Review Buku Novel Polaris Musim Dingin

Endah Wijayanti diperbarui 06 Jan 2024, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Tiket shinkansen beserta beberapa surat diterima oleh Akari. Meskipun dia memiliki banyak pertanyaan di benaknya, dia tetap memutuskan untuk pergi. Dia akan mendatangi tempat yang menjadi tujuan dari tiket yang diterimanya. Keputusan ini pun sempat diragukan juga oleh salah satu sahabatnya, tetapi Akari memutuskan untuk tetap pergi. Alasannya hanya satu: karena Sensei.

Shirokuma Bistro merupakan tempat yang istimewa bagi Akari. Di sana ia bertemu dengan Sensei yang telah mengubah banyak hal tentang kehidupannya—tentang upayanya untuk bangkit lagi dari titik terendah dan momen terberat yang dialaminya. Tak hanya itu saja, dia juga menemukan teman-teman baru yang sudah bagaikan keluarga sendiri untuknya. Hidup seorang diri tidaklah mudah bagi Akari, sehingga kehadiran sosok-sosok yang selalu berusaha untuk menyemangatinya dan memberinya alasan untuk memperjuangkan hidup lebih keras lagi menjadi sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya. Namun, ketika Sensei tiba-tiba menghilang, hal itu menghadirkan kesedihan dan kehampaan tersendiri di hati Akari.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Novel Polaris Musim Dingin

Buku Novel Polaris Musim Dingin./doc. Endah

Judul: Polaris Musim Dingin

Penulis: Tri Putra Sakti

Proofreader: Kavi Aldrich

Ilustrasi kover: Zuchal Rosyidin

Penata letak: @bayu_kimong

Cetakan keempat: November 2023

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Seseorang mengirimkan tiket-tiket Shinkansen kepada Higashino Akari tanpa keterangan alamat pengirim. Akari hanya menerima berlembar-lembar tiket yang dipesan atas nama dirinya, juga surat-surat dari Sensei.

Sensei; orang yang pernah menyelamatkannya dari masa-masa keterpurukan. Sosok yang mengajari Akari untuk tidak menyerah dalam hidup, yang menghilang dari kehidupan Akari lima tahun lalu.

Merasa terusik, Akari pun memutuskan untuk menempuh perjalanan menggunakan tiket-tiket kereta itu. Perjalanan yang membuatnya bertemu kembali dengan Ryuji dan Misaki—dua sahabatnya. Juga Kyouhei... seseorang dari masa lalu Akari yang tidak pernah hilang dari benaknya.

Di antara kenangan, perjuangan mereka, dan janji-janji yang teringkari, Akari bertekad menyelesaikan perjalanan itu untuk menjawab berbagai pertanyaan dalam hatinya. Mengapa Sensei meninggalkan mereka? Dan mengapa surat-surat dari beliau baru sampai sekarang?

***

"Makanya, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri kalau kau tidak mengerti sesuatu ya. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri kalau kau merasa gagal." (hlm. 68)

"Tidak perlu satu tahun. Tidak perlu satu bulan. Fokuslah untuk berjuang satu hari lagi. Kemudian satu hari lagi. Dan seterusnya. Kau akan sadar kalau hidup ternyata tidak seburuk yang kaukira." (hlm. 84)

"Hidup ini sudah kaudapatkan. Jadi, jangan kausia-siakan." (hlm. 102)

"Kita makan untuk hidup. Kita bernapas, bersosialisasi, berbelanja, semuanya untuk hidup. Tapi menurut Sensei, selama kita tidak memiliki sebuah alasan—sebuah tujuan hidup yang kuat—kita tidak pernah benar-benar hidup." (hlm. 152)

Kyouhei pun menemani Akari di perjalanannya. Menggunakan tiket yang diterimanya dan berbekal beberapa surat dari Sensei, Akari terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Terutama soal keberadaan Sensei dan kabar terbaru Sensei. Dia juga ingin menemukan jawaban soal alasan kenapa Sensei meninggalkan mereka dengan begitu tiba-tiba.

Dalam perjalanan tersebut, Akari dan Kyouhei juga bertemu dengan Ryuji dan Misaki. Mereka berempat menjadi dekat dan memiliki hubungan yang begitu kuat berkat Sensei. Masing-masing punya masalah dan pergolakan sendiri dalam satu titik hidup mereka. Kehadiran Sensei menjadi penerang tersendiri bagi mereka, membuat mereka bisa kembali bangkit dan berjuang. Bahkan menggapai impian-impian mereka.

Membaca novel ini kita akan seakan diajak ikut menelusuri tempat-tempat yang begitu indah menawan di Jepang. Perjalanan Akari mencari jawaban atas tiket misterius yang diterimanya juga membawa kita ikut merasakan berbagai macam perasaan, mulai dari kesedihan, kegundahan, hingga kebahagiaan yang kembali dikenang. Akari, Kyouhei, Ryuji, dan Misaki merupakan empat sahabat yang direkatkan oleh kehadiran Sensei. Bahkan peran Sensei disebutkan seperti sebuah bintang.

Menemukan kembali makna hidup serta memperjuangkan kembali hidup yang kita miliki tak selalu mudah. Kadang kita harus jatuh lebih dulu. Harus terpuruk dan tersungkur lebih dulu. Bahkan harus mengalami kejadian yang membuat kita kehilangan asa. Kehidupan ini memang tak menjanjikan segala sesuatu yang serba indah. Ada kalanya kita harus mengalami hal-hal buruk dan tak kita sukai. Akan tetapi, itulah hidup. Meskipun kehidupan tak mudah dijalani, selalu ada hal baik yang bisa kita perjuangkan bahwa ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk terus berjalan. Walaupun hanya bisa bertahan satu hari, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita memiliki alasan untuk terus melangkah.

Kehidupan ini mungkin pernah berbuat jahat kepada kita, tetapi hidup ini sudah kita dapatkan maka pasti ada hal-hal berharga dan bermakna yang bisa terus kita perjuangkan. Novel Polaris Musim Dingin kembali menjadi pengingat bahwa akan selalu ada titik terang di tengah kegelapan. Akan selalu ada jalan keluar dari tiap permasalahan dan persoalan yang dihadapi. Ada momen yang begitu mengharukan di akhir perjalanan Akari dalam kisah ini. Meskipun ada kesedihan yang hadir, harapan pun akan selalu menyertai setiap perjalanan dan lembaran baru yang dimiliki.