Mengenal Fase Stimulasi Motorik Anak dan Cara Melatihnya agar Tumbuh Optimal

Siti Nur ArishaDiterbitkan 07 Februari 2026, 16:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, pernahkah kamu memperhatikan bagaimana bayi tampak ingin menyentuh, menggenggam, atau bahkan memasukkan hampir semua benda ke dalam mulutnya? Meski terkadang membuat orang tua khawatir, perilaku ini sebenarnya adalah bagian alami dari proses belajar si Kecil. Melalui sentuhan, rasa, dan gerakan, bayi sedang mengenal dunia di sekitarnya — inilah yang disebut dengan fase sensorimotor, atau fase stimulasi motorik awal dalam tumbuh kembang anak.

Fase ini merupakan periode penting di dua tahun pertama kehidupan, di mana anak belajar memahami lingkungannya melalui pancaindra dan gerakan tubuh. Saat mereka menggenggam mainan, menggulingkan bola, atau menepuk air saat mandi, otak mereka sedang membentuk koneksi baru yang mendukung perkembangan kecerdasan dan kemampuan koordinasi. Semakin sering anak mendapatkan stimulasi motorik, semakin baik pula perkembangan kemampuan kognitif dan emosionalnya di masa depan.

Dilansir dari Healthline, fase sensorimotor pertama kali diperkenalkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog asal Swiss yang meneliti bagaimana anak-anak belajar dan berkembang. Piaget menjelaskan bahwa pada tahap ini, anak menggunakan pancaindra dan gerakan tubuhnya untuk memahami dunia. Mereka mulai dari refleks sederhana seperti menggenggam dan mengisap, hingga akhirnya bisa merencanakan tindakan dan memahami bahwa benda tetap ada meski tak terlihat — sebuah kemampuan yang disebut object permanence.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Enam Subtahap Penting dalam Fase Sensorimotor

Fase sensorimotor terbagi menjadi enam subtahap yang masing-masing menandai kemajuan kemampuan anak dalam bereaksi dan berpikir. (foto/dok: freepik/krakenimages.com)

Menurut Piaget, fase sensorimotor terbagi menjadi enam subtahap yang masing-masing menandai kemajuan kemampuan anak dalam bereaksi dan berpikir:

  • Refleks (0–1 bulan): Bayi merespons rangsangan dengan refleks alami seperti mengisap dan menggenggam.
  • Reaksi sirkular primer (1–4 bulan): Anak mulai mengulang gerakan yang menyenangkan, seperti mengisap jari atau menendang.
  • Reaksi sirkular sekunder (4–8 bulan): Bayi mulai bereksperimen dengan benda di sekitarnya, seperti menjatuhkan mainan atau mengguncang rattle.
  • Koordinasi reaksi sekunder (8–12 bulan): Anak mulai menggabungkan kemampuan untuk mencapai tujuan, misalnya merangkak menuju mainan yang diinginkan.
  • Reaksi sirkular tersier (12–18 bulan): Si Kecil mulai bereksperimen, seperti menumpahkan air untuk melihat apa yang terjadi.
  • Pemikiran simbolik (18–24 bulan): Anak mulai memahami bahwa simbol dapat mewakili benda atau ide, serta mulai bermain peran sederhana.

Setiap tahap menjadi fondasi bagi keterampilan motorik dan kognitif berikutnya, sehingga orang tua perlu memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

2. Aktivitas Seru untuk Melatih Stimulasi Motorik Anak

Melatih kemampuan motorik tak selalu harus dengan mainan mahal. Justru, aktivitas sederhana sehari-hari bisa menjadi stimulasi efektif. Berikut beberapa contoh permainan yang bisa dilakukan di rumah:

  • Permainan kejar benda: Letakkan mainan favorit anak sedikit jauh dari jangkauannya untuk mendorongnya merangkak atau berjalan.
  • Bermain air: Biarkan anak menuang air dari satu wadah ke wadah lain untuk melatih koordinasi tangan dan konsentrasi.
  • Permainan sensorik: Berikan bahan dengan tekstur berbeda seperti kain lembut, karet, atau beras untuk diraba dan dieksplorasi.
  • Bola warna-warni: Menggulingkan atau melempar bola membantu anak belajar keseimbangan dan kekuatan tangan.
  • Bermain cilukba: Permainan klasik ini melatih kemampuan object permanence dan menstimulasi rasa ingin tahu anak.

Selain menyenangkan, permainan ini juga memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua lho, Sahabat Fimela!

3 dari 3 halaman

3. Tips untuk Orang Tua dalam Menstimulasi Perkembangan Motorik

Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak melalui fase ini. (foto/dok: freepik)

Peran orang tua sangat penting dalam membantu anak melalui fase ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah antara lain:

  • Ajak anak berbicara sejak dini. Meskipun belum bisa menjawab, mendengar suara orang tua membantu perkembangan bahasa dan emosi.
  • Berikan lingkungan yang aman untuk eksplorasi. Pastikan area bermain bebas dari benda tajam atau kecil yang bisa tertelan.
  • Sediakan mainan dengan berbagai tekstur dan suara. Misalnya boneka berbulu lembut, mainan kayu, atau rattle yang bisa digoyang.
  • Berikan waktu eksplorasi bebas. Hindari terlalu sering melarang atau membatasi gerak anak selama aktivitasnya aman.
  • Dampingi dengan sabar. Anak belajar dari pengalaman, termasuk saat menjatuhkan atau mengulang gerakan yang sama berkali-kali.

Sahabat Fimela, fase stimulasi motorik bukan sekadar waktu bermain, tetapi masa di mana anak membangun dasar bagi seluruh kemampuan hidupnya. Melalui sentuhan, gerakan, dan interaksi sederhana, anak belajar memahami dunia sekaligus mengembangkan kepercayaan diri. Jadi, jangan ragu untuk ikut bermain, tertawa, dan bereksplorasi bersama si Kecil ya!Penulis: Siti Nur Arisha