Pola Asuh yang Perlu Dipikirkan Sejak Sebelum Punya Anak

Anisya FandiniDiterbitkan 06 Januari 2026, 15:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Banyak orang mempersiapkan pernikahan dari segi mental, finansial, dan emosional, tetapi masih sering melupakan satu hal penting, yaitu kesiapan menjadi orang tua. Padahal, memiliki anak bukan hanya soal memberi nafkah dan kasih sayang, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter, emosi, dan pola pikirnya sejak dini. Pola asuh yang diterapkan orang tua akan sangat memengaruhi tumbuh kembang anak hingga dewasa nanti.

Tidak sedikit orang tua yang baru memikirkan pola asuh setelah anak lahir. Akibatnya, cara mendidik sering kali dipengaruhi oleh emosi, pengalaman masa kecil, atau tekanan lingkungan sekitar. Pola asuh yang tidak disadari ini bisa membentuk anak menjadi pribadi yang mudah cemas, sulit percaya diri, atau justru terlalu keras pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, memikirkan pola asuh sejak sebelum memiliki anak adalah langkah penting yang tidak boleh diabaikan.

Dengan mempersiapkan pola asuh lebih awal, calon orang tua memiliki kesempatan untuk merefleksikan nilai hidup, cara berkomunikasi, serta luka batin yang mungkin belum selesai. Semua itu penting agar pola pengasuhan yang diberikan nantinya tidak hanya mengikuti kebiasaan lama, tetapi benar-benar berpijak pada kesadaran dan tanggung jawab sebagai orang tua.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Pola Asuh Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Pola asuh memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian anak, mulai dari cara berpikir, mengelola emosi, hingga bersosialisasi. Anak yang tumbuh dengan pola asuh penuh kasih sayang dan komunikasi yang sehat cenderung lebih percaya diri, terbuka, dan mampu mengungkapkan perasaan dengan baik. Sebaliknya, pola asuh yang keras, penuh tuntutan, atau minim perhatian bisa membuat anak tumbuh dengan rasa takut, mudah cemas, dan sulit mengekspresikan diri. Karena itulah, memahami dampak pola asuh sejak awal menjadi langkah penting sebelum benar-benar menjadi orang tua.

3 dari 6 halaman

Menyadari Luka Pola Asuh dari Masa Lalu

Seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya (Foto: Freepik/freepik).

Tanpa disadari, banyak orang membawa pengalaman masa kecilnya ke dalam cara ia mengasuh anak nanti. Jika dulu tumbuh dalam lingkungan yang keras, minim perhatian, atau penuh tekanan, ada kemungkinan pola tersebut akan terulang. Dengan menyadari hal ini lebih awal, calon orang tua bisa mulai berdamai dengan masa lalu, belajar memperbaiki pola komunikasi, dan memutus rantai pengasuhan yang tidak sehat. Proses ini penting agar anak tidak mewarisi luka emosional yang seharusnya bisa dihindari.

4 dari 6 halaman

Menentukan Nilai Hidup yang Ingin Ditanamkan

Setiap orang tua tentu memiliki nilai hidup yang ingin diwariskan kepada anak, seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kemandirian. Nilai-nilai ini tidak akan terbentuk hanya lewat nasihat, tetapi melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memikirkan pola asuh sejak sebelum punya anak, orang tua bisa lebih siap untuk menjadi teladan yang baik. Anak tidak hanya mendengar apa yang diajarkan, tetapi juga melihat langsung bagaimana orang tuanya bersikap.

5 dari 6 halaman

Keselarasan Pola Asuh antara Ayah dan Ibu

Sahabat Fimela, menjadi orangtua bukan berarti kamu harus selalu 24 jam berada di sisi anak. Namun, dengan memberikan ruang yang cukup dan kepercayaan, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. [Dok/freepik.com/jcomp]

Perbedaan cara pandang antara pasangan dalam mendidik anak adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Jika tidak dibicarakan sejak awal, perbedaan ini bisa memicu konflik di kemudian hari dan membuat anak bingung karena mendapat aturan yang tidak konsisten. Dengan membahas pola asuh sejak sebelum memiliki anak, pasangan bisa menyamakan visi, membagi peran, dan memahami bagaimana cara mendidik yang saling mendukung satu sama lain. Keselarasan ini akan membuat anak merasa lebih aman dan stabil secara emosional.

6 dari 6 halaman

Mempersiapkan Kesehatan Mental Orang Tua

Peran orang tua dalam mendampingi dan mengajarkan anak untuk menyelesaikan konflik dengan bijak. (foto: tirachardz/freepik)

Mengasuh anak bukanlah tugas yang mudah, baik secara fisik maupun mental. Kurang tidur, tekanan ekonomi, perubahan peran hidup, serta tanggung jawab yang besar bisa memicu stres dan kelelahan emosional. Dengan memikirkan pola asuh lebih awal, calon orang tua juga diajak untuk mempersiapkan kesehatan mentalnya. Orang tua yang sehat secara mental akan lebih mampu mengasuh dengan sabar, penuh empati, dan tidak mudah melampiaskan emosi negatif kepada anak.

Memikirkan pola asuh sejak sebelum memiliki anak bukan berarti harus menjadi orang tua yang sempurna. Justru, ini adalah bentuk kesiapan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak kelak. Anak bukan hanya membutuhkan makanan dan pendidikan, tetapi juga lingkungan emosional yang aman dan penuh kasih. Dengan mempersiapkan pola asuh lebih awal, orang tua telah mengambil langkah penting untuk membesarkan anak dengan lebih sadar, sehat, dan penuh makna.