penyedia layanan kesehatan telah memperingatkan efek riak dari lonjakan COVID-19. Saat kasus melonjak, rumah sakit yang dibanjiri pasien COVID-19 harus menunda prosedur pilihan yang menyelamatkan nyawa, termasuk operasi kanker dan penggantian katup jantung.

Penelitian baru yang serius juga memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan substansial dalam diagnosis kanker baru. Penurunan ini telah melampaui tahap awal pandemi, saat lockdown meluas.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cancer, menggunakan data nasional dari Administrasi Kesehatan Veteran dari tahun 2018 hingga 2020, menemukan bahwa prosedur skrining kanker menurun secara dramatis di tengah pandemi. Kolonoskopi turun 45% pada tahun 2020, biopsi prostat turun 29%, CT scan dada turun 10%, dan sitoskopi turun 21%.

Diagnosis kanker baru juga menurun sekitar 13% hingga 23%, tergantung pada jenis kankernya. Memang, mendeteksi kanker sejak dini, idealnya dilakukan sebelum seseorang memiliki gejala apapun, seperti dilansir dari huffpost.com.

 

2 dari 2 halaman

Pandemi COVID-19 sebabkan diagnosa kanker menjadi terlewatkan

Pandemi COVID-19 sebabkan diagnosa kanker menjadi terlewatkan.

Para peneliti telah menemukan, bahwa kolonoskopi bisa memangkas risiko kematian akibat kanker usus besar di antara pasien berisiko tinggi hingga lebih dari setengahnya. Setiap bulan keterlambatan seseorang mendapatkan pengobatan kanker bisa meningkatkan risiko kematian sebesar 10%.

Sebuah studi penelitian dari Brasil telah menunjukkan bahwa penurunan jangka pendek dalam perawatan kanker menyebabkan peningkatan kematian terkait kanker, dengan tingkat kematian pasien rawat inap dengan kanker meningkat sebesar 14% pada 2020, dibandingkan dengan 2019. Peningkatan serupa dalam kematian terkait kanker juga diperkirakan terjadi di Inggris, Koalisi Kanker Paru Inggris memperkirakan bahwa penundaan diagnosis kanker paru-paru bisa meningkatkan kematian dalam 5 tahun setelah diagnosis sekitar 5%.

Namun, ada solusi yang relatif mudah dan bisa membantu. Hampir setiap negara telah melonggarkan peraturan untuk mengizinkan penyedia layanan kesehatan menawarkan pengobatan jarak jauh kepada pasien yang tidak bisa datang ke rumah sakit.

Dokter bisa menggunakan teknologi untuk menjangkau pasien, agar tidak melewatkan pemeriksaan rutin. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women